Pelajaran dari Orang Mudik

redaksi bakaba

Ketika “mudik” dan “pulang kampung” diperdekatkan, karena memang dua diksi yang bersaudara, di situlah terasa kelucuan mendalam di tengah keprihatinan wabah Covid-19 melanda

Bagikan
  • 99
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh himanshu gunarathna dari Pixabay
Gambar oleh himanshu gunarathna dari Pixabay
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, MA

Indonesia hebat! Ungkapan seorang presiden bisa berjam-jam menjadi bahan untuk dipercakapkan. Bisa jadi akan berhari-hari, mungkin juga berminggu-minggu. Ia akan hilang begitu saja, bila tiba lagi bahan baru untuk dipergunjingkan.

Beragam ungkapan muncul di lini masa dalam bentuk pikiran-pikiran sahih berterima dengan akal sehat namun lebih banyak pula bernada kebencian dan emosional, melalui satire tingkat abal-abal hingga tingkat paling profesional.

Alamak! Sehari memasuki bulan suci penuh berkah, kita harus bersyukur kehadiran Allah SWT. Alangkah beruntungnya hidup di alam demokrasi ini, tanpa takut mengungkapkan pendapat dalam bentuk apapun. Sekalipun tetap harus hati-hati agar tidak terjerat hukum.

Baiklah, antara “mudik” dan “pulang kampung” memang secara substansi tidak ada bedanya. Sama-sama macam ikan salmon, mencari tempat kelahiran. Bedanya, ikan salmon mudik berduyun-duyun dengan perjuangan hidup-mati, bertelur di mudiknya. Mudik adalah budaya yang telah mengisi panggung kehidupan kaum urban. Tidak afdal jika hari raya tidak mudik. Ini beban sosial bagi perantau. Ada kemungkinan akan muncul gunjingan, terlalu sukses atau tidak sukses di perantauan secara ekonomi.

Baca juga: Puncak Kejenuhan Sebuah Berita

Mudik adalah pulang kampung menjelang lebaran Idul Fitri tiba. Lalu hari-hari biasa, kita tidak mudik, tapi pulang kampung! Sampai di sini, kita paham soal konteks. Jarang sekali pada hari-hari biasa, diksi “mudik” dipakai untuk menyatakan seseorang sedang pulang kampung.

Ketika “mudik” dan “pulang kampung” diperdekatkan, karena memang dua diksi yang bersaudara, di situlah terasa kelucuan mendalam di tengah keprihatinan wabah Covid-19 melanda. Di tengah ribuan tenaga medis sedang berjuang agar mata rantai penularan bisa segera putus, selalu ada bahan untuk tersenyum walaupun sedikit. Pasalnya, hanya soal mudik atau tidak.

Mudik jadi masalah besar di negeri ini, karena diungkapkan oleh seorang kepala negara. Mudik menjadi besar karena memang massal dilakukan saban tahun. Sayangnya, tahun ini ada Covid-19, bisa menular secara massal pula, makanya perlu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mudik, Covid-19 dan PSBB, membuat kita menoreh sejarah baru yang belum pernah dialami. Inilah perubahan sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan.

Mudik itu budaya maka ia ada. Sungguhpun di tengah kemajuan teknologi informasi hari ini, jarak kampung halaman sudah didekatkan dengan video call. Hanya saja, kendala video call ke kampung halaman, adalah jaringan seluler, mungkin juga paket data. Mudik adalah keharusan. “Kami mudik, maka kami ada,” kata sastrawan, Damhuri Muhammad. Semacam cara untuk menjalan fungsi eksistensialisme bagi seseorang. Jadi, mudik memiliki beban budaya, beban religi, yang membuatnya keharusan. Keharusan itu, soal afdal tidak afdalnya lebaran bagi seorang urban yang memiliki kehidupan komunal di kampung halaman.

Pasca reformasi kita menikmati kebebasan. Sebelumnya, hanya beberapa penulis hebat, yang saya kagumi bisa membuat tulisan yang tajam menikam kepala publik tetapi tujuannya ke pusat kekuasaan. Tulisannya berbentuk satire, agar tidak dijangkau oleh aparat hukum. Tentu ini butuh kecerdasan dalam berbahasa. Ingat, butuh kecerdasan! Jika ingin selamat dari ancaman pasal-pasal perundang-undangan.

Seorang gubernur juga pernah “terpeleset” hingga jadi bahan bully bagi haters. Soal banjir. Gubernur itu menyebut; itu bukan banjir, itu air tergenang. Bukankah banjir dan air tergenang itu substansinya sama? Sekilas akan sangat sama tetapi ada perbedaan jika sedikit ingin bekerja. Banjir diartikan air yang lebih banyak, lama, berdampak sedangkan air tergenang biasa saja, tidak lama, lalu hanya berdampak sedikit. Membasah dan merendam, tetapi tidak membakar. Hahaha.

Kembali ke soal mudik atau pulang kampung? Dua diksi dengan makna sama secara substansi, diucapkan pula seorang kepala negara, tentulah seperti mendengar “stand up comedy” bagi orang yang sudah lama menaruh “sesuatu” kepada kepala negara. Sebagai kepala negara hasil dari pemilihan langsung dengan selisih satu digit persen satu tahun lalu, tentu saja masih tersisa aroma kekalahan pada satu sisi lain. Siapapun itu, ia akan selalu berharap ada kesalahan, ada ketergelinciran bahasa baginya. Itu ditunggu-tunggu. Jangankan ada kekeliruan, benar sekalipun akan dicari kesalahan. Pada konteks ini, kebencian seseorang kepada seseorang lain tidak bisa bisa perubahan secepat membalik telapak tangan. “Jangan ungkapkan kebenaran kepada orang yang telah membencimu.”

Jagat maya kita adalah panggung paling ironik di tengah kepanikan. Obat mujarab melepas emosi. Tempat berbangga bagi mereka yang beruntung. Senjata bagi orang-orang yang tertindas. Sayangnya, menjadi panggung paling sial bagi siapa saja yang punya haters. Tetapi sesungguhnya, orang yang punya haters adalah orang yang paling bahagia. Haters menunjukkan seseorang telah menjadi tokoh penting di bidangnya. Pilihannya, mau jadi tokoh penting atau menjadi haters?

Selamat menjalankan ibadah puasa. []

~ Penulis, Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (­) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang.
~ Gambar oleh himanshu gunarathna dari Pixabay 

Bagikan
  • 99
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Perantau Pulang sudah 113.794 Orang

Ada 224 orang perantau dan orang berkunjung ke Sumbar yang dikarantina
Gambar oleh Ihsan Aditya dari Pixabay