SMP Tanjung Alam, SLTP Pemerintah Tertua di Agam

redaksi bakaba

Berdasarkan penelitian terhadap arsip koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta 7 Maret 2018 ditemukan informasi penting terkait dengan pendirian Schakelschool di Tanjuang Alam. Sekolah ini merupakan cikal bakal dari SMPN 1 Ampek Angkek, sesuai dengan nomenklatur sekolah yang dipakai pada saat ini.

SMP Tertua di Agam, Tanjung Alam
SMP Tertua di Agam, Tanjung Alam

Masyarakat atau warga Ampek Angkek termasuk yang cepat mendapat akses pada dunia luar. Di mana, warga Ampek Angkek telah mendapat pendidikan sejak awal baik pendidikan agama maupun sekuler. Sejalan dengan pelaksanaan Politik Etis Belanda, di Tanjung Alam mulai diperkenalkan pendidikan umum berupa Sekolah Sambungan yang disebut dengan “Schakelschool”.

Berdasarkan penelitian terhadap arsip koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta 7 Maret 2018 ditemukan informasi penting terkait dengan pendirian Schakelschool di Tanjuang Alam. Sekolah ini merupakan cikal bakal dari SMPN 1 Ampek Angkek, sesuai dengan nomenklatur sekolah yang dipakai pada saat ini.

Suratkabar “Soeara Minang”, edisi 6 Juli 1929 bersamaan dengan 28 Muharam 1347 memuat berita berjudul “Schakelschool Tilatang IV Angkat” dengan isi berita sebagai berikut:

“Pada hari Senin 24 ini boelan, telah berkoempoel segala Bestuur S.A.A.M, kepala-kepala Negeri, Onderdistrictshoofden dalam district Tilatang IV Angkat dan ankoe Datoek Radjo Intan Toeankoe Districtshoofd Tilatang IV Angkat dikantoor Agam dihadliri oleh padoeka toen Controleur tjb Agam membitjarakan tentang tempat berdirinja schakelschool jang akan diadakan dalam district Tilatang IV Angkat.

Kepoetoesan rapat pada hari itoe karena meingat banjaknja sekolah-sekolah jang berkeliling negeri-negeri itoe maka itoe akan didirikan di Tandjoeng Alam lingkaran district Tilatang IV Angkat.

Tidak lama lagi, sekolah itoe akan diboeka. Inilah boeah kalamnja almarhoem Toeankoe Datoeak Batoeah Districtshoofd Ie Kl van Tilatang IV Angkat jang bakal diterima oleh Boemipoetra dalam district Tilatang IV Angkat.

Toeankoe Districtshoofd jang baroe tentoe sadja akan beroesaha keras dalam hal ini jaitoe menjampaikan niat mandiang itoe.” (“Soeara Minang”, 6 Juli 1929: 7) 

Dalam kutipan berita di atas menyatakan bahwa pada hari Senin, 24 Juni 1929 telah dilaksanakan pertemuan penting untuk membicarakan pendirian Sekolah Sambungan “Schakelschool”.

Potret bangunan sekolah yang masih nampak bersejarah
Potret bangunan sekolah yang masih nampak bersejarah

Pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Controleur Agam (Kantor Bupati Agam) itu dihadiri oleh pejabat pemerintah seperti Toen Controleur Agam (setingkat bupati) dan Ankoe Datoek Radjo Intan, Toeankoe Districtshoofd Tilatang IV Angkat (setingkat camat) dan berbagai pemuka masyarakat termasuk para wali nagari.

Dalam pertemuan tersebut disepakati mendirikan Sekolah Sambungan Schakelschool di Tanjuang Alam mengingat tempat tersebut cukup strategis dan mudah diakses bagi pelajar yang berasal dari berbagai kampung dalam District Tilatang IV Angkat.

Pendirian sekolah ini tidak dapat dilepaskan dari peran almarhum Toeankoe Datoeak Batoeah, seorang Districtshoofd Tilatang IV Angkat yang baru saja meninggal dunia secara mendadak tanggal 16 April 1929 di Padang karena sakit usus, sehingga usahanya ini dilanjutkan oleh pejabat baru bernama Ankoe Datoek Radjo Intan.

Sebelum berdirinya Sekolah Sambungan “Schakelschool” di Tanjuang Alam, terdapat beberapa sekolah yang telah dibangun terlebih dahulu oleh pemerintah Belanda seperti di Batu Taba yaitu sekolah “Maisjes Vervolgschool”, sekolah khusus untuk perempuan. Di Sarik dan Tilatang juga berdiri sekolah yang cukup representatif. Di Koto Tuo (IV Koto) dibangun “Maisjes Vervolgschool”. Di Koto Gadang dibangun HIS, sedangkan di Kubang Putih (Banu Hampu) dibangun “Vervolgschool”.

Berdasarkan kesaksian seorang alumni Schakelschool bernama H. Agusman St. Rajo Mantari (88 tahun) menyatakan bahwa dirinya pernah menuntut ilmu di sekolah ini ketika bernama Schakelschool di Tanjung Alam yang setingkat dengan HIS namun lama pendidikannya 7 tahun. 

Schakelschool di Tanjuang Alam menerima murid lulusan “Sekolah Desa” 3 tahun sehingga lama pendidikannya 5 tahun. Pendidikan dasar pada masa itu ditempuh selama 8 tahun yaitu sekolah desa (3 tahun) ditambah dengan sekolah sambungan 5 tahun.

Sebelum datangnya pemerintah Jepang tahun 1942, sekolah sambungan ini dipimpin seorang Belanda bernama Mr. Van Hassel sebagai kepala sekolah. Beliau yang biasa dipanggil muridnya “Meneer” tersebut sudah mengabdi sejak tahun 1934. Guru-guru di sekolah sambungan ini adalah orang Minang lulusan HIK (Holland Inlandsche Kweekschool) di Bandung. Ketika kedatangan Jepang tahun 1942, Mr. Van Hassel ikut melarikan diri ke Australia bersama militer Belanda.

Besarnya uang sekolah di Schakelschool ini adalah Rp. 1,65/bulan. Karena biaya yang cukup mahal (pada saat itu) sehingga hanya anak orang mampu yang bisa sekolah di sini seperti anak pedagang, pegawai, angku palo/walinagari. Bahkan untuk masuk ke sekolah ini, wali murid harus menunjukkan tanda bukti pembayaran pajak (belasting), sehingga praktis hanya kalangan pembayar pajak saja yang memanfaatkan sekolah ini. Selain mampu dan lulus Sekolah Desa untuk masuk Schakelschool juga punya persyaratan umur yaitu tidak lebih dari 10 tahun.

Salah satu ciri pendidikan di Schakelschool yaitu tempat bermain dan bahasa yang digunakan murid kelas 1-2 dibolehkan berbahasa Melayu/Indonesia, tetapi murid kelas 3-5 diwajibkan berbahasa Belanda. Tempat bermainpun disediakan area khusus di bagian belakang sekolah. Ciri lainnya adalah tempat bermain laki-laki dan perempuan terpisah. Lulusan Schakelschool yang ingin melanjutkan sekolah bisa ke MULO setingkat SMP di Bukittinggi (Ateh Ngarai) atau melanjutkan ke HIK di Yogyakarta kemudian dapat meneruskan ke HIK Bovenbow Bandung setingkat SMA. Lulusan ini sebagian menjadi guru-guru ulung di Bukittinggi dan sekitarnya.

Sedangkan lulusan MULO masuk HBS yaitu Sekolah Menengah Kejuruan/keilmuan di Jakarta atau AMS sekolah menengah umum, sebagian besar lulusan MULO-HBS melanjutkan kuliah ke dalam negeri maupun luar negeri, khususnya ke Belanda. Sebagian mereka berhasil menjadi dokter, insinyur, ahli hukum bahkan menjadi pejuang dan pahlawan di negara ini.

Setelah Jepang masuk ke Indonesia tanggal 17 Maret 1942, Schakelschool berganti nama menjadi SSNI (Sekolah Sambungan Nippon Indonesia), tamatan SSNI melanjutkan ke sekolah Tjusakko. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia sekolah ini dipersiapkan menjadi SMP Tanjuang Alam/SMP 3 Bukittinggi.

