Home > Opini > Bapantun di Minangkabau

Bapantun di Minangkabau

Gambar oleh Alvi EKo Pratama dari Pixabay

~ Erasiah

Orang Minangkabau amat sering berpantun. Mau marah atau kesal atau senang selalu saja disampaikan melalui pantun. Bahkan untuk menyimpulkan sesuatu disampaikan dalam genre pantun lama, yaitu pameo. “Alah padieh sajo mako tau”, demikian salah satu contohnya.

Tradisi bapantun bukan saja ketika hendak menyampaikan pesan-pesan moral, pendidikan. Bahkan juga dalam kata sambutan seorang pimpinan atau kepala daerah.

Apakah tradisi bapantun ini amat terkait dengan kato nan ampek? Kato nan ampek: kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereang.

Bila dipautkan dengan kato nan ampek itu, maka tradisi bapantun dalam pandangan penulis adalah salah satu bentuk dari kato malereang. Amat tajam tusukannya.

Tetapi karena disampaikan melalui pantun tidak terasa awalnya. Namun begitu tajam tusukannya, sehingga orang yang mendengar terkadang terperangah. Ternyata kata-kata yang disampaikan penuh makna dan mengandung maksud yang amat dalam, apakah itu berupa nasehat atau pun sindiran.

Jika ditelusuri sejarahnya, ternyata tradisi bapantun ini sudah lama hilang dari masyarakat Minangkabau secara umum dan dari pimpinan-pimpinan atau kepala daerah secara khusus. Padahal dahulunya sangat banyak yang disampaikan oleh penghulu, datuak, atau pimpinan daerah atau pun tenaga pendidik disampaikan melalui pantun.

Misalnya seorang Syekh Sulaiman al-Rasuli pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang. Ketika di masa awal pulang dari Mekah, amat banyak prilaku dan kondisi masyarakat yang tidak disenanginya karena bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akan tetapi dalam menyampaikan rasa tidak senangnya itu dengan situasi dan kondisi yang ditemuinya, tidak disampaikannya dalam bahasa lantang/kareh atau secara langsung.

Untuk menyampaikan rasa amarah dan tidak senangnya itu, sering disampaikan dalam bentuk pantun. Yulizal Yunus dalam disertasi doktornya menyebutnya dengan istilah syair. Contoh pantun atau syair Syekh Sulaiman al-Rasuli yang berbentuk rasa kesal atau amarah itu adalah:

Duduak di Canduang tidaklah enak
Di kiri di kanan maksiat banyak
Mengikut suruh banyak nan tidak
Alamat badan kena tumpalak

Perasaian faqir sudahlah nyata
Faqir sebutkan sedikit saja
Karena banyak tidak terkira
Faqir menyebut tidak kuasa

Sekarang, bila diperhatikan, di mana saja di Sumatera Barat, sangat sulit ditemukan seorang datuak, guru, mubalig, tenaga pendidik lainnya atau juga pimpinan wilayah bila menyampaikan sesuatu, apakah itu nasehat atau juga rasa kesalnya disampaikan melalui pantun.

Padahal menyampaikan pesan/nasehat/rasa amarah/rasa kesal/rasa sedih dengan cara berpantun akan lebih mudah dimengerti. Dan secara diam-diam juga bisa dilaksanakan oleh sipendengar. Walaupun dalam hatinya mengerutu pada awalnya. Namun setelah direnungkannya kemudian melahirkan kesadaran sendiri. Bukankah hati manusia itu pada dasarnya suci, terbebas dari segala hal-hal yang buruk, karena pemiliknya adalah Allah SWT.

Selain itu menyampaikan pesan dengan cara bapantun, juga dapat menghindari pertikaian antara orang yang berpantun dalam menyampaikan maksud dan tujuannya dengan individu atau masyarakat yang dituju. Kareh/padieh tamparannya terhadap orang atau kelompok yang dituju dalam pantun, tetapi orang lain tidak tahu. Itulah ciri khas Orang Minangkabau yang sangat patut ditumbuhkembangkan kembali di era milineal 4.0**

**Penulis, dosen Sejarah Islam di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang.
***Gambar oleh Alvi EKo Pratama dari Pixabay

Bagikan
  • 10
    Shares