Home > Literasi Media > Tantangan Menuju Mitigasi Bencana Komunikasi

Tantangan Menuju Mitigasi Bencana Komunikasi

Gambar oleh Pete Linforth dari Pixabay
Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

emeraldy-chatra-facebook-bakaba.co
Dr. Emeraldy Chatra

KEMAJUAN teknologi komunikasi telah membuka sekat-sekat komunikasi yang terjadi dalam masyarakat dunia selama berabad-abad karena keterbatasan peralatan. Sekarang berkat penemuan yang spektakuler umat manusia sudah dapat berkomunikasi langsung dalam jarak yang tak terbayangkan antara 100 hingga 50 tahun yang lampau.

Banyak sekali kemudahan yang diberikan kepada masyarakat berkat penemuan-penemuan teknologi komunikasi berbasis internet. Masyarakat kini dapat melakukan video call dengan biaya murah, menonton video melalui channel youtube.com sepuas-puasnya, menjual barang atau melakukan reselling barang-barang yang dibutuhkan pasar, membeli tiket dengan harga murah, mendapatkan diskon sewa hotel, menikmati fasilitas transportasi online, berkenalan dengan tokoh-tokoh masyarakat, artis, dan lain sebagainya.

Komunikasi berbasis internet mengantarkan manusia pada pola interaksi yang sangat dinamis, menjadikan dunia seakan mengkerut, dan negara menjadi borderless. Dalam waktu singkat bumi berubah menjadi seperti yang dikatakan Marshal McLuhan: a Global Village (Rivera-Santos & Rufın: 2010; Kim & Hubbard, 2007; Ger, 1999).

Pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa kini umat manusia sudah mencapai puncak peradabannya mungkin juga benar, meskipun sebagian lagi meragukannya. Mereka yang ragu menganggap pencapaian manusia sekarang ini baru ibarat mencapai lereng gunung. Belum sampai di puncak. Artinya, akan muncul penemuan-penemuan yang lebih spektakuler dibandingkan sekarang. Penemuan itu membuat komunikasi lebih mudah lagi.

Pengagum teknologi pasti berdecak kagum menyambut berbagai penemuan baru di bidang komunikasi. Namun barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa diam-diam perkembangan teknologi komunikasi juga menyertakan bencana sosial, social disaster yang lebih spesifik, yaitu bencana komunikasi, communication disaster.

Tulisan ini berusaha menguraikan munculnya bencana komunikasi di tengah masyarakat kita, yang menantang para akademisi dan pakar komunikasi memikirkan langkah-langkah mitigasinya.

Bencana Komunikasi

Bencana komunikasi adalah bagian dari bencana sosial. Bencana sosial itu saya definisikan sebagai disrupsi akibat proses perubahan sosial yang sangat cepat sehingga menyebabkan manusia menjadi kehilangan arah dalam hidupnya, kehilangan nilai-nilai budaya yang telah bertahan sejak ratusan bahkan ribuan tahun, tak sanggup lagi mempertahankan prinsip-prinsip dasar hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan dimana-mana terjadi dehumanisasi. Manusia kehilangan esensi, karena dominasi kekuasaan atau teknologi.

Sementara bencana komunikasi adalah disrupsi yang disebabkan terjadinya perubahan pola-pola komunikasi yang sangat cepat di tengah masyarakat. Penyebab disrupsi itu sendiri adalah perkembangan teknologi komunikasi.

Perubahan disruptif itu tidak memberi waktu luang yang cukup bagi manusia untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian pikiran dan prilaku di tengah benturan antara inovasi, nilai-nilai budaya, regulasi-regulasi yang dibutuhkan dalam kehidupan kolektif dan adanya kecenderungan disorientasi dalam tujuan hidup, seksualitas, kejujuran, ketaatan, dan berbagai definisi-definisi sosial.

Bencana komunikasi hari ini ditimbulkan oleh perkembangan teknologi yang telah dapat menyediakan piranti komunikasi berkualitas tinggi dan berbiaya murah untuk masyarakat dunia. Bila dulu untuk melakukan pembicaraan via telepon antar negara sangat mahal, sekarang jauh lebih murah.

Akses ke dunia informasi pun semakin terbuka. Petani di perdesaan sudah mempunyai gawai untuk melakukan transaksi, mencari informasi baru, atau ‘hadir’ dalam forum-forum diskusi dunia maya yang diikuti berbagai kalangan. Anak-anak muda kreatif pun sekarang dapat meraup jutaan bahkan miliaran rupiah dari kanal video youtube.com bila kontennya mampu menarik ratusan ribu hingga jutaan subscriber.

