Harapan ke Bukittinggi di Saat New Normal

redaksi bakaba

Disnakertrans Sumbar mencatat 10.690 orang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19 yakni 5.960 orang di Padang, 1.278 orang di Bukittinggi

Bagikan
  • 123
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Pariwisata Bukittinggi - Foto Drone Pemandangan Bukittinggi oleh Fadhly Reza
Foto Drone Pemandangan Bukittinggi oleh Fadhly Reza

Pariwisata Bukittinggi – Setelah Kota Padang yang merupakan ibukota provinsi tumbang, Kota Bukittinggi menjadi harapan. Bukittinggi memiliki pusat perdagangan grosir terbesar di Sumatra. Dari sektor perekonomian, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bukittinggi berada di bawah Padang.

Harapan kepada Bukittinggi tak berlebihan. Kota ini banyak mencatat sejarah; pernah menjadi penyangga saat dalam keadaan darurat, di kala Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Kota Bukittinggi berperan sebagai kota perjuangan; 19 Desember 1948 kota ini ditunjuk sebagai Ibu Kota Negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Peristiwa itu ditetapkan sebagai Hari Bela Negara berdasarkan Kepres 18 Desember 2006.

Kota Bukittinggi satu-satunya daerah di Sumbar yang telah lebih dahulu mencabut status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dan dilanjutkan penerapan new normal, hidup berdampingan dengan Covid-19, sejak 1 Juni 2020. Adapun 18 daerah lain masih menjalankan PSBB tahap 3 hingga 7 Juni 2020.

The New Normal (kenormalan baru) sendiri merupakan istilah dalam bisnis dan ekonomi yang mengacu pada kondisi keuangan setelah krisis keuangan 2007-2008 dan setelah resesi global 2008-2012. Istilah ini digunakan dalam berbagai konteks untuk menyiratkan bahwa sesuatu yang sebelumnya tidak normal telah menjadi biasa.

Beda Pandangan

Ada beberapa tanggapan berbeda tentang pencabutan PSBB di Bukittinggi. Ahli Epidemiologi Universitas Andalas (Unand) Padang, Defriman Djafri menilai, pencabutan status PSBB di Kota Bukittinggi sama sekali tidak berdasar. Penerapan kenormalan baru itu bukanlah ajang uji coba.

Di sisi lain Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) dan insan pariwisata di Bukittinggi mengapresiasi langkah Bukittinggi. New Normal dinilai akan mendukung kebangkitan sektor pariwisata yang terpukul berat oleh pandemi Covid-19.

Insan pariwisata Bukittinggi mengapresiasi keberanian Gubernur Sumbar dan Pemerintah Kota Bukittinggi keluar dari PSBB. Keputusan ini tentu akan membuat ekonomi warga, terutama bidang kepariwisataan dapat menggeliat kembali. Apalagi manusia sesungguhnya makhluk bermain, homo ludens. Ia tidak mau dipasung waktu dan tempat. Ia ingin terus bergerak.

Sebelum pemerintah Sumbar melonggarkan PSBB dan memberlakukan situasi normal baru, di Bukittinggi sudah dilihat beberapa persyaratan mendasar yang harus dipenuhi dalam pencabutan PSBB.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 (Pasal 10) menyatakan, pelonggaran PSBB bisa dilakukan jika jumlah kasus atau jumlah kematian akibat penyakit tidak lagi meningkat dan menyebar secara cepat. Kurva kasus virus Corona di daerah tempat destinasi wisata menurun, memiliki basic reproduction number (R0) di bawah satu, effective reproduction number (Rt) di bawah 1 sehingga betul-betul secara bertahap bisa membuka sektor pariwisata.

Pariwisata Lumpuh

Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Pegunungan Bukit Barisan atau sekitar 90 km arah utara dari Kota Padang. Kota ini berada di tepi Ngarai Sianok, dikelilingi Gunung Singgalang dan Marapi. Lokasinya pada ketinggian 909–941 mdpl menjadikan Bukittinggi berhawa sejuk, suhu berkisar 16.1–24.9 °C.

Keindahan, kesejukan, kedamaian Bukittinggi memang sudah tersohor. Kota ini oleh Bung Hatta dijuluki Parijs van Sumatra. Pada 11 Maret 1984 Bukittinggi dicanangkan sebagai Kota Wisata dan Daerah Tujuan Wisata Utama di Sumbar. Bulan Oktober 1987 ditetapkan sebagai daerah Pengembangan Pariwisata Propinsi Sumbar (Perda 25 tahun 1987).

Namun semenjak Covid-19 melanda, bisnis pariwisata Bukittinggi terganggu. Aktivitas penerbangan, perhotelan, kawasan dan objek wisata, jasa kuliner, serta bisnis terkait pariwisata lain nyaris lumpuh.

Baca juga: Bukittinggi dan ‘MICE’ Dunia

Dampak Covid-19 terhadap pariwisata sangat banyak. Industri pariwisata mempunyai keterkaitan dengan industri yang lain yaitu perhotelan, transportasi, UMKM yang menghasilkan cendera mata dan kuliner, restoran, biro perjalanan wisata dan pemandu wisata.

Organisasi Pariwisata Dunia memprediksi penurunan aktivitas wisatawan internasional tahun ini lebih dari 30 persen. Aktivitas wisata di berbagai belahan dunia diperkirakan anjlok sampai 90 persen. Bali, sebagai destinasi utama Indonesia, mengacu data Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Februari hingga April lalu, berpotensi rugi Rp 135 triliun.

Kota Bukittinggi, daerah unggulan tujuan wisatawan di Sumbar, menjadi salah satu yang terdampak. Disparpora Bukittinggi mencatat total kerugian di sektor pariwisata mencapai Rp 9 miliar selama tiga bulan terakhir.

Disnakertrans Sumbar mencatat 10.690 orang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19 yakni 5.960 orang di Padang, 1.278 orang di Bukittinggi, 785 orang di Padang panjang, dan lainnya tersebar di Solok, Payakumbuh, hingga Mentawai.

Bertambahnya jumlah penganggur akibat lumpuhnya sektor bisnis bisa diprediksi akan meningkatkan jumlah kriminalitas di Bukittinggi. Perekonomian akan terpuruk akibat tidak adanya rasa aman dalam bekerja dan berusaha. Kita berharap pemerintah bisa menjamin agar warga negara bekerja seperti biasa tanpa takut adanya Covid-19. Tentu saja dengan tetap menjaga jarak, rajin cuci tangan, dan pakai masker.

Bangkitkan Wisata Bukittinggi

Jika wisata Bukittinggi ini tak segera dibangkitkan dan penurunan serta penghentian aktivitas wisata ini terus berlangsung, kematian industri pariwisata di Bukittinggi dan Sumatera Barat tinggal menunggu waktu. Kondisi itu tentu tidak boleh dibiarkan.

Dalam situasi sulit ini, harus ada terobosan agar sektor pariwisata menggeliat kembali. Sektor ini harus mulai bergerak dan produktif ketika pandemi belum sepenuhnya dapat diatasi.

Agar tetap survive, industri pariwisata Bukittinggi harus menyesuaikan diri dengan kondisi pandemi. Jika situasi pandemi di era kenormalan baru menuntut semua orang untuk menjalankan protokol kesehatan, industri pariwisata pun harus mengadopsi ketentuan itu dalam mengemas jasa layanan. Standar baru, kebiasaan baru, dan kultur baru di sektor pariwisata harus dikembangkan sehingga produk baru pariwisata yang tepat dan memuaskan pun dapat dikreasikan dan disodorkan kepada para wisatawan era new normal.

Ada berbagai usulan, seperti: Solo travel tour, wellness tour, virtual tour, dan staycation ialah produk wisata yang dapat disebut sebagai contoh dari alternatif liburan yang diprediksi bakal laku dijual di era new normal. Dan kesehatan dan kenyamanan di beragam sektor mulai dari atraksi, akomodasi, transportasi, preferensi produk, hingga label higienis akan menjadi tren yang diminati wisatawan.

Langkah Strategis Pariwisata

Dalam mendukung pariwisata di Bukittinggi di era new normal ini, hal yang bisa dilaksanakan adalah:.
Pertama, Industri pariwisata di Bukittinggi sangat membutuhkan digitalisasi untuk mendukung sektor perekonomian menyambut tatanan hidup baru atau new normal.

Implementasi digitalisasi transaksi itu tidak hanya terbatas pada industri pariwisata seperti obyek wisata, hotel dan restoran. Namun juga industri pendukungnya seperti transportasi, pusat perbelanjaan hingga rumah sakit. Salah satu komponen dalam protokol kesehatan adalah metode transaksi non-tunai.

Hal ini penting untuk dilakukan karena setidaknya dua alasan. Pertama, uang tunai dapat menjadi media penyebaran virus yang harus kita hentikan. Transaksi non tunai sebenarnya merupakan metode transaksi yang efektif dan aman. Hal ini merupakan momentum yang baik bagi semua pihak untuk mulai menggalakkan gerakan masyarakat non-tunai (cashless society).

Kedua, dengan menerapkan carrying capacity wisata Bukittinggi, di beberapa negara lain, naik gunung dibatasi per hari cuma 190 orang. Tujuannya, untuk menjaga alamnya. Supaya dapat dikontrol dan sampahnya juga tidak terlalu banyak.

Hal seperti itu juga dapat diterapkan di Bukittinggi seperti membatasi pengunjung hotel dan restoran, untuk sementara diberlakukan maksimal 50 persen.

Ketiga, dengan menggalakkan travel insurance (asuransi kesehatan). Masyarakat biasanya tidak terlalu memikirkan soal asuransi kesehatan dan keselamatan dalam wisata.

~ Penulis, Riyan Permana Putra, S.H., M.H.,  Alumni Magister Hukum Universitas Pancasila,  Lembaga Bantuan Hukum Jakarta dan sekarang bekerja di Kantor Hukum Armen Bakar Bukittinggi.
~ Foto by Drone Pemandangan Bukittinggi oleh Fadhly Reza

Bagikan
  • 123
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Maestro Dendang Sawir St. Mudo Mangkat

Seniman tradisi dengan spesialisasi dendang-saluang, Sawir Sutan Mudo termasuk profesional. Jadwal tampilnya cukup tinggi. Sawir memiliki penggemar banyak, juga jaringan pertemanan yang luas.
Mak Sawir Sutan Mudo (kiri) di pinggir Sungai Rhein, ketika tour ke Jerman, Juni 1999. Tengah; Edy Utama dan pendendang Ernawati. - Koleksi: EU