Terperangkap dalam Lukah Kepentingan

redaksi bakaba

Bila sudah masuk lukah ini, sulit keluar dan bebas. Sementara, saya ingin bebas. Bebas seperti elang. Bebas berpendapat, sekalipun itu tak perlu didengar banyak orang.

Bagikan
  • 53
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Patsakorn Keaophengkro dari Pixabay
Gambar oleh Patsakorn Keaophengkro dari Pixabay
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, MA

“Otoritas dibenam populisme kritisisme ditangkal banalitas kebenaran hanyut dibawa hujan”

Quote di atas dibuat di tengah kecamuk perang kata-kata di group Whatsapp, lalu diunggah ke lini massa. Melalui quote ini, saya selamat tidak ikut campur banyak dengan peperangan yang terjadi. Sebab para pihak yang berperang itu sedang memperjuangkan sesuatu yang entah kebenaran, entah pula kepentingan.

Saya tak mau masuk lukah kepentingan. Baik masuk secara sadar maupun hanyut dibawa derasnya arus informasi sehingga terjerembab dalam lukah kepentingan politik kekuasaan dan ekonomi. Bila sudah masuk lukah ini, sulit keluar dan bebas. Sementara, saya ingin bebas. Bebas seperti elang. Bebas berpendapat, sekalipun itu tak perlu didengar banyak orang.

Perang kata-kata para pihak yang bersetuju dengan aksi Andre Rosiade akhir-akhir ini dengan pihak yang tidak bersetuju telah jauh hanyut tetapi belum juga sampai ke muara. Andre Rosiade tetap menjadi bintang dari aksi itu. Sementara yang lain terus menari di gendang yang dimainkan Andre Rosiade. Andre Rosiade seperti tak peduli, akan dibenci atau disukai. Ia sedang menunaikan kebenaran yang ada dalam dirinya.

Perang lain, masih seperti tahun-tahun sebelumnya; boleh atau tidak mengucapkan selamat natal kepada saudara kita nasrani yang merayakannya. Begitu kontra-produktif. Saya justru memilih untuk mengucapkan langsung kepada sejawat yang telah lama dikenal. Bagi saya, itu bentuk apresiasi persahabatan yang selama ini terjalin, tanpa mengganggu kekokohan aqidah yang saya pelajari, saya pahami, sedari kecil di lingkungan sekolah agama. Pendidikan saya khatam dari dasar hingga doktor di bawah kementerian agama.

Dua perang kata-kata itulah membuat saya sedikit menepi. Merasa tak perlu ikut klaim sepihak, baik setuju maupun tidak setuju. Kiranya benar Kang Yudi Latif menyatakan, dibutuhkan sikap untuk menepi dalam sunyi untuk merenungi perjalanan dari tahun ke tahun. Sebuah perenungan biasanya akan menambah dimensi kebajikan untuk diri.

Begitulah, menjelang pergantian tahun, perlu ada waktu khusus untuk diam. Tidak menceracau di lini masa. Tidak perlu dan tidak memungkinkan. Sebab, era post-truth ini, kebenaran begitu banyak versi dan bercampur-baur dalam kepentingan. Kebenaran itu relatif. Sekalipun apa yang dikatakan benar secara hukum, budaya, agama, jika secara politik berlawanan dengan kepentingan politik sejawat, teman, dan orang-orang sedang berkuasa, maka siap-siaplah kena bully. Pada titik ini, untuk menyatakan kebenaran membutuhkan perjuangan. Walau sebenarnya, kebenaran sebenarnya tak perlu perjuangan. Ia akan datang sendirinya seiring waktu. Sayang, ketika kebenaran datang, kelelahan telah membuat para pihak terkapar sendiri.

Hari-hari kita diisi dengan kebenaran-kebenaran yang berada di jurang yang curam. Sementara kekuasaan-kekuasaan begitu kokoh menyuarakan kepentingan-kepentingan. Kritik mati di tangan kekuasaan serupa ini. Pintu dialektika ditutup rapat. Kebencian meraja, saling sanjung-puja kian jauh. Begitu banyak yang masuk lukah kepentingan dan tidak bisa keluar lagi. Logika dipersempit, sekalipun ada kebenaran namun bila itu adalah lawan, harus disalahkan. Kedangkalan sedang dirayakan sedemikian rupa, sehingga kebenaran sulit diungkapkan. Sedangkan kebenaran selalu muncul dari kedalaman daya pikir dan daya rasa.

Kemanakah kearifan itu? Kearifan sedang alpa ketika residu kata-kata tercium amis dan mengoyak-ngoyak sendi-sendi persaudaraan. Kehidupan harus dijalani dengan kegamangan, ketakutan, dan juga keangkuhan semu dalam kemenangan.

Sembari mematikan smartphone, putuskan jaringan media massa dan media sosial, mari bertanya jauh ke dalam ke relung dan sudut hati, apakah pernah masuk lukah kepentingan itu? Siapa yang telah menyeret nalar kebenaran yang dibangun dengan perasaan kemenangan paling benar? Dimanakah posisi paling arif di tengah kecamuk perang urat syaraf yang tak berkesudahan itu? Kapan kebenaran yang diungkapkan bisa diamini segera? Bertanyalah ke dalam diri, jangan kepada siapa pun. Selamat tahun baru 2020.*

*Penulis, Doktor Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah/Dosen di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang
**Gambar oleh Patsakorn Keaophengkro dari Pixabay

Bagikan
  • 53
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Pedagang Pasar Atas Layani Tantangan Walikota

Walikota ini tidak mau bermusyawarah, dia selalu bilang: gugat jika tidak senang. Masalah ini yang kini digugat pedagang," kata Yulius Rustam.
Sidang gugatan di PTUN Padang - bakaba.co