Sekolah ini bernama SMP Tanjuang Alam atau SMP 3 Bukittinggi karena pada 19 Desember 1948 bersamaan berdirinya PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia), Pemerintah RI mengeluarkan SK pendirian SMPN 3 Bukittinggi yang sebelumnya masih di bawah administrasi Pemerintah Belanda. Dengan demikian SMPN 3 Bukittinggi melanjutkan Schakelschool yang sebelumnya dijalankan pemerintah kolonial.

Seperti dikatakan H. Djanan Syafei bahwa pada waktu itu, Pemerintah menerbitkan 1 SK lainnya yaitu pendirian SMPN Tanjuang Alam. Dengan demikian, Pemerintah telah mengeluarkan 2 SK untuk sekolah ini yaitu: SMPN3 Bukittinggi dan SMPN Tanjuang Alam. 

Meski secara administrasi lokasi sekolah berada di Kabupaten Agam, nama SMPN 3 Bukittinggi masih tetap dipertahankan sampai tahun 2001. Sesudah itu secara resmi nama SMPN 3 Bukittinggi berganti nama dengan SMPN 1 IV Angkek Candung pada saat kepala sekolah dijabat Drs. Elly Darwin. Kemudian pada tahun 2006 administrasi Kecamatan IV Angkek Candung kemudian dipecah menjadi dua yaitu Kecamatan IV Angkek dan Kecamatan Candung. Nama SMPN 1 Ampek Angkek Candung kemudian berubah menjadi SMPN 1 IV Angkek sebagaimana yang berlaku saat ini.

Alumni Schakelschool di Tanjuang Alam
Alumni Schakelschool di Tanjuang Alam

Di antara alumni senior yang dulu menimba ilmu di sekolah ini adalah Prof. Dr. H. Hasjim Djalal yang pernah menjabat Duta Besar di PBB, Kanada dan Jerman serta Duta Besar Masalah Hukum Laut, yang berasal dari Ampang Gadang kelahiran 25 Pebruari 1934. Alumni lainnya adalah; Mayjen Muchlis Ibrahim, mantan Gubernur Sumatera Barat yang berasal dari Tanjung Medan; Brigjen (Purn) Maini Dahlan yang berasal dari Parit Putuih, Brigjen TNI Mazni Harun yang berasal dari Biaro; Vita Gamawan, isteri Mantan Menteri Dalam Negeri RI yang berasal dari Koto Merapak; Prof. Dr. Nursal Asbiran Dt Sati yang berasal dari Ampang Gadang; Prof. Dr. Fachri Bey, MM dan Brigjen TNI dr. Agusni yang berasal dari Tanjuang Alam, Mansoer Thaib yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Agam dua periode, Drs. H. Amir Thaib mantan Sekda Sumatera Barat, dan lain-lain.

Menanggapi sejarah perjalanan SMPN 1 Ampek Angkek yang diawali dengan pendirian Schakelschool tahun 1929 tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam Drs. Isra, MPd., dalam kesempatan membuka kegiatan “SMPN IV A Konkurs III” tanggal 01 Maret 2023 di Tanjung Alam memperkuat dugaan bahwa SMPN 1 Ampek Angkek merupakan sekolah pemerintah setingkat SLTP yang tertua di Kabupaten Agam.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa SMPN 1 Ampek Angkek di Tanjung Alam merupakan kelanjutan dari beberapa nomenklatur sekolah yaitu: SMPN 1 Ampek Angkek Candung (2000-2006) atau SMPN 3 Bukittinggi (1948-2000), SSNI (1942-1948) dan Schakelschool atau Sekolah Sambungan. Schakelschool didirikan tanggal 24 Juni 1929 di Tanjuang Alam oleh Jaar Dt. Batuah atau yang dikenal dengan “Toeankoe Datoeak Batoeah”, seorang Districtshoofd Tilatang IV Angkat (setingkat camat).

Efri Yoni Baikoeni | Tanjung Alam, 3 Maret 2023

Next Post

Reposisi, Mengukuhkan Kembali Arah HMI

Kader HMI hanya menumpang nama besar HMI untuk membesarkan nama pribadi (kepentingan individu) tanpa memberikan kontribusi untuk HMI. Akibatnya, HMI mengalami kemerosatan kualitas karena mereka tidak menikmati proses yang diberikan oleh HMI kepadanya melainkan hanya mencari keuntungan pribadi.
Himpunan Mahasiswa Islam