Home > Kakobeh > Sanduak Pambao Kuah

Sanduak Pambao Kuah

Sanduak - R - bakaba.co
Bagikan
  • 48
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Balai Kamih, siang itu riuh oleh suara penjual dan pembeli yang bersikukuh dalam tawar menawar mereka. Terdengar juga gemeretak roda pedati yang menerjang bebatuan di jalanan, derit roda bendi yang berkeriut akibat sumbunya tak dilumasi. Semua keriuhan berbaur dengan desau angin dan dentang sanduak Kak Ijuh, si penjual gulai kapau (gulai khas Nagari Kapau, gulai ini memiliki perbedaan pada bagian bumbu, kekentalan kuah dan aroma serta cita rasanya dari gulai biasa).

Semua orang tau belaka, jika ingin membeli gulai kapau Kak Ijuh, mereka harus berjejalan, berhimpitan dengan sesama pembeli lain, menunggu giliran. Pembeli akan ditanya; gulai kapau apa yang mereka inginkan. Dan, sanduak Gulai Kak Ijuh melompat dari satu capah (panci besar) ke capah lain, menyenduk gulai yang diinginkan pembeli, beserta kuahnya tentu.

Tek Suna, nenek ompong dengan pipi tercukam, berlesung pipit yang indah di masa muda agaknya, berdiri paling depan. Tubuhnya yang tinggi besar, tak jamak perempuan, cukup mengganggu orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Nenek 70 tahun itu sesekali akan menjangkaukan tangannya untuk menunjuk gulai yang ia inginkan, meminta tambahkan beberapa kinco (campuran gulai, semacam gulai ayam yang diberi kinco potongan nenas muda).

Sebenarnya, gulai yang dijual Kak Ijuh bukanlah hanya Gulai Kapau saja, tetapi juga gulai biasa seperti gulai ayam dengan nenas putih muda, cancang bakinco rabuang (semacam gulai daging dengan potongan kecil dengan kuah kental berwarna kehitaman beraroma tajam, diberi campuran rebung), sambalado tanak kantang batalua puyuah (semacam gulai, dengan bumbu utama cabe giling dan santan hampir tanpa bumbu gulai khas Minangkabau dengan bahan utama kentang dan telur puyuh biasanya ada tambahan ikan teri), rabuang bakuah putiah jo talua itiak (gulai rebung dan telur itik tanpa cabe, kunyit, dan bumbu gulai lainnya, biasanya hanya potongan jahe, daun limau, dan beberapa daun yang merupakan bumbu khas Minangkabau serta garam), dan yang cukup menjadi primadona selain dari gulai kapau adalah gulai jariang (gulai jengkol), gulai jantuang (gulai jantung pisang abu) serta karabu bungo kalikih bakamumu (urap bunga pepaya dicampur dengan batang keladi putih/ kemumu).

Mentari telah tergelincir ke barat, balai, pasar mulai lengang, Tek Suna masih sibuk meminta bungkuskan ini dan itu. Telah hampir sepeminuman teh, tetapi sanduak gulai itu masih sibuk berpindah dari satu capah ke capah lain. Mulai dari tiga potong gulai ayam dengan potongan besar nenas putih dibungus satu-satu, berpindah ke capah gulai jariang, gulai jantuang dan masakan lainnya. Agaknya ada perhelatan kecil-kecilan di rumah nenek tua yang sibuk meminta ini itu sembari memutar tubuhnya ke arah para pembeli yang berjubel, bertanya ini itu.

“Apakah kalian tidak tau? Si Malah sudah pulang, menggendong bayi tiga bulan, agaknya hasil hubungan gelapnya dengan si Juman akan mencemari negeri Jurai Bajiruek, dan kalian tau? Apa kata si Juman? Dia mengatakan kalau itu belum tentu anaknya, karena si Malah itu kan memang sudah terkenal suka merenggangkan pintunya tengah malam untuk beberapa lelaki lain, dan celakanya beberapa lelaki itu justru teman sesama bermain koa di lepau kopi Tan Tarulaik.”
Nenek tua dengan pipi cukam itu terus mendesiskan berbagai isu, melengkapi ceritanya dengan berbagai pernyataan si anu dan si anu.

“Uwo, dari siapa Uwo mendengar ini dan itu yang Uwo sampaikan?” Rosminah, perempuan kurus dengan bibir lentik bertanya dengan nafsu yang berkepusu.

“Aaaahhh… kupingmu terlalu tuli agaknya Roih. Sudah heboh negeri ini, bahkan suamimu juga pernah masuk ke rumah si Malah itu.

Kau tidak tau? Aku mendengar sendiri bisik-bisik si Rawana yang bercerita kepada Jamilan dua bulan yang lalu.

Eh Juh, coba bawa ke sini plastik rabuang bakuah putiah jo talua itiak itu, aduuhh… kenapa kuahnya jadi kurau, keruh begini? Aku kan sudah bilang, kau bungkuskan rabuang bakuah putiah jo talua itiak itu dulu, baru gulai lain, nah… gulai jariang itu, tolong terakhir sekali, ah… lihatlah ini, Gulai ayam ku sudah ariang (bau menyengat jengkol), belum lagi sambalado tanak ini memutih pula karena kuah rabuang, apa rasanya nanti ini? … astaga… kau sudah bungkuskan gulai jantuang? Pasti kuahnya tercampur pula pada gulai lain.

Adduuhh… aku kan sudah bilang, suamiku berpantang sekali makan jantuang, jangankan jantuang, kuahnya saja ia sudah berpantang, kau tahu? Setiap suamiku