Tauhid Kepemimpinan dalam Melawan Covid-19

redaksi bakaba

Disparitas kesejahteraan antara pejabat negeri dengan masyarakat yang menganga dengan luas itu, menjadi potensi terciptanya sikap syirik yaitu perlawanan.

Bagikan
  • 44
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Raam Gottimukkala dari Pixabay
Gambar oleh Raam Gottimukkala dari Pixabay
Irwan, S.H,I.,M.H
Irwan, S.H,I., M.H

~ Irwan Rajo Basa

DALAM kegalauan situasi akibat Covid-19, subjektifitas kita terhadap karakter kepemimpinan semakin tinggi, baik di desa, kabupaten/kota, provinsi maupun pusat. Sebab, tidak ada orang yang senang dengan tekanan ketidakpastian, apalagi serangan Covid-19 yang tidak menentu, dapat menyerang siapa saja.

Indonesia, tidak kali ini saja diserang oleh berbagai virus. Banyak virus dan penyakit yang pernah hadir di negeri ini, mulai dari kolera, kusta, campak, MERS, SARS, flu burung, TBC dan sebagainya. Semuanya menjadi wabah di tengah-tengah masyarakat kita, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Pandemi Covid-19 ternyata tidak saja berdampak terhadap ujian ketahanan sistem kesehatan kita. Akan tetapi juga merambah masuk ke dalam wilayah religiusitas yang membatasi umat beragama. Umat Islam dibatasi untuk berkumpulan dalam jumlah banyak, akibatnya shalat jama’ah dan jum’at tidak dapat dilaksanakan. Demikian juga kegiatan di gereja di setiap hari Minggu, gereja ditutup, kegiatan kebaktian ditutup.

Dalam kondisi seperti ini, banyak masyarakat kemudian menggugat fatwa ulama terkait dengan kebijakan mengganti shalat Jum’at dengan shalat dzuhur. Bahkan, dengan semangat ke-Tuhanan, sebagian umat Islam tetap memaksakan diri untuk melaksanakan shalat Jum’at dengan alasan, kematian adalah ketentuan Tuhan.

Dengan kondisi simpang-siur dan serba ketidakpastian, ditambah lagi dengan ketiadaan jaminan kapan dan apa obat Covid-19, tanpa terasa tingkat stres masyarakat semakin tinggi. Physical distancing menuntut warga untuk menjaga jarak fisik satu sama lain dan tinggal di rumah sesering mungkin untuk membantu menghentikan penyebaran virus corona, agar kemudian social distancing benar-benar dapat dilaksanakan. Puncak semua itu adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Baca juga: Covid-19: PSBB Sumbar Rabu ini Diberlakukan

Dari semua kaidah pencegahan tersebut, konsepsi kepemimpinan tauhid perlu untuk dipertimbangkan. Sebab, dalam situasi yang serba tidak menentu, lapar dan kemiskinan semakin meningkat, maka kesabaran setiap orang akan berbeda-beda menghadapi apa yang sedang terjadi. Disparitas kesejahteraan antara pejabat negeri dengan masyarakat yang menganga dengan luas itu, menjadi potensi terciptanya sikap syirik yaitu perlawanan.

Seorang pemimpin dituntut untuk menutup peluang terjadinya penduaan kepercayaan. Sebab, penduaan kepercayaan berpotensi menghilangkan kesadaran masyarakat terhadap kepatuhan, ketaatan dan kepengikutan dengan baik kepada pemimpin.

Oleh karena itu, ketangguhan dan kekonsistenan seorang pemimpin, sebagai bentuk dari sikap tauhid dalam memanajemeni pandemi Covid-19 akan sangat membantu dalam menciptakan situasi yang tunggal (esa), berupa kepatuhan, ketenteraman, keyakinan, dan sikap menahan diri dari segala sesuatu yang berpotensi chaos.

Pemimpin harus memberikan kepastian one correct information. Apa yang terjadi sebenarnya. Sejauh mana langkah-langkah yang sudah diambil serta kebijakan strategis apa yang dilahirkan untuk mencegah Covid-19. Semuanya sangat menentukan terhadap penciptaan situasi yang lebih baik dan membangun ekspektasi masyarakat.

Sikap syirk (informasi ganda) atau kufr (menutup informasi) akan menjadi dilematis bagi masyarakat. Masyarakat butuh hidup amaliyah sebagai kongretisasi kewajibannya kepada keluarga dan Tuhan. Atau dalam adagium masyarakat “dari pada berkelahi dengan kelaparan, lebih baik berkelahi dengan orang”. Artinya, syirk dan kufr berpotensi membuat akal sehat orang menjadi hilang, dan pada akhirnya, Tauhidnya menjadi rusak.

Di sinilah, pada akhirnya, artikulasi Tauhid seorang pemimpin diimplementasikan dan di kongkretkan, Covid-19 hanya sebagai syethan (batu uji) untuk mengukur tingkat ketauhidan seorang pemimpin dalam mengelola potensi-potensi syathaniyah merusak tatanan cosmologis masyarakat kita.

Jika pemimpin benar-benar ber-Tauhid, maka badai pasti berlalu. Akan tetapi, sebaliknya jika pemimpin gagal memperkuat artikulasi Tauhidnya di hadapan masyarakat, maka kita kembali dalam posisi asfala safilin.

~ Penulis, Advokat & peneliti pada Lembaga Portal Bangsa.
~ Gambar oleh Raam Gottimukkala dari Pixabay

Bagikan
  • 44
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Wakil Walikota Bukittinggi Diisolasi

Informasi yang membuat heboh Kota Bukittinggi itu berawal dari dilakukannya Rapid Test Corona terhadap para pejabat kota oleh Dinas Kesehatan Kota (DKK).
Petugas lakukan disinfektan di rumah dinas Wakil Walikota Bukittinggi. Foto: Istimewa