Bila kita buat, sungguh akan sangat panjang daftar keuntungan yang diperoleh masyarakat berkat penemuan teknologi komunikasi. Namun setiap inovasi selalu menyisakan dampak-dampak buruk, bahkan dapat menciptakan bencana kemanusiaan. Sisi buruk ini cukup jarang dan kurang menarik diwacanakan, padahal sangat penting diwaspadai karena berpotensi menghancurkan segenap keuntungan yang diperoleh dari inovasi tersebut.

Kemudahan mengakses informasi berjalan seiring dengan kemudahan menjajakan komoditas. Kini banyak tersedia informasi yang menunjang proses produksi, dengan mudah dapat diperoleh, dan banyak pula produk lokal yang dapat dijual secara daring di dalam negeri maupun manca negara.

Akan tetapi, sisi buruknya, banyak pula kesempatan menjual barang-barang haram, seperti menjual diri untuk pelayanan seksual. Penelitian Farley di AS, beberapa negara di Eropa Barat dan Afrika tahun 2011 menunjukkan terjadinya peningkatan intensitas bisnis pelacuran yang difasilitasi oleh internet atau cyber-prostitution (Bennetts, 2011; Goldmann, C. 2011; Shively, et al. 2012).

Data yang handal untuk perkembangan kasus cyber-prostitution di Indonesia belum saya dapatkan ketika menulis artikel ini, namun diperkirakan juga terjadi peningkatan yang signifikan mengingat makin banyaknya masyarakat yang menggunakan internet. Internet mempermudah aktivitas penawaran dan permintaan terhadap jasa pelacur, cyber-whore.

Melalui jaringan internet dapat pula dijual aneka permainan judi dan gagasan-gagasan dan tawaran gaya hidup yang dapat merusak pikiran manusia. Salah satu di antaranya adalah penyebaran paham homoseksual oleh kelompok LGBT, yang mendorong terjadinya pertumbuhan populasi kaum homoseksual secara signifikan.

Beratus-ratus situs online yang dibuat oleh kaum homoseksual telah memicu terjadinya perubahan orientasi seksual, terutama di kalangan muda. Dari perspektif ilmu komunikasi perubahan itu dapat disebut sebagai bencana komunikasi. Sebab sebelum internet digunakan oleh masyarakat dunia pertumbuhan populasi kaum homoseksual masih sangat lambat.

Pertumbuhan luar biasa populasi gamers (pemain online) dan online gamblers (pejudi online) di dunia juga sangat signifikan sejak internet digunakan. Industri yang memproduksi software dan menjadi operator games online pun bertumbuhan di berbagai negara. Dari sisi ekonomi tentu saja dapat dianggap menguntungkan karena jutaan gamers merupakan sumber finansial yang menarik bagi industri game online maupun operator telepon seluler.

Akan tetapi jangan lupa, games online adalah ‘mendekati judi’ dan ‘benar-benar judi’. Sebagian games memang tidak disertai pertaruhan, hanya sekedar menjadi kegiatan leisure time atau killing time bagi warga. Namun mereka sedang dalam proses untuk masuk ke arena judi.

Banyak orang memang tidak berjudi dengan games itu, tapi mereka menderita kecanduan, layaknya orang kecanduan narkotika. Mereka menghabiskan terlalu banyak waktu untuk games, dan kehilangan momen produktif yang lebih bermanfaat. Sebagian berubah menjadi sangat soliter secara sosial, kurang tidur, makan tidak teratur, dan tidak berselera memikirkan apa yang terjadi di lingkungan mereka karena terlalu asyik dan tenggelam dalam permainan.

Sebagai proses ‘mendekati judi’, potensi untuk benar-benar terjerumus ke dalam kegiatan perjudian menjadi lebih besar. Bagi masyarakat muslim bertumbuhnya populasi pejudi merupakan bencana karena merusak nilai-nilai yang anti perjudian yang selalu dipertahankan.

Perjudian dapat berimbas kepada buruknya hubungan antar pribadi, antar suami istri, orang tua anak, dsb. Kebangkrutan dan menumpuknya utang merupakan sisi buruk lain dari kebiasaan berjudi. Oleh sebab itu meluasnya kegiatan perjudian online dapat pula disebut sebagai bencana komunikasi.

