Trump Dorong Kebangkitan Industri Minyak Venezuela

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk menghidupkan kembali industri minyak Venezuela doc. White House

Washington – bakaba.co | Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk menghidupkan kembali industri minyak Venezuela dengan membuka akses bagi perusahaan-perusahaan energi AS. Langkah tersebut disebut bertujuan memanfaatkan potensi minyak Venezuela sebagai sumber pendanaan untuk pemulihan ekonomi negara itu, yang selama puluhan tahun mengalami kemerosotan akibat instabilitas politik dan kebijakan nasionalisasi.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu. Pemerintah Venezuela sebelumnya mengklaim negara itu memiliki cadangan minyak sekitar 303 miliar barel, setara dengan sekitar 17 persen pasokan minyak dunia.

Produksi Minyak Venezuela Terjun Bebas

Produksi minyak Venezuela mengalami penurunan tajam sejak mencapai puncaknya pada 1997. Pada 2024, produksi hanya mencapai sekitar 900 ribu barel per hari, atau sekitar 6 persen dari total produksi minyak Amerika Serikat.

Dampak Nasionalisasi Berulang

Industri minyak Venezuela telah dua kali dinasionalisasi. Nasionalisasi pertama terjadi pada 1976, kemudian kembali dilakukan pada 2007 di era Presiden Hugo Chavez. Kebijakan tersebut menyebabkan aset perusahaan minyak asing disita, termasuk milik ExxonMobil, Chevron, dan Shell.

Baca juga: Shell Indonesia Bantah Isu Penutupan Seluruh SPBU di Indonesia

Saat itu, perusahaan-perusahaan asing yang menyumbang lebih dari 70 persen produksi minyak Venezuela diperkirakan kehilangan aset senilai miliaran dolar. Dampak nasionalisasi tersebut mempercepat kemunduran industri energi negara itu.

Kondisi Infrastruktur Migas Memburuk

Perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA, dinilai gagal meningkatkan produksi akibat keterbatasan modal dan keahlian. Lembaga riset energi berbasis di London, Energy Aspects, menyebut ladang minyak negara latin ini mengalami kerusakan parah akibat kurangnya pengeboran, infrastruktur usang, pemadaman listrik, serta pencurian peralatan.

Biaya Pemulihan Sangat Besar

Energy Aspects memperkirakan peningkatan produksi sebesar 500 ribu barel per hari membutuhkan waktu dua tahun dengan biaya sekitar 10 miliar dolar AS. Meski demikian, angka tersebut masih belum cukup membawa Venezuela masuk jajaran 10 produsen minyak terbesar dunia.

Perusahaan Energi AS Masih Waspada

Chevron saat ini menjadi satu-satunya perusahaan minyak Amerika Serikat yang masih diizinkan beroperasi di negara bekas jajahan Spanyol ini. Perusahaan tersebut menghasilkan lebih dari sepertiga total produksi minyak negara itu.

Kekhawatiran Stabilitas Politik

Sejumlah perusahaan energi AS menunjukkan sikap hati-hati untuk kembali berinvestasi. ConocoPhillips, yang asetnya disita pada 2007, menyatakan masih memantau perkembangan situasi dan menilai terlalu dini untuk memastikan rencana investasi.

Para pengamat menilai ketidakstabilan politik, sejarah penyitaan aset, serta kondisi keamanan menjadi faktor utama yang membuat investor ragu. Selain itu, karakteristik minyak Venezuela yang lebih berat dibanding minyak global membutuhkan teknologi khusus dan investasi besar.

Tantangan Politik dan Investasi

Para pengamat bidang energi dan keuangan juga menyebut bahwa meski negara pendiri OPEC ini memiliki cadangan minyak melimpah, perusahaan migas membutuhkan kepastian hukum dan stabilitas politik sebelum menanamkan modal. Pemerintahan Trump mendorong perusahaan minyak AS untuk mengucurkan investasi besar guna memodernisasi industri energi Venezuela agar kembali produktif.

kdi | bkb
*Foto Doc. White House