Home > Opini > Terpenjara Rezim Ilmiah

Terpenjara Rezim Ilmiah

Gambar oleh oscar h dari Pixabay
Bagikan
  • 11
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

~ Dr. Emeraldy Chatra

Marco Ruggiero, seorang ahli biologi molekuler dari University of Florence diselidiki oleh universitas karena mengajarkan bad science kepada mahasiswa. Ia menulis dan mengatakan bahwa HIV/AIDS itu hanya propaganda, bukan sebuah kebenaran. Ia juga membimbing mahasiswa program doktor yang menulis disertasi tentang kebohongan teori HIV/AIDS.
(lihat https://debunkingdenialism.com/2012/03/22/hiv-aids-denialist-marco-ruggiero-under-investigation/ )

Marco Ruggiero diketahui berteman baik dengan Dr. Peter Duesberg, ahli biologi molekuler dari University of California. Duesberg adalah tokoh paling penting di balik gerakan denialism yang menolak klaim-klaim tentang HIV/AIDS yang disampaikan di forum-forum dunia, baik di universitas maupun badan-badan negara yang mengurusi kesehatan. “AIDS is purportedly caused by a combination of recreational drugs, anti-HIV drugs, and malnutrition, ………. HIV is neither necessary nor sufficient to cause AIDS”.

Pendapat Duesberg dan kawan-kawan kemudian direspon oleh Doctors for Disaster Preparedness, sebuah kelompok pakar dan aktivis beranggota lebih 30.000 orang yang menolak klaim-klaim tentang lingkungan (seperti global warming, kerusakan ozon) dan pengobatan (seperti vaksin).

Gerakan kaum denialis tidak hanya sebatas wacana akademik, tapi sudah meluas ke dunia politik. Thabo Mbeki, tokoh penting Afrika Selatan yang pernah menjadi presiden negara itu menjadi corong politik penting gerakan kaum denialis. Ia berargumen isu HIV/AIDS hanya cara industri farmasi mengeruk keuntungan dari obat-obatan.

Dapat diduga, siapa pun yang menolak “kebenaran” teori HIV/AIDS akan dibully habis-habisan oleh para pendukung teori HIV/AIDS. Dibunuh karakternya. Mbeki dituduh bertanggungjawab atas kematian ribuan orang di Afrika Selatan karena ia menolak pemberian obat yang berasal dari AS.

Tapi Mbeki menolak dan mengatakan, mereka –para korban– bukan penderita HIV, tapi TBC. Untuk apa diberi azidothymidine (AZT), yaitu pengobatan antiretroviral kalau bukan penderita HIV?

Bagi kita yang bukan ahli di bidang biologi, virologi, atau bidang-bidang yang terkait dengan kesehatan, kontroversi HIV/AIDS ini tempatnya ada pada wacana relasi kuasa (power relations), yaitu hubungan antar kelompok hegemonik dengan subordinat yang menunjukan resistensi. Demikian pula wacana global warming, ruang angkasa, satelit, kerusakan ozon, vaksin, rokok –yang semuanya didakwa sebagai teori-teori palsu oleh kelompok subordinat atau kaum denialis.

Mereka mengatakan, semuanya sebagai Teori Konspirasi, teori yang dibuat untuk membohongi dunia demi mendapatkan keuntungan finansial bagi The Global Elites, sang hegemonik. Media dan kecanggihan praksis propaganda menjadi andalan para pembuat teori-teori palsu tersebut. Sasarannya adalah warga dunia yang bisa dibius dengan pesan media, tak peduli apa pun pendidikan dan jabatannya.

Bagi ilmuwan sosial tentu sulit untuk menakar kebenaran kedua pihak yang berseteru karena menyangkut kepakaran dalam bidang-bidang yang spesifik. Namun dari perseteruan itu kita dapat memetakan sebuah hubungan yang tampak sangat timpang.

The Global Elites yang hegemonik adalah kelompok yang digdaya dengan kekuatan ekonomi dan menguasai instrumen kontrol atas kesadaran manusia, yaitu media, lembaga-lembaga riset dan perguruan tinggi. Mereka menguasai jaringan perbankan yang menyediakan dana miliaran dollar AS untuk mewujudkan keinginan menguasai dunia.

Di belakang aksi-aksinya di dunia ada lembaga riset yang sudah bekerja sekitar 60 tahun, yaitu Rand Corporation. Tidak sedikit pakar-pakar dari perguruan tinggi di dunia, termasuk Indonesia, yang menjadi perpanjangan tangan mereka.

Semua basis kekuatan itu akhirnya membentuk sebuah rezim ilmiah yang dapat membuat siapa saja yang menentang jadi depresi atau terbunuh karakternya, seperti yang dialami Marco Ruggiero.

Di pihak lain ada kelompok subordinat yang ogah ditundukkan. Alih-alih menyerah begitu saja, mereka justru membangun jaringan komunikasi di tataran global untuk menghadang kekuatan rezim ilmiah yang sudah malang melintang selama bertahun-tahun.

Kelompok manakah akhirnya yang jadi pemenang? Jangan lupa, dulu gereja juga hegemonik dan memaksa para ilmuwan tunduk kepadanya. Namun dominasinya berhasil diruntuhkan. Akankah kekuatan rezim ilmiah yang diback-up sekaligus bekerja untuk The Global Elites bisa pula dilumpuhkan?

Mari kita saksikan pertunjukan ini. Tapi sebaiknya kita pun mengambil satu posisi, agar tidak hanya tercatat menjadi penonton dalam sejarah pergulatan supremasi ilmu pengetahuan.*

*Penulis, Dosen FISIP Universitas Andalas
**Gambar oleh oscar h dari Pixabay


Bagikan
  • 11
  •  
  •  
  •  
  •  
  •