Home > Opini > Sejarah Minangkabau dengan Metodologi Ilmu Pengetahuan

Sejarah Minangkabau dengan Metodologi Ilmu Pengetahuan

Θεσσαλονίκη_2014_(The_Statue_of_Alexander_the_Great)_-_panoramio
Bagikan
  • 32
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh Irwan, S.H.I., M.H.

Minangkabau sebagai sebuah kebudayaan, tumbuh dalam rentang sejarah yang cukup panjang. Dalam berbagai catatan, Minangkabau berasal dari Alexander The Great atau Iskandar Zulkarnain.

Runutan cerita yang terbangun dengan berbagai bukti-bukti sejarah, seperti nilai, budaya, pandangan hidup serta nama-nama orang dan tempat. Hal itu merangsang daya pikir kita untuk mengetahui bagaimana sebenarnya rangkaian cerita tersebut menjadi sebuah catatan yang dipandang oleh para penutur sejarah Kebudayaan Minangkabau merupakan peristiwa yang benar adanya.

Mengacu kepada pendapat Betrand Russell yang berhasil menguraikan Sejarah Filsafat Barat dalam karyanya History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day, mengatakan “ konsepsi-konsepsi tentang kehidupan dan dunia yang kita sebut “filosofis” dihasilkan oleh dua faktor.

Pertama konsepsi-konsepsi religius dan kedua, penelitian yang bisa disebut “ilmiah” dalam pengertian yang luas. Oleh karena itu, keutuhan sejarah Yunani dengan temuan-temuan mengenai matematika, ilmu pengetahuan dan filsafat. Menurut Russell, merekalah yang pertama kali menulis sejarah (history) yang berbeda dari sekedar tarikh (annals).

Lebih dari Kronologis
Sejarah apabila dilihat lebih dari sekedar anekdot atau kronologis, menurut Thomas S Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution, dapat menghasilkan transformasi yang menentukan dalam citra sains yang merasuki kita sekarang. Citra yang dibuat oleh para ahli terkait dengan upaya mengungkap fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang tergambar dalam rangkaian peristiwa dengan menghadirkan sebuah gambaran atau lukisan yang dapat ditangkap maknanya oleh para pecinta lukisan.

Demikian juga dengan sejarah Minangkabau, citra yang terbangun yang disusun oleh para penulis sekalipun secara lisan, berhasil mewujudkan sebuah gambaran yang lengkap dan utuh mengenai masa lalu, dengan menghadapi kesulitan-kesulitan membuktikannya dalam kerangka ilmiah ilmu pengetahun modern dewasa ini

Namun, proses penggambaran secara sistematik itu sendiri, setidak-tidaknya telah memberikan sebuah mozaik yang dapat dipahami mengenai kehadiran dari apa yang menjadi cerita dan tulisan para penulis tambo terkait dengan asal mula masyarakat dan kebudayaan Minangkabau.

Berbagai penemuan oleh para penulis tentang kebudayaan Minangkabau, dengan pengungkapan historiografii yang dimulai semenjak zaman Iskandar Zulkarnaen sejatinya tentu mesti di dukung oleh prosedur-prosedur eksperimental yang profesional sehingga fakta-fakta yang diungkap itu menjadi sebuah temuan dengan akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sekalipun penemuan itu lebih dominan melalui literasi yang berantai dari generasi ke generasi, pertanggungjawaban metodologis tentu niscaya agar fakta-fakta yang diungkap itu dapat dianalisis dengan prosedur ilmiah yang sah dan capable.

Banyak dari sisi sejarah kebudayaan Minangkabau yang mesti dipertanyakan agar otentisitas rangkaian peristiwa budaya itu benar-benar berada dalam kebudayaan Minangkabau itu sendiri. Bukan sebaliknya, merupakan caplokan yang dipaksakan untuk membangun argumen kebenaran terhadap proses perjalanan terbentuknya Minangkabau.

Sejarah terbentuknya nilai, budaya, pandangan, cara hidup, filsafat pemikiran, dan gagasan-gagasan yang timbul dari perspektif masyarakat serta tokoh-tokoh yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah atau yang berperan membentuk sejarah.

Tak Sekedar Masa lalu
Minangkabau dengan demikian bukan sekedar “masa lalu” yang lahir begitu saja. Dan kemudian mengisi masa lalunya dengan berbagai “dongeng-dongeng” metafisis yang a historis sehingga tidak mungkin untuk dilacak validasinya dalam rangkaian sejarah dunia.

Membaca sejarah Minangkabau dan berbagai produk-produk sosial, politik, hukum, filsafat dan pemikirannya tentu akan menemukan kesulitan ketika digunakan pendekatan prosedur verifikasi yang oleh Karl R. Ropper tidak diakui sama sekali. Sebab, pendekatan prosedur verifikasi sering gagal mengungkap substansi dan rangkaian pemikiran yang saling terhubung secara sistematis dan esensialnya.

Oleh karena itu, membaca sejarah Minangkabau diperlukan konstruksi falsifikasi dan filosofi agar hal-hal yang dianggap tidak mungkin dan linear itu dapat dipertemukan pada tataran logika inkuiri serta argumen dan kontra argumen

Lantas bagaimanakah kemudian upaya pengonstruksian terhadap sejarah Minangkabau, sehingga sejarah yang kemudian berhasil melahirkan pandangan hidup, filsafat dan gagasan-gagasan pemikiran orisinil itu benar adanya.

Sebab, rangkaian sejarah pemikiran science di Yunani yang amat jauh itu ternyata melalui catatan-catatan para pemikirnya, mulai dari Pythagoras sampai Protagoras serta Socrates sampai Plotinus, cukup banyak dihadirkan gagasan-gagasan dan pemikiran terkait dengan filsafat dan alam semesta.

Rangkaian Sistemik
Sejarah masa Pythagoras sampai Plotinus yang kemudian menjadi inspirasi teoritis bagi para ahli filsafat berikutnya sampai zaman modern, terlihat adanya rangkaian sistemik yang pro dan kontra argumen di antara para ahli tersebut.

Pengalaman-pengalaman uji analisis argumentasi itu tentu menjadi alasan kuat mengenai adanya gagasan dan pemikiran filosofi yang terus tumbuh sehingga uji orisinalitas terus berlangsung sampai lahirnya produk-prouduk teknikal dari gagasan-gagasan para filosof.

Uji kritik terhadap budaya Minangkabau tentu mesti dilakukan agar proses pembentukkan ilmu pengetahuan, atau minimal, penerapan nilai yang oleh generasi modern dewasa ini dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan pertanggungjawaban itulah, nilai, pemikiran, filsafat di lingkungan budaya Minangkabau dapat dikategorikan sebagai produk yang benar-benar lahir dalam karakter Minangkabau.

Di sinilah kemudian, kita berkepentingan untuk membaca sejarah kebudayaan Minangkabau dengan menggunakan metodologi ilmu pengetahuan, agar bacaan terhadap nilai, pemikiran dan filsafat itu tidak sebatas histori semata, melainkan menjadi i’tibar yang dengan itu dapat dihantarkan peradaban Minangkabau ke dalam pergulatan kebudayaan dunia yang terus berkembang.

Minangkabau oleh karenanya dapat dikategorikan sebagai salah satu dari bentuk peradaban, sebagaimana peradaban Yunani, Eropa, Mesir, China, dan Arab.

*Penulis, Peneliti pada PORTAL BANGSA
** Gambar fitur oleh Nikolai Karaneschev – CC BY 3.0


Bagikan
  • 32
  •  
  •  
  •  
  •  
  •