Home > Literasi Media > Memahami Watak Media Sosial

Memahami Watak Media Sosial

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, M.A.

Oleh: Dr. Abdullah Khusairi, M.A.

KINI kita telah tiba pada era yang telah mengubah cara berkehidupan. Kita telah jarang berciloteh di lapau-lapau. Kini kita tak perlu bersua sembari minum kopi, bertatap muka sekaligus dapat saling bersitatap mata. Kalaupun masih terjadi, kita justru autis dengan gadget di tangan. Hingga kita lupa dengan teman di satu meja. Alangkah dahsyat perubahan itu terjadi.

Kita bertemu di dunia maya. Melalui fasilitas media sosial dalam berbagai nama dan jenisnya. Entah di mana kolega, sahabat, saudara kita bisa berkomunikasi langsung dengan teknologi yang tersedia. Tanpa disadari, kita telah hanyut jauh dalam dari tepian budaya yang kita miliki.

Lalu tiba-tiba kita disentakkan oleh rasa terhina. Kita heboh. Seterusnya melaporkan ke polisi, tindakan penghinaan di dunia maya masuk ke wilayah paling nyata. Ini membuktikan, dunia maya tak lagi maya. Ia nyata.

Jauh sebelum ini terjadi, Marchal McLuhan sudah menyebut ini akan terjadi. Ia menyebutnya, pada suatu masa dunia akan jadi global village. Dunia adalah desa kecil saja. Ini telah terjadi ketika jejaring komunikasi massa telah membalut dunia. Dalam bahasa lain, Samuel Huntington mengingatkan, dunia akan menjadi tanpa jarak dan batas. Teritori negara boleh saja ada, tapi komunikasi bisa setiap waktu. Inilah yang ia sebut borderless world. Namun ingat, masalah bermula dari sini, ketika kita belum siap untuk masuk ke fenomena tersebut.

Gagap Komunikasi
Ilmu komunikasi yang mengkaji seluruh laku komunikasi. Sejak dari komunikator, pesan, media, metode, komunikan, effect dan seterusnya. Akhirnya akan ditemukan bagaimana pengaruh, seluruh bentuk akibat dari komunikasi dan pesan yang disampaikan. Pesan awal dari komunikator yang menginginkan apa effect pada dasarnya adalah perang pengaruh antara satu pribadi dengan pribadi yang lain, antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Budaya yang satu dengan budaya yang lain. Pada akhirnya, di sinilah tujuan komunikasi itu hadir. Munculnya common. Kesamaan maksud.

Tetapi persoalannya menjadi tidak sederhana ketika terjadi kegagalan dalam penyampaian pesan. Ada peran media, metode penyampaian, media penyampaian, yang bisa jadi membuat pesan menjadi tidak sampai alias gagal. Atau lebih fatal, lain yang yang dimaksud, lain pula yang ditangkap. Ilmu komunikasi lebih rinci menyebut dan membedakan antara gagal dan miskomunikasi. Ada banyak faktor yang membuat komunikasi tidak lancar dan tidak sampai maksud. Apalagi bila dikaji secara rinci setiap elemen komunikasi.

Kita jarang menyadari tentang komunikasi yang efektif. Lebih-lebih bila sudah memakai medium yang baru saja kita miliki, kita temukan, kita pakai. Kita mencoba-coba lalu merasa hebat pula dibuatnya. Padahal, inti dari komunikasi tentulah penyampaian pesan secara efektif. Akan halnya, chatting, pernyataan di layar seperti di Facebook, Twitter, WhatApp, Tagged, dan puluhan media sosial lainnya, sering sekali dipasang dengan tata bahasa lisan ke dalam tulisan. Jika tidak hati-hati, bisa jadi kita keliru memahaminya.

Inilah yang terjadi akhir-akhir ini. Ketika proses komunikasi melalui media sosial melahirkan rasa terhina, menyulut emosi dan munculnya kekeliruan persepsi dari pesan yang disampaikan.

Ada perbedaan watak yang nyata antara komunikasi langsung antarpribadi di lapau-lapau ketika kita bandingkan dengan komunikasi melalui media sosial. Walau pada dasarnya ia memiliki kesamaan, semisal bisa dibaca bersama, bisa dipahami bersama. Tetapi komunikasi di media sosial memiliki keterbatasan. Misal paling nyata adalah, jumlah kata, karakter kata hingga cara berbahasa.

Sebelum media sosial, masyarakat telah melakukan kegiatan ini melalui milis. Komunikasi grup email. Belum ada muncul masalah, karena milis memberi ruang untuk para pengguna untuk berpanjang lebar menyampaikan pemikiran, perasaan dan maksud. Tetapi di media sosial yang memiliki banyak keterbatasan, memungkinkan terjadinya kesalahan persepsi dari maksud pesan. Lebih-lebih digunakan oleh mereka yang memang cerdik untuk memancing maksud agar orang lain terpengaruh.

Medium baru bernama media sosial, dengan jejaring yang unik itu, ternyata tidak memberi kesan dan menghantarkan perasaan. Sementara, ada emosi yang mesti disambut dalam suara, berupa intonasi, roman muka, gestur, dan sebagainya. Pada jejaring sosial, hanya memberi fasilitas simbol emosional. Di sinilah dasarnya, kenapa sampai terjadi tingkat emosi yang tak dapat diukur, ketika ada yang menyampaikan pesan ke publik pertemanannya, langsung ada yang menyambutnya tidak sesuai dengan maksud pesan. Apalagi bila memang pesan diniatkan untuk meresahkan dan menyulut api permusuhan.

Akan halnya yang terjadi akhir-akhir ini, kita kadang-kadang terhanyut oleh komunikator yang sesegera mungkin mengambil keuntungan dari emosi yang tersulut itu. Kita tidak membaca simbol dan maksud di balik seluruh elemen kata-kata yang diungkapkan secara terbatas itu. Kita memaknainya dengan emosional pula. Maka tercerabutlah kearifan dan kedewasaan komunikasi kita dari akar budaya yang egaliter, saling pengertian, budaya diplomatis dan sebagainya.

Tanpa bermaksud menyalahkan teknologi yang kita pakai hari ini, patutlah akhirnya kita menyadari medium apa pun memiliki kelemahan yang harusnya disadari. Tidak digunakan semena-mena. Kita mesti beranjak dari pemahaman yang sama dalam menggunakan medium baru tersebut.

Budaya Komunikasi
Miskomunikasi terjadi ketika persepsi tidak sama. Akibatnya konflik tak terelakkan. Emosi langsung meninggi dan caci maki akhirnya menjadi-jadi. Rasionalisasi terhadap persoalan sudah lari dari substansi.

Teknologi tidak kita sadari telah menukar warna budaya yang sebenarnya kita anut sejak lama. Mereka yang baru ketemu dengan barang-barang teknologi, jarang menyadari bahwa benda ini juga dibuat oleh manusia. Ada kecenderungan menggunakan teknologi untuk kebebasan berbuat. Melompat “pagar betis” budaya dan agama yang sebenarnya masih berlaku, termasuk dalam menggunakan teknologi tersebut. Salah satu buktinya adalah, membuat nama samaran. Berlindung di balik itu, secara bebas menerabas semua pagar norma. Ini budaya kita bila bertemu teknologi, tidak belajar dulu tentan itu secara lengkap.

Ciloteh lapau kita memang sudah berpindah ke media sosial. Apa saja dibicarakan tanpa kecuali. Mereka yang rasional memang mampu memberi warna tetapi yang emosional sungguh kadang-kadang keterlaluan. Karenanya, media sosial menjadi tidak tergunakan secara produktif jika tidak kita sadari. Hanya jadi ajang caci maki, sekedar tempat narsis, merasa hebat sendiri. Sementara ada pihak yang mendapat keuntungan financial dari kehadiran jejaring sosial tersebut.

Akhirnya, kita memang tidak bisa mewakili semua emosi melalui medium tertentu. Kita harus memahami medium tersebut. Lalu memahami siapa yang menggunakannya, cara menggunakannya. Kita harus tetap waspada, agar tidak terpancing dari umpan yang sebenarnya membuat kita justru masuk ke wilayah paling dramatis dalam hidup ini: kalah perang informasi.

Media sosial, wahana yang serius sekaligus tidak serius yang membutuhkan keutuhan berpikir, cara berkomunikasi, juga bahasa yang dipilih. Begitulah cara yang memungkin agar bermanfaat, selebihnya kita bisa menjadi residu informasi yang tidak memberi arti. Singkatnya, kita patut untuk cerdas memakainya.(*)

**Dr. Abdullah Khusairi, M.A. Jurnalis yang berkhidmat di dunia akademis, bidang Komunikasi Massa dan Pemikiran Islam.

***Gambar fitur oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Bagikan
  • 34
    Shares