Jangek Liek Kapalang Kampuah

redaksi bakaba

Senja seminggu yang lalu, jawi itu sedang dihalau pulang oleh Nyiak Ngunguah, mendadak jawi itu menendang keras, Nyiak Ngunguah tersentak ke belakang dengan posisi tertelentang, jawi itu berlari basitoja-sitoja

Bagikan
  • 64
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

~ Juaro Gunuang Marapi

Asap membuntal berarak dari jendela dapur Angah Malah. Suara nenek tua istri Nyiak Ngunguah itu terdengar menggerutu, terkadang diselingi suara tiupan saluang api (bambu bulat sepanjang sehasta yang berfungsi untuk peniup api tungku agar api bisa menyala dengan baik).

Di atas tungku yang sedang dihadapi Angah Malah terjerang sebuah kuali besar, beberapa potongan jangek (kikil) berenang ke sana ke mari bersama lembar daun salam, daun limau dan batang sereh.

Kuah gulai itu kuning menggoda, sesekali gelembung kuah muncul akibat gelegak gulai itu menghilang seiring dengan matinya api di tungku.

Nenek tua itu kembali meraih saluang api-nya. Menghentikan sesaat gerutuannya lalu meniup-niup dengan mulut diruncingkan.

“Nek, sudah matang atau belum? Aku lapar…“ Mendadak kepala dengan wajah pisek (kusut masai akibat bangun tidur) menyembul di pintu dapur, menguap panjang.

Tubuh kekar dengan bahu kukuh itu melangkah masuk dapur, menggeliat dan kembali menguap panjang. Syahrin, cucunya sudah seminggu ia minta agar tinggal bersama mereka, suami istri senja yang tinggal sebenarnya tak begitu jauh dari anak-anaknya.

“Aahh…sudah sepenggalah matahari, kau baru bangun Sarin? Aku sudah bilang, kau harus bangun pagi, keluarkan Jawi kakekmu, kakekmu sakit. Kau tidak kasihan pada kakekmu?” Angah Malah bersuara tanpa memalingkan wajah, tangan kurusnya masih sibuk mengaduk gulai jangek.

“Mengeluarkan jawi? Ah ya, sebentar lagi, Nek. Nenek lebih sayang pada jawi celaka itu dari pada aku cucumu tampaknya. Setiap saat selalu jawi itu saja yang nenek khawatirkan.”

Pemuda tinggi jangkung itu melengos masam, lalu berbalik keluar pintu dapur.
Sebenarnya Angah Malah tidak ambil pusing dengan semua bantahan cucunya itu kalau saja Nyiak Ngunguah suami tercintanya tidak sakit.

Sudah seminggu suaminya yang keras kepala itu sakit, kakinya terkilir, kepalanya bengkak terbentur batu. Belum lagi lengan kanan dan sebagian punggungnya Nyiak Ngunguah yang luka parut akibat terseret di bebatuan.

Ya..itu semua adalah akibat dari jawi balang puntuang yang tak puas-puasnya berulah. Senja seminggu yang lalu, jawi itu sedang dihalau pulang oleh Nyiak Ngunguah, mendadak jawi itu menendang keras, Nyiak Ngunguah tersentak ke belakang dengan posisi tertelentang, jawi itu berlari basitoja-sitoja (berlari congklang sambil sesekali melompat kegirangan), sudah dapat ditebak, tubuh ringkih Nyiak Ngunguah kembali mendapat hadiah yang sungguh sangat tak enak.

Semenjak itulah, Syahrin cucunya ia minta menginap di rumahnya untuk membantu mengerjakan banyak hal yang semula adalah tanggung jawab suaminya. Permintaan yang sia-sia sebenarnya, karena apapun yang disuruh oleh Angah Malah tak satu pun yang dikerjakan cucunya itu.

Mulai dari menyabit rumput makanan jawi, menghela jawi keluar kandang untuk manyasok (manyasok adalah minum dengan tegukan besar dan dalam jumlah banyak sambil mengeluarkan suara degukan yang cukup keras), menyabit padi sampai kepada membelah kayu untuk memasak.

Semua hal itu akhirnya harus dikerjakan oleh nenek tua itu, kecuali mengeluarkan jawi. Angah Malah tak sanggup, sudah seminggu jawi itu berkurung saja di kandang, sudah ribut suaranya melenguh-lenguh, terkadang seperti menggorok sebagaimana suara sapi yang disembelih. Setiap sapi itu bersuara, maka Nyiak Ngunguah akan meneriaki istrinya, agar mengurus jawi kesayangannya itu. Nenek tua itu akan balas meneriaki Syahrin.

Telah berbagai cara ia lakukan agar Syahrin mau membantunya, tetapi semua sia-sia, mulai dari cara yang lemah lembut, penuh kasih sayang, membentak, berwajah masam sampai kepada memekik-mekik serupa orang kena antu jaek (kesurupan). Tidak satupun yang berhasil.

Cucunya hanya tersenyum, membantah dengan berbagai alasan, berjanji akan segera mengerjakan setelah dia selesai ini dan itu, atau menatap si nenek dengan tatapan polos tanpa dosa, mengerjapkan mata lalu dengan suara rawan akan berkata menghiba-hiba. Pendeknya, tak satu pun yang akan ia turuti.

“Nenek benci padaku rupanya, ingin agar kau cepat mati, semenjak subuh tak berhenti menyuruhku ini dan itu. Baiklah nek, aku akan kerjakan, biar cepat aku mati, semoga senang hati nenek melihatnya.”

Lalu pemuda yang sebenarnya berparas tampan itu akan berjalan lunglai keluar rumah memasang wajah seolah amat berduka hingga hilanglah ketampannnya. Kakinya melangkah entah ke mana, yang jelas tidak satupun perintah neneknya ia kerjakan.

“Sariiinnn..di mana engkau? Gulai jangek pesananmu sudah matang, makanlah, setelah itu kau uruslah jawi. Hari sudah tinggi, nanti kakekmu pulang dari rumah Sutan Paurek, kalau jawi itu masih saja di kandang, aku pula yang akan ia caca jo etongan (dicecar dengan berbagai kalimat yang menyudutkan).
“Wah… sudah matang nek? Aku sudah lapar nek, ayo kita makan.”

Syahrin mendadak muncul dengan tampang masih saja pisek. Meraih piring berisi nasi yang telah disendukkan neneknya, menyendok sepotong besar jangek berikut kuahnya lalu menyuap dengan nikmat.

“Ndeh… waang lai buyuaangg. Sana cuci muka dulu, cuci tangan, baru makan.”

Nenek tua itu naik pitam, matanya mulai merah, mulut keriputnya menyemburkan kalimat yang entah apa bunyinya. Syahrin meletakkan kembali piringnya, wajahnya terlihat sedih, lalu menekur dalam.

“Nah… betul kan? Nenek memang benci padaku, nenek hanya sayang pada si Hasan, aku selalu nenek marahi, selalu saja salah di mata nenek.” Suaranya terdengar menghiba-hiba.

“Sudahlah, jangan banyak cakap juga, ini air cuci muka. Cepat cuci mukamu, di jendela itu sajalah, lalu makanlah.”

Perempuan tua itu mengangsurkan gayung berisi air bersih. Mata Syahrin berkejap, senyumnya mengembang.
“Nenek tidak marah? Tidak membenciku?”
“Jangan banyak ulah, cepatlah.” Nenek tua itu kembali menggerutu.

Syahrin mencelupkan tangan kirinya ke gayung yang dipegang neneknya. Mengusap mukanya sekali lalu kembali menyuap nasinya.

“Cuci tanganmu, Buyuaanngg…“ Geraham Angah Malah mulai berkeriut, matanya melotot garang.

Syahrin meniup-niup telapak tangannya dengan keras lalu kembali menyuap nasinya. Tindakannya itu membuat neneknya mendengus kesal lalu menarik nafas panjang.

“Nek, kenapa jangek ini liat sekali? Belum matang ya?” Ah… nenek memang tak sayang padaku, biarlah aku pulang saja, biar si Hasan cucu kesayangan nenek yang membantu-bantu nenek di sini sampai kakek sembuh.”

Pemuda itu mendengus kesal, menghempaskan piring ke meja makan, berlalu entah ke mana sambil menjilat tangannya.

Malaahhh…. jawwiii…” Teriakan dari arah kandang jawi membuat Angah Malah terlompat, lalu bergegas turun.

Nyiak Ngunguah tersandar di tunggul jambu, wajahnya pucat, Jawi balang puntuang kebanggaannya sedang mendengus-dengus garang berputar putar di depan kakek tua itu. Angah Malah tergagau, berbalik cepat, terbang mendaki jenjang rumah dan menutup rapat pintu rumahnya.

Syahrin terlihat menyandang bungkusan kain sarung, melangkah turun tangga, sembari menggerutu.

“Si Hasan saja cucunya mungkin, aku ini bukan cucunya, bagaimana mungkin aku makan gulai jangek kapalang kampuah itu? Jika digigit, liatnya minta ampun, bisa bisa mental menghantam pangkal gerahamku, jika ditelan, tersekat di tenggorokan, benar-benar nenek si Hasan itu ingin membunuhku rupanya.”

Suara gerutuan itu mendadak berganti dengan teriakan keras menjawab panggilan neneknya.

“Iyaaa… sebentar nek, aku panggilkan dulu cucu kesayangan nenek, biarlah kakek di situ dulu, biar nanti si Hasan yang mengurus.”

Ternyata semua hal yang sedang terjadi pada Nyiak Ngunguah tak luput dari pandangan pemuda ini. Itulah agaknya penyebab ia segera pulang, tak hendak repot mengurus kakek dan jawi celaka itu.

Angah Malah akhirnya hanya terduduk kesal di dapur, apa dayanya? Ia amat takut pada jawi balang puntuang itu. Pandangan matanya berputar dan berhenti pada piring nasi cucunya yang dihimpit oleh potongan besar jangek. Nenek itu akhirnya meraih pisau, memotong jangek dengan potongan kecil lalu mengunyah beberapa kali, tak berhasil, akhirnya dengan geram ia telan saja. Tenggorokan Angah Malah turun naik, di lehernya mendadak muncul benjolan sebesar jakun, matanya melotot, tangannya menggapai ke sana ke mari, nafasnya sesak.

Di halaman, Nyiak Ngunguah merintih kesakitan sembari memanggil-manggil istri dan cucunya. Sementara si cucu telah hilang di ujung belokan jalan sembari menggerutu.

“Jangek liek kapalang kampuah nan diagiah enek, dienjo balapik ka pangka garaman, dikunyah, ilia mudiak se nyo dari garaman suok ka garaman kida, dilulua, kalolong-kalolongi wak, yo ajab den ah, aaaa amuah mati juo badan buruak ko kasudahannyo ko mah kalo lamo bana co iko”.

~ Penulis, seorang aktivis sosial, relawan kebencanaan, penggiat seni tradisi dan budaya Minangkabau
*Gambar oleh erge dari Pixabay

Bagikan
  • 64
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Masih Perlukah Visi dan Misi 'Cakada'?

Secara hirarki pemerintahan, kepala daerah itu adalah bawahan Presiden, sehingga wajib selaras dengan visi dan misi presiden. Kalaupun, PAD lumayan besar, katakanlah 50 persen atau separuh dari APBD, tetap saja visi dan misi Kepala daerah harus selaras (tidak kontradiktif) dengan visi dan misi Presiden.
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

bakaba terkait