Home > Sosial Seni Budaya > Urang Siak: Tak Sekadar Santri

Urang Siak: Tak Sekadar Santri

Photo by Hasimsyah . from FreeImages
Bagikan
  • 38
  •  
  •  
  •  
  •  

Muhammad Nasir
Muhammad Nasir

SEBUTAN Urang Siak masih dikenal dan masih sering digunakan oleh masyarakat Minangkabau. Sebutan itu orisinil milik penutur asli bahasa Minangkabau, digunakan untuk menyebut sosok elit agama di tengah masyarakat, atau untuk menyebut seseorang yang terhubung dengan tugas-tugas peribadatan dan upacara adat serta keagamaan di tengah masyarakat.

Penggunaan istilah Urang Siak sangat bervariasi dan memberikan maksud yang beragam pula. Masyarakat yang masih terhubung dengan praktik kehidupan tradisional masyarakat Minangkabau di masa-masa lampau diyakini masih terbiasa menggunakan istilah ini.

Menurut teori linguistik, kosa kata yang dipakai oleh masyarakat untuk berkomunikasi menunjukkan adanya benda atau aktivitas khusus yang masih berlangsung. Artinya, istilah Urang Siak yang masih digunakan oleh masyarakat Minangkabau menunjukkan dinamika sosial yang melibatkan peran Urang Siak masih ada dan dialami langsung oleh penuturnya.

Namun tetap ada perbedaan variasi dalam penyebutan Urang Siak. Di zaman Ojek Online (ojol) ini, variasi penyebutan disebabkan adanya penurunan frekuensi kegiatan sosial dan interaksi sosial yang melibatkan Urang Siak itu. Dari segi usia penutur, istilah buya dan ustadz yang digunakan untuk menyebut Urang Siak dapat dipastikan adalah generasi termuda yang mulai terpengaruh dengan unsur peubah tradisi dari luar.

Siapa, Mengapa Urang Siak
Sepertinya sudah ada kesepakatan akademis di kalangan penulis bahwa Urang Siak adalah Santri atau murid-murid sekolah agama. Jejak kesepakatan itu dapat dilihat dalam karya-karya para penulis, sarjana dan peneliti yang menulis tentang Minangkabau. Berikut akan ditampilkan beberapa kutipan literature yang menyinggung tentang Urang Siak

Para penulis dan sarjana peneliti dalam tulisannya sering menggunakan istilah Urang Siak untuk menyebut santri. Misalnya, Jeffrey Hadler dalam bukunya, Sengketa Tiada Putus (2008) beberapa kali menulis kata orang siak dengan pengertian yang berbeda. Berikut di antara kutipannya: 

‌Pada sore hari, Djoeir belajar di cabang Sumatra Thawalib yang dikelola Syekh Ibrahim Musa, di Parabek. Di sana dia bertemu dengan Adam Malik (ketika itu dia yang kemudian menjadi menteri luar negeri dan wakil presiden itu adalah orang siak, santri miskin dan seringkali berkelana yang juga menerima sedekah) dan sejumlah kecil pemimpin-pemimpin nasional yang masih muda.

Djoeir yang dimaksud di atas Djoeir Moehamad (lahir 1916), tokoh pergerakan nasional, seorang sosialis rekan Sutan Sjahrir. Orang Siak langsung dia sandingkan dengan kata Santri sebagai makna penjelas.

Dalam buku yang sama Hadler juga menyebutkan bahwa Urang Siak juga berarti Alim Ulama. Informasi ini ia dapatkan dari tulisan Soetan Sarit, “Dari hal orang kawin di Kota Gedang”, schoolschriften di Portefeuille 1197. Sutan Sarit adalah guru bantu di Sekolah Pribumi di Bukittinggi, sebagai berikut:

Pada sendja lepas berarak jang terseboet tadi, maka marapoelai poelang karoemah iboenja; maka tatkala ia akan kombali poelang karoemah isterinja, laloe diberikan oleh saorang2 jang sabelah iboenja 3 bantoek tjintjin emas, jaitoe 1 tjintjin kelingking, 1 tjintjin djari manis dan 1 tjintjin toendjoek; dan kepeng ƒ10, soedah itoe didjarikannja akan pergoenaan tjintjin dan kepeng jang terseboet itoe. Satelah soedah diterimanja akan adjaran itoe maka iapoen poelanglah karoemah isterinja, serta doedoek ber-sama2 orang siak [alim ulama] jang terseboet diatas tadi. Tatkala sagala siak itoe soedah pergi, maka iapoen tinggal doedoek saorang dirinja, atau ditemani oleh pasamandan2

Hamka termasuk penulis yang banyak menyinggung kata Urang Siak dalam karyanya. Ia menulis dengan varian Orang Siak. Dalam bukunya Ayahku, Jakarta, Uminda, 1982 dalam catatan kaki tulisannya mendefinisikan Orang Siak sebagai istilah Minangkabau untuk menyebut santri. Berikut petikanya:

‌Kabarnya konon maka kaum santri di Minangkabau disebut orang, Siak, sebab penuntut-penuntut ilmu agama banyak datang dan Siak, dan kata setengahnya pula orang-orang dari Siaklah yang menyebarkan Agama Islam di Minangkabau di zaman dahulu.

Hamka juga menulis aktivitas Urang Siak, terutama kedekatan interaksi personal dengan guru:

‌Kalau beliau pergi memenuhi wiridnya ke nagari-nagari tempatnya mengajar, misalnya ke Sungai Landir akan terus ke Koto Tuo dan Koto Gadang melalui nagari Ranah terus ke Banuhampu dan Kapas Panji ke rumah anak istrinya yang di sana, tidaklah beliau menjejak di tanah.

Dibuatkan orang beliau tandu atau kursi diberi penutup dan dipikul oleh empat orang siak. Beberapa Lebai mengiringkan di belakang membawa kitab-kitab dan peti beliau, sambung bersambung daripada satu nagari ke nagari yang lain. Kadang-kadang beliau sendiri pun lebih suka naik kuda.

Tentang posisi sosial Urang Siak di tengah masyarakat, Hamka menulis:

‌Kehidupan yang tetap dari ninik-mamak tidak ada. Kalau sawah anak kemenakannya luas, mendapatlah dia padi abuan, tetapi kalau anak buahnya miskin, sengsara hidup jadi ninik mamak,sehingga perbelanjaan hanya diharapkan dari potongan komisi pungutan belasting (pajak). Ninik-mamak yang cerdik dan ditakuti oleh anak-buahnya, kadang-kadang mengambil kesempatan mencari belanja dari kebodohan anak-buahnya.

Dianjurkannya anak-buahnya menggadaikan hari tua, dan dia mendapat komisi dari penggadaian itu. Lantaran itu maka kedudukan “orang siak” lebih baik dari kedudukan ninik-mamak dan lebih dihormati orang. Sehingga pergantungan seorang ninikmamak tidak lagi ke bawah, melainkan ke atas. Kepada Tuanku Laras, kepada Engku Kepala dan ke “arah hilir”, yaitu ke Maninjau, tempat kedudukan Tuanku Kumendur (Controleur).

Mochtar Naim, penulis buku Merantau, Pola Migrasi Duku Minangkabau (1984) menawarkan pendapat yang berbeda. Ia juga menyebutkan Urang Siak adalah suatu sebutan untuk satu jenis perantau.

‌Tipe lain dari merantau yang dikenal di antara orang Aceh ialah yang dinamakan “meudagang” tapi tipe ini khusus dimaksudkan bagi anak muda yang mencari pengetahuan agama yang pergi dari satu meunasah (madrasah) ke ‘meunasah lainnya untuk mempersiapkan diri menjudi ulama. Dalam banyak hal, hal ini sama dengan cara kehidupan ‘urang siak” di Minangkabau dan santri di Jawa. Merantau mereka biasanya hanya terbatas di sekitar kampung mereka dan jarang yang keluar dari Aceh.

Beberapa sumber tertulis di atas sudah memberikan gambaran definitif tentang siapa Urang Siak dan bagaimana gambaran tugasnya dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau. Informasi di atas cukup membantu untuk menjelaskan eksistensinya di tengah masyarakat Minangkabau.

Urang Siak ternyata lebih dari sekadar santri (pelajar agama), tapi juga berlanjut sebagai sebutan untuk ulama bahkan sebagai persona pelaksana tugas-tugas keagamaan di masyarakat.

Jadi ingat hashtag #PernahNyantri atau #BanggaPernahJadiSantri. Jika dulu ia jadi santri, sekarang jadi apa? (*)

*) Penulis Dosen Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Imam Bonjol, Padang

**)Photo by Hasimsyah . from FreeImages


Bagikan
  • 38
  •  
  •  
  •  
  •