Tantangan Mitigasi
Ilmu Komunikasi sudah digunakan dalam kegiatan mitigasi bencana alam, dikemas dalam kajian Komunikasi Kebencanaan (Disaster Communication), Komunikasi Darurat Bencana (Disaster Emergency Communication), Komunikasi Krisis dan Resiko Darurat (Crisis and Emergency Risk Communication – CERC), dsb. Intinya kajian tersebut bertujuan mengembangkan dan mengefektifkan penggunaan komunikasi mulai sejak mitigasi dan pencegahan dampak buruk bencana, persiapan menghadapi bencana, tahap merespon bencana hingga pemulihan keadaan setelah bencana.

Seperti halnya bencana alam, bencana komunikasi tidak mungkin kita elakkan. Tidak ada manusia modern yang bisa melarikan dari realitas komunikasi hari ini, kecuali orang yang mau kembali ke kehidupan primitif. Gadget sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mengonvergensi berbagai piranti yang sudah ada sebelumnya seperti telepon, surat kabar, televisi, buku, kitab suci, majalah, kamera foto dan kamera video, kompas, buku telepon, PC bahkan senter dan kamera. Kenyataannya gadget bahkan lebih penting daripada istri atau suami sekalipun. Tapi tak banyak yang menyadari bahwa posisi mereka dekat sekali dengan sumber bencana komunikasi.

Sekarang, ibarat bencana gempa, masyarakat kita baru mengalami tremor. Goncangan ringan dan belum begitu terasa. Tapi magnitude tremor ini akan terus membesar dan berubah menjadi bencana, seperti gempa dan tsunami. Orang yang tidak menyadari eskalasi guncangan akan terkaget-kaget ketika bencana besar itu datang.

Bayangkan bila suatu ketika uang digital sudah digunakan sedemikian rupa, tiba-tiba jaringan internet sengaja dimatikan oleh kekuatan tertentu. Tak ada lagi transaksi keuangan, bahkan untuk membeli makanan pun tidak lagi bisa. Dalam waktu singkat bencana kelaparan menghadang kita semua.

Menimbang besarnya bencana komunikasi yang akan kita hadapi, fokus kepada mitigasi menjadi sangat penting. Mitigasi adalah upaya mempersiapkan diri agar kerugian yang mungkin timbul ketika bencana datang dapat dikurangi.

Salah satu contoh mitigasi bencana komunikasi adalah tidak melupakan pengiriman pesan dengan jasa pos. Memang mengirim pesan via internet lebih praktis dan murah. Tapi kehadiran internet membunuh jasa pos, menutup kantor-kantor pos yang dicitrakan sebagai jadul, warisan masa lampau.

Bagaimana kalau jaringan internet tidak berfungsi karena faktor teknis atau kesengajaan? Saat itu orang terpaksa harus kembali menggunakan pesan tertulis dan pengiriman manual. Tentu akan rumit sekali kalau kantor pos sudah tidak ada.

Dengan contoh di atas terasa konsep mitigasi bencana komunikasi ini masih sangat sederhana dan layak untuk dipikirkan bersama pengembangannya oleh para ahli ilmu komunikasi. Kemudian dilanjutkan dengan membuat modul-modul, sosialisasi ke masyarakat dan mengembangkan konsep strategis yang mendorong keterlibatan pemerintah. Sebab perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat dilepaskan dari berbagai kebijakan pemerintah.

Penutup
Isu mitigasi bencana komunikasi yang saya paparkan dalam tulisan ini bertujuan mengingatkan semua kalangan bahwa kemajuan teknologi komunikasi mempunyai dua sisi yang sangat kontras. Di satu sisi ia menawarkan berbagai kemudahan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tapi di sisi lain ia juga berpotensi menjadi bencana komunikasi yang menyengsarakan, bahkan berpotensi membunuh peradaban manusia.

Namun konsep mitigasi bencana komunikasi masih sangat awal. Oleh sebab itu kita butuh kegiatan diskusi yang intensif dan upaya-upaya pengembangan konsep praxis yang dapat diterima oleh masyarakat. Tugas ini menjadi tanggungjawab para ahli ilmu komunikasi bersama-sama.(*)

*)Penulis, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Andalas – Padang

**)Gambar oleh Pete Linforth dari Pixabay


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •