Tegar dengan Tawakal

redaksi bakaba

Bertawakal dengan berserah diri kepada-Nya bukan berarti malas dan berdiam diri. “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah,” kata Rasullah Shallaallaahu ‘alaihi wa sallam saat menasehati seorang pria.

Bagikan
  • 82
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
tawakal - Image by Konevi from Pixabay
Image by Konevi from Pixabay
Buya Irwandi
Buya Irwandi

Tawakal – Lelaki itu tak pernah membayangkan jika kehilangan enam anaknya dalam tempo dua hari. Jamhamid, nama ayah yang tegar itu. Kisah hidupnya pernah saya baca di salah satu majalah terbitan ibu kota. Pria asal Semarang itu bertahan menafkahi isteri dan enam anaknya dengan pekerjaan hanya sebagai buruh.

Kemiskinan telah memaksa dirinya dan keluarga memakan ampas singkong untuk kemudian dibuat tiwul sebagai pengganti nasi. Lembaran pilu itu bermula saat putri sulungnya diduga mengalami keracunan makanan. Hanya semalam dirawat di rumah sakit, putrinya menghembuskan nafas. Sehari setelah pemakamannya, lima orang anaknya secara bersamaan juga mengalami peristiwa yang sama. Hanya dalam satu hari, semua buah hatinya dipanggil oleh Yang Maha Pencipta.

Jamhamid pasrah. Ia menuturkan, jika hidupnya hanya mengikuti nasib. Jika semua berakhir tragis, ia terima karena itulah nasibnya.

Menjaminkan Diri pada Al-Wakiil

Kisah Jamhamid mengajarkan kita sesuatu yang disebut ujian hidup. Kehidupan dan kematian merupakan arena ujian bagi manusia (QS.67, al-Mulk:1-2). Pada setiap tarikan nafas ada banyak hal yang menggiring kita untuk takut menghadapi ujian kehidupan. Orang tua yang kaya takut tentang masa depan anak-anaknya jika mereka jatuh miskin. Orang tua yang cerdas juga takut akan kemampuan buah hatinya. Orang tua yang miskin juga takut akan kehidupan anak-anaknya kelak. Orang tua yang punya puteri takut jika anak perempuannya tak menemukan jodoh. Juga ketakutan jika kita sewaktu-waktu diserang penyakit mengerikan. Lebih dari apa yang menjadi alasan kita untuk takut dan aman, yang terpenting adalah kesadaran hati jika kehidupan ini adalah milik Allah. Allah yang memelihara, mengatur, dan menjalankannya.

Apa pun yang menyangkut kehidupan ini berada dalam ketetentuan-Nya. Keindahan hidup akan dirasakan manakala dengan ikhlas kita mengikuti segala ketentuan-Nya. Ikhlas mengikuti ketentuan Allah Ta’ala adalah usaha kita mencari jaminan Allah Ta’ala.

Jaminan itu kita cari sebab arah perjalanan hidup ini tak ada yang lebih tahu kecuali Dia. Jaminan itu juga kita cari sebab hakikatnya kita tak memiliki apa-apa dan hanya Dia yang Maha Kaya (QS.35, Fathir: 15-17). Kita menjaminkan diri kepada Allah karena hakikatnya kita fakir. Apa yang kita miliki tak satu pun yang kekal.

Baca juga: Jiwa-Jiwa yang Kembali

Manusia tak akan pernah lari dari kenyataan bahwa akan ditimpa kesulitan silih berganti. Karenanya, seperti yang diriwayatkan al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’d, Rasulullah SAW pernah meilustrasikan kehidupan manusia dengan menggambar garis berbentuk kotak persegi empat. Lalu membuat garis di tengahnya, memanjang keluar dari kotak yang ada. Setelah itu, beliau menggambar lagi garis-garis kecil di atas garis panjang tersebut yang juga dibuat melintang di atas garis kotak. Kemudian beliau menjelaskan, “Inilah manusia (sambil menunjuk ke garis panjang), dan yang ini (sambil menunjuk ke kotak) adalah ajal yang meliputi dirinya. Sementara garis-garis kecil ini adalah sesuatu yang datang silih berganti. Jika yang satu lepas, maka yang lain akan menimpanya.”

Kesulitan yang silih berganti membuat manusia selalu dikepung oleh perasaan cemas dan kuatir. Hingga depresi dikukuhkan oleh para ahli sebagai pembunuh nomor dua setelah penyakit jantung di negeri ini. Karenanya, jaminan untuk meraih perlindungan hanya dengan jalan ber-tawakal kepada-Nya. Bahkan, salah satu nama terindah-Nya adalah al-Wakiil. Al-Wakiil adalah dZat yang dengan kasih sayang-Nya mengatur secara sempurna segala urusan hamba-hamba-Nya. Allah sebagai al-Wakiil tak pernah menelantarkan hamba-Nya (QS.65, ath-Thalaq:3).

Tawakal dengan berserah diri kepada-Nya bukan berarti malas dan berdiam diri. “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah,” kata Rasullah Shallaallaahu ‘alaihi wa sallam saat menasehati seorang pria.

Tawakal adalah urusan keyakinan bahwa tak ada pengetahuan yang melebihi pengetahuan-Nya. Tak ada kemampuan yang melebihi kemampuan-Nya. Kita awali ikhtiar kita dengan keyakinan seperti itu, lalu berikhtiar dan mengakhiri dengan menyerahkannya kepada Allah. Sufi terkemuka, Ibnu ‘Athailah, dalam kitabnya Al Hikam berpesan: Istirahatkanlah dirimu dari ikut mengatur urusanmu, sebab apa yang telah diurus untukmu oleh selainmu tak perlu lagi kau turut mengurusnya.

Jangan kita meragukan kekuasaan Allah atas yang sesungguhnya telah diurus oleh-Nya. Wallahu a’lam. []

~ Penulis, Dosen IAIN Bukittinggi, E-mail: irwandimalin@gmail.com
~ Image by Konevi from Pixabay 

Bagikan
  • 82
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Masalah Pasar Atas: Jebakan Batman untuk Pedagang

"Begitu diteken, isi perjanjian toko sewa murni, dan kartu kuning ditarik Pemda, semuanya langsung berubah. Hak dasar pedagang lama hilang selamanya. Jadilah pedagang biasa, yang menyewa toko saja lagi."
Jebakan Batman, Pedagang Pasar Atas di DPRD Bukittinggi