Home > Opini > Pembangunan yang Melibas Budaya Lokal

Pembangunan yang Melibas Budaya Lokal

Jam Gadang - bakaba.co
Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

~ Mairul

Kearifan lokal atau local wisdom merupakan gagasan-gagasan atau nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat atau lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Untuk mengetahui kearifan lokal di suatu wilayah, kita harus bisa memahami nilai-nilai budaya yang baik, yang ada di dalam wilayah tersebut.

Nilai-nilai kearifan lokal ini sudah diajarkan secara turun-temurun oleh orang tua kepada anak-anaknya. Kearifan lokal merupakan nilai-nilai yang baik dan telah diyakini oleh masyarakat secara turun temurun. Mengenali unsur-unsur kearifan lokal suatu masyarakat sangat penting dalam proses pemberdayaan dan pembangunan bagi mereka.

Seringkali pembangunan dipandang secara keliru, dengan menganggap bahwa pembangunan merupakan perubahan-perubahan nilai, pembangunan gedung-gedung mewah, bahkan transformasi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.

Mestinya, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang berakar dan mempertimbangkan dengan seksama nilai-nilai lokal yang ada dalam masyarakat.

Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakan pada level lokal di bidang kesehatan, pertanian, pendidikan, dan pengelolaan sumber daya alam.

Pembangunan sebagai suatu proses pada hakekatnya merupakan pembaharuan yang terencana dan dilaksanakan dalam tempo yang relatif cepat.

Berbagai pembaharuan yang telah dilakukan membawa kita pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pertumbuhan ekonomi dan kecanggihan sarana komunikasi. Akan tetapi pembangunan yang berdasar pada kecanggihan teknologi dan saling mengasihi tumbuh subur di kalangan masyarakat.

Masyarakat Minangkabau mengedepankan musyawarah dalam mengatasi setiap persoalan yang ada. Semangat kebersamaan inilah yang seharusnya terus dijaga oleh pemerintah daerah di era globalisasi sekarang ini guna menangkal pengaruh negatif dari arus globalisasi.

Fenomena di atas menunjukkan bagaimana hubungan antara pembangunan dan kearifan lokal yang ada di Kota Bukittinggi. Kearifan lokal yang diramu dari tradisi turun temurun masyarakat menjadi modal sosial yang mampu memberikan dorongan dalam semua lini kehidupan masyarakat menuju daerah yang mandiri dan sejahtera serta terjaga sumber daya alamnya.

Agama juga dapat memberikan kontribusi dalam mendukung kebijakan pembangunan daerah tanpa terjebak dalam sentimen modernisasi, sehingga sejalan dengan membangun konsep daerah kota tujuan wisata.

Gagasan di atas, belum tentu bisa dipadupadankan dengan kenyataan atau realitas yang terjadi. Saya pernah berkunjung di daerah Jawa Tengah. Seseorang bertanya; dari mana asal saya. Santai saya jawab; dari Padang. Berawal dari sana timbulah suatu diskusi tentang pembahasan rekonstruksi kearifan lokal dalam pembangunan Daerah, di mana pernyataannya adalah dahulu Kota Bukittinggi itu menarik dikunjungi bukan karena keberadaan Jam Gadangnya Tetapi karena alam dan masyarakatnya yang sangat konsisten menjaga dan merawat kelestarian alam serta budaya yang sangat bisa dijadikan sebagai bahan kajian ilmiah dan sumber penelitian.

Lantas saya bertanya balik, bagaimana dengan sekarang? Pada dasarnya keinginan pemerintah daerah terutama Kota Bukittinggi, ingin menjadikan kota sebagai salah satu tujuan wisata. Hal itu tidaklah menjadi permasalahan, karena kebanyakan kepala daerah membuat kebijakan salah satu programnya adalah daerah wisata.

Akan tetapi Kota Bukittinggi dalam pembangunan daerahnya dengan tujuan wisata, lalu dirancang seolah-olah kota moderen itu adalah suatu kekeliruan pembangunan dan pengembangan. Alasannya adalah membangun kota berbasis teknologi, infrastruktur yang canggih, transformasi moderen dan lainnya hal itu lebih jauh sudah dimulai.

Bukan berarti Kota Bukittinggi pembangunannya dengan konsep wisata tidak boleh dengan sentuhan modernisasi. Tetapi, yang paling penting harus dijaga itu adalah arsitektur budaya, arsitektur bangunan budaya dan insfrastruktur berbasis budaya. Satu contoh dari pengamatan saya, dahulu bujang dan gadis kalau bertemu masih sungkan, kemudian perkembangan zaman mulai hal itu tidak lagi diperhatikan.

Sekarang Pemerintah Kota Bukittinggi sedang memperbaiki fasilitas jalan kaki dengan dilengkapi sarana tempat duduk. Alhasil terjadi penyalahgunaan, di mana para pengguna trotoar di sepanjang jalan anak kemenakan duduk berduaan tanpa ada rasa malu, baik siang apalagi malam hari. Apakah ini dampak wisata yang tidak lagi menggali nilai-nilai kearifan lokal, dan yang kita sedihkan lagi adalah kenapa kerapatan adat, niniak mamak, lembaga adat dan tokoh agama seolah-olah mengamini pembangunan yang tidak didasari dengan kajian nilai kearifan lokal.

Apakah ini yang dimaksud dengan jalan alah dialiah urang lalu? Di mana alam takambang jadi guru orang Minangkabau?

Sungguh ironi memang, masyarakat Minang yang kehilangan jati diri budaya lokal.**

*Penulis, dosen UMSB, kandidat doktor.
**Foto R-bakaba.co


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •