[13] Yahudi: Penaklukan Benteng demi Benteng

redaksi bakaba

Melihat kejadian pada benteng-benteng yang sudah ditaklukkan, tiba saatnya menguasai benteng Sulalatin dan Al Watih. Setelah beberapa hari benteng itu dikepung tanpa ada penyerangan, benteng Sulalatin dan Al Watih menawarkan diri untuk menyerah dengan beberapa persyaratan

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Penaklukan Benteng - Gambar oleh guillermo gavilla dari Pixabay
Benteng – Gambar oleh guillermo gavilla dari Pixabay

Setelah penaklukan benteng Nu’aim sebagai benteng terdepan di Khaibar, pasukan Nabi Muhammad menaklukan benteng Ash Shaab.
Pada waktu pengepungan benteng Ash Shaab, Marhab keluar benteng dengan rombongannya. Dia minta dihadirkan lawan perang tanding satu lawan satu. Muhammad bin Maslamah tampil ke depan. Muhammad bin Maslamah terdesak. Pedang Marhab menembus daraqah (perisai) ibnu Maslamah lalu melekat di sela perisai. Secepat kilat pedang Ibnu Maslamah menebas Marhab. Pasukan Islam menyerbu masuk benteng. Takluklah benteng Ash Shaab, setelah tiga hari bertempur.

Setelah didudukinya benteng Ash Shaab, Rasulullah langsung memerintahkan pengepungan benteng Al Qullah. Dalam pengepungan ini orang Yahudi tidak mengadakan reaksi. Rasulullah menutup saluran air ke dalam benteng. Penghuni benteng menyerah kepada kaum Muslimin.

Pasukan Muslim langsung menuju benteng Ubayu. Yahudi di bawah pimpinan Khazwal keluar benteng dan langsung meminta lawan tanding satu lawan satu. Tawaran ini disambut oleh Al Habbab. Al Habbab dapat memotong kedua tangan dan kedua kaki Khazwal. Sementara Abu Dujanah membunuh setiap Yahudi yang menyerangnya. Yahudi terdesak, mereka tidak dapat menutup pintu benteng. Benteng Ubayu dikuasai Muslim. Dalam benteng ini banyak didapati perabot rumah tangga, bahan makanan, kambing dan domba.

Penaklukan benteng Al Baryu, pasukan Rasulullah menghadapi pasukan pemanah yang banyak dan memakai Manjanik, alat pelontar benda atau senjata. Peluru Manjanik mengenai pakaian Rasulullah. Rasulullah mengambil segenggam pasir. Beliau lemparkan ke arah benteng. Benteng itu bergoyang, bergeser dan pondasinya turun. Pintu benteng terlepas. Pasukan Muslim memasuki benteng. Benteng Al Baryu jatuh ke tangan Muslim. Selain gandum, dalam benteng itu banyak didapat bejana tempat minum dan makan dari tembaga, dan perak serta emas, Juga banyak logam yang digunakan untuk alat memasak.

Setelah penaklukan benteng Al-Baryu, pasukan Rasul menaklukan benteng Al Qamus, benteng terbesar dan terkuat di Khaibar. Dalam benteng ini berkumpul semua keluarga, anak-anak, isteri-isteri pemuka dan pembesar Yahudi, termasuk pemuka Yahudi yang terusir dari Madinah.

Dua puluh hari lamanya benteng ini dikepung, barulah dapat ditaklukkan. Penaklukan benteng itu terpaksa memakai Manjanik dan Dababbah yang sebelumnya didapat dalam benteng Nu’aim. Banyak sekali tawanan perempuan yang didapat di antaranya Hindun yang dimerdekakan dan diambil oleh Rasulullah menjadi Ummul Mukminin. Nama Hindun ditukar Rasulullah menjadi Syafiyah. Syafiyah adalah orang yang paling banyak jasanya kepada kaumnya. Melalui Syafiyah banyak orang Yahudi yang memasuki Islam.
Semua orang yang berasal dari enam benteng itu dijadikan tawanan, dan hartanya dijadikan harta rampasan, karena benteng-benteng itu ditaklukkan dengan kekerasan.

Baca juga:[12] Yahudi: Pembunuhan Sallam ibn Abu Huqayq

Melihat kejadian pada benteng-benteng yang sudah ditaklukkan, tiba saatnya menguasai benteng Sulalatin dan Al Watih. Setelah beberapa hari benteng itu dikepung tanpa ada penyerangan, benteng Sulalatin dan Al Watih menawarkan diri untuk menyerah dengan beberapa persyaratan. Di antara persyaratan itu; semua penghuni asli benteng itu diperbolehkan meninggalkan benteng dengan membawa kekayaannya sebanyak yang melekat di badannya kecuali perhiasan emas. Mereka tidak dijadikan tawanan perang. Semua harta dan perkebunannya ditinggalkan menjadi milik kaum muslimin. Siapa yang berminat diizinkan mengolah perkebunan Tamar di Khaibar.

Permohonan mereka diterima Rasulullah dengan syarat, apabila kaum Muslimin memerlukannya semua Yahudi itu harus meninggalkan Khaibar. Kemudian penduduk Khaibar yang tertawan banyak yang dimerdekakan memohon untuk tinggal di Khaibar mengolah perkebunan Tamar Khaibar. Dengan ditaklukkannya benteng As- Sulalatin seluruh Khaibar berada di bawah kekuasaan Muslim
Tercatat 93 orang Yahudi dan 15 orang muslim yang tewas, di antaranya seorang budak Yahudi dan seorang badui yang keduanya baru masuk Islam.

Penaklukan Fadak

Selanjutnya Rasulullah berangkat menuju Fadak. Rasulullah mengirim utusan menemui pemimpin mereka agar menyerah secara damai. Mendengar berita dari Khaibar, Yahudi Fadak menyerah dengan damai, minta perlindungan Rasulullah dengan perjanjian mereka diizinkan mengelola perkebunan Fadak dengan bagi hasil. Rasulullah menyetujuinya dengan ketentuan setiap saat kaum muslim menghendaki mereka harus meninggalkan Fadak.

Setelah semua urusan dengan Khaibar dan Fadak tuntas, 05.007 H. Rasulullah dengan rombongannya berangkat ke Wadil Qura. Rasulullah mengepung Wadil Qura. Rasulullah mengumumkan agar Yahudi Wadil Qura menjadi mukmin. Mengimani; tidak ada Tuhan selain Allah, tidak mensekutukannya dengan sesuatu, serta mengimani Muhammad adalah Rasul Allah. Barang siapa yang menjadi mukmin jiwa dan hartanya aman.

Seruan Rasul tersebut, ditolak Yahudi Wadil Qura. Mereka menghujani pasukan Muhammad dengan anak panah. Mereka menawarkan perang tanding satu lawan satu. Jagoan Wadil Qura dibunuh oleh jagoan Muslim Zubair. Jagoan kedua dibunuh oleh Ali dan jagoan ketiga dibunuh oleh Abu Dujanah. Sampai sebelas jagoan Wadil Qura yang dibunuh oleh jagoan Muslim. Selanjutnya pertempuran berjalan sampai sore. Kota benteng Wadil Qura dikuasai oleh kaum Muslimin.

Mendengar berita itu, kota benteng Taima menyerah dengan damai. Mereka memohon perjanjian damai mengacu kepada perjanjian Fadak. Usul mereka diterima Rasulullah.
Sebelum meninggalnya Rasulullah berkata; Jazirah Arab tak boleh ditempati oleh orang yang beragama selain Islam, termasuk Yahudi. Di zaman khalifah Umar bin Khattab Yahudi diharuskan berangkat dari Khaibar dan Fadak. Mereka pindah ke Adriat, Wadil Qura dan Taima.

Penulis:
~ Asbir Dt. Rajo Mangkuto
~ Gambar oleh guillermo gavilla dari Pixabay

Advertisement
Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Baruak Paumbuk

Baruak rancak itu mengendap-endap turun dari dahan bareco, melosoh dan batonggok di pematang sawah milik Buyuang Tabuang.
Baruak Paumpuk - Gambar oleh Michael Mürling dari Pixabay