Jurnalisme Lintang Pukang
Pada konteks ini informasi dicari, diolah, disiapkan, disiarkan hanya sekadar memuaskan ‘nafsu membunuh’ dari pada mendidik, menghibur, dan menjalankan kontrol sosial.
Pada konteks ini informasi dicari, diolah, disiapkan, disiarkan hanya sekadar memuaskan ‘nafsu membunuh’ dari pada mendidik, menghibur, dan menjalankan kontrol sosial.
Para kaum kolonial pada akhirnya harus melakukan upgrade diri dengan hal kekinian itu agar bisa survival dan kompetitif lagi. Saya memaksakan diri menyebut diri sebagai generasi milenial. Kalau Anda generasi apa? Kolonial?”
Pada sisi moral-etik, walau ada kebenaran pada suatu informasi itu, kadang-kadang ada yang tidak mungkin disampaikan. Kini, semua itu telanjang.
Media sosial kini dengan gampang telah merebut unsur-unsur berita (5 W + 1 H) dan sesegera mungkin mengabarkan ke lini massa. Media massa mengikutinya tanpa banyak bekerja, tanpa berpeluh mendalami pertanyaan “why” dan “how”.
Jurnalisme pada dasarnya adalah jalan juang untuk mengungkapkan kebenaran faktual. Kini itu pula yang dipermainkan segelintir orang yang tiba-tiba memakai jurnalisme sebagai alat kepentingan memelintir kebenaran.
Kejahatan publik itu dilakukan oleh penguasa. Perlu tenaga ekstra untuk melakukan kegiatan jurnalistik untuk mengungkapnya. Mereka yang memiliki perangkat kerja investigasi dengan menghasilkan indepth reporting, laporan mendalam, yang kuat akan bisa membuat penguasa itu tumbang.
Media cetak memang banyak yang sudah “gulung tikar” tetapi faktor penyebab tidak hanya karena kehadiran media online. Ada beberapa faktor lain, yaitu: manajemen yang buruk; tidak ada kreativitas menanggapi keadaan pasar;