Salisiah Kapalo Kilangan

redaksi bakaba

Sebuah ingatan bahwa dua minggu lagi adalah minggu pertama ramadhan, di mana saka akan laku keras, membuat sigulambai (semacam inti api dalam mistik minang) yang mulai memercik pada dua bola mata nenek gemuk itu perlahan surut dan padam

Bagikan
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Image by Norbert Höldin from Pixabay
Image by Norbert Höldin from Pixabay

Bunyi desiran angin yang menampar daun tebu, derit sumbu kapalo kilangan (dua buah besi bulat yang berputar berseberangan dengan posisi hampir berdempet) serta lenguh kerbau penghela kilangan itu bercampur jadi satu dengan desau nafas Rukayah yang meniup-niup api di tungku. Magek Nuan, suami Rukayah duduk menghembus-hembuskan asap rokok daun anaunya.

Suami istri ini adalah anak kuli Nek Mian, yang entah kapan akan bisa akur dan romantis sebagaimana layaknya suami istri.

Entah telah berapa kali tangan kekar Magek Nuan menyorongkan tebu ke arah kapalo kilangan. Tebu itu remuk digilas dua silinder besi putih mengkilap, air tebu berbuih mengalir pada pancuran kecil yang ditampung dengan sebuah wadah besar. Ampas tebu memucat, pasi dan kering terjulur di ujung lain kapalo kilangan, terjuntai dan tergeletak begitu saja. Mentari terus merangkak naik, onggokan ampas tebu mulai membukit.

“Magek, sudah selesaikah engkau mangilang? berapa katidiang saka (gula tebu) yang bisa kubawa lusa ke pekan?” Suara sember Angah Darami, nenek pendek gemuk dengan jari jemari bulat terdengar mendesau berat.

“Sudah selesai seharusnya Ngah, sebenarnya bisa saja lima seperti biasa. Tapi, Angah kan tau, istriku, si bawel itu angin-anginan. Kalau angin sorga sedang berhembus, maka selesailah semua pesanan Angah dengan cepat dan tepat waktu. Tapi jika angin limbubu begini yang sedang bertiup, jangankan lima katidiang, tiga saja wallahu a’lam. Angah lihat? Air tebu sudah cukup untuk lapan katidiang saka, tapi… “

“Ondeeh..ada apa ini? Aku kan sudah memesan saka sebanyak tujuah katidiang? Kepada istrimu juga sudah kupesankan, Kak Mian, induk semang kalian juga sudah kuberi pembayaran sejumlah itu. Kau juga sudah kuberi bali santo, bukan?” Suara Angah Darami mulai meninggi.

“Angah..sabarlah..aku tak bermaksud melalaikan, tetapi… “ Magek Nuan memasang wajah polos tanpa dosa.

Toke saka itu mulai naik pitam. Beberapa kali ia menarik nafas panjang, kemerlip bara di matanya hampir berkobar menjadi api yang mungkin menghanguskan pondok kilang.

Sebuah ingatan bahwa dua minggu lagi adalah minggu pertama ramadhan, di mana saka akan laku keras, membuat sigulambai (semacam inti api dalam mistik minang) yang mulai memercik pada dua bola mata nenek gemuk itu perlahan surut dan padam, berganti dengan sebuah senyum manis dan suaranya kembali ramah.

“Biarlah aku bicara pada si Kayah.”
Magek hanya mengangkat bahu, melirik Toke Saka itu dengan sudut matanya. Di dalam dapur kilangan, Rukayah masih saja sibuk meniup tungku agar api menyala. Beberapa kayu basah ia sorongkan ke dalam tungku, ampas tebu yang telah mengering ia sorongkan sebagai pemancing agar api menyala Asap membuntal, berarak menggebubu menyesaki dapur kecil dan pengap itu.

“Kayaahh… ndehh… asok aahh… to mangko bana ko… ooo Allaaahhh… ampun den aa…. “ suara Angah Darami semakin menyesakkan paru-paru Rukayah.

“Baa jano den Ngah, minantu angah tun ah, si Magek. Sudah jelas langit gelap sebelum ia pulang kemarin, kayu yang sedang kujemur, ia biarkan saja, dan beginilah, aku sudah kalimpasiangan meniup api. Tapi tak hendak api ini menyala, bagaimana mungkin pesanan Angah akan selesai.” Rukayah menggerutu.

“Tolonglah Kayah, kau tau, aku sangat butuh pesanan itu, pelangganku akan kecewa jika aku tidak berhasil membawakan pesanan mereka” Toke Saka itu bermohon dengan suara ramah dan senyum yang bermain di bibir nyaprutnya.

Derit kilangan di luar masih berdendang, potongan tebu satu demi satu tetap disorongkan oleh Magek Nuan. Kerbau kilangan berputar sembari mengunyah ngunyah, kedua matanya ditutup dengan tempurung. Air tebu mengucur kencang, sekencang asap daun anau yang menggebubu dari sepasang bibir hitam Magek Nuan.

“Tuaann… berhentilah dulu mengilang, kau lihatlah drum ini sudah penuh, ke mana lagi akan kusalin? Bantulah aku mencari kayu, agar air ini bisa dimasak. Biar selesai pula pesanan Angah.” Rukayah berteriak kencang.

Angah Darami yang terkantuk-kantuk di pintu pondok terjengit dan hampir terhumbalang ke halaman karena diterjang teriakan kencang Rukayah. Nenek ompong ini mengusap dadanya pelan, sigulambai yang semula hampir menyala dan berkobar di bola matanya segera ia padamkan kembali.

Kalau saja ingatan akan lembar-lembar rupiah dari pelanggannya tidak merayu Toke Saka ini, tentu telah kumabun (terbakar habis) pondok kilangan ini disantap sigulambai di mata nenek ompong itu.

“Kayu apa yang akan ada Kayah? Kau tidak tau tadi malam hujan mangkatutuih mahoyak bumi. Dasar perempuan, kalau sudah terguling di atas kasur, sudah karam saja kau dalam dengkurmu, tak tau kau apa yang terjadi.” Magek Nuan berteriak dengan suara yang lebih tinggi, Angah Darami terjengkang, nenek tua itu tersenyum lalu mengelus dadanya kembali.

“Magek, biarlah aku temui Mak Parmato, barangkali kayunya masih ada, tapi tentu engkau yang harus memikul kayu itu kesini, aku tak kuat.” Angah Darami mengalah dan mencoba mencarikan solusi, demi pesanannya tentu.

“Si Kayah sajalah angah bawa, aku harus mencari rumput kerbau, si Kayah itu penakut, kalau aku tinggalkan ia sendiri di sini, ia akan citiang sajo lai, dipokoknyo sajo ikuanyo lai beko tu lari pulang.” Magek Nuan bersuara dan tersenyum sinis.

Rukayah sontak menghambur ke halaman, matanya mendelik, dadanya sesak, kedua tangannya bergegas memperbaiki tengkuluknya, kodek yang semula terpasang serampangan ia bereskan.

“Tuan hendak pergi? Bagus, aku yang harus pulang duluan, aku tak mau tinggal di gubuk ini sendiri, Tuan kan tau? Baru pekan yang lalu cindaku mancabiak urang. (cindaku sejenis makhluk ghaib yang berkuku panjang dan runcing, suka merobek korbannya sebagaimana beruang). Uruslah kilangan ini.”

Suaranya berkepusu. Magek Nuan menatap Angah Darami dengan tatapan kemenangan.

“Aahh… kau sajalah yang menjemput kayu api, pikulah ke sini barang dua ikat, biarlah aku di sini.” Magek Nuan menjawab pelan tetapi matanya melotot garang.

“Sudahlah…, ini aku beri uang, kalian pergilah berdua, jemputlah kayu itu, biar aku yang menjaga pondok kalian.” Angah Darami kembali bersuara sembari mengangsurkan sejumlah uang.

Tak sampai sepeminuman teh, suami istri itu telah kembali, Magek Nuan memikul kayu kering yang entah di mana ia peroleh, Rukayah menjujung seikat ranting, kering pula.

“Lai dapek kayu Ngah, ndak jadi kami bali kayu Inyiak Parmato doh, tapi uang Angah sudah dihabiskan si Kayah, ia membeli goreng pisang dan katan. Dasar perempuan, makanan saja isi kepalanya”. Magek Nuan menggerutu. Rukayah hanya tersenyum masam.

“Seolah-olah Tuan tidak akan ikut memakan apa yang ku beli, mengaku sajalah, Tuan marah karena aku tak hendak membelikan Daun Anau.” Perempuan itu mencicit tajam.

“Sudahlah… tak perlu kalian pikirkan itu, yang penting kayu sudah dapat, kau pergilah bersamaku kembali ke warung Kayah, nanti kau bawakan Daun untuk suamimu.” Angah Darami bersuara kering, temboloknya mulai turun naik serupa tuas roda kereta api.

“Magek, kau selesaikanlah pesananku, aku baru ingat, lusa aku harus membawa sambilan katidiang, bukan tujuah. Aku hendak pulang, hari telah petang.” Toke Saka itu melangkah pergi.

Suami istri itu menggangguk. Mereka berdua selalu bersilang pendapat, tetapi siapapun yang terlibat dan berada di dekat mereka, akan bernasib sebagaimana tebu yang mereka kilang, tasapah (tinggal ampas).

Kapalo kilangan masih saja berderit, berputar berseberangan, seolah akan bertabrakan, tetapi tebu yang disorongkan oleh Magek akan tetap tasapah.

(Juaro Gunuang Marapi, penulis adalah seorang aktivis sosial, relawan kebencanaan, penggiat seni tradisi dan budaya Minangkabau, Advokat di Firma Hukum As-Sakinah Bukittinggi.)
**Image by Norbert Höldin from Pixabay

Bagikan
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Soekarno, Pantja Azimat dan Ideologi Bangsa

Seperti dikatakan Soekarno "mengalirlah, hai sungai revolusi Indonesia, mengalirlah ke laut, janganlah mandek, sebab dengan mengalir ke laut itu, kamu setia kepada sumber mu."
Kunjungan_Soekarno_ke_Padangpanjang

bakaba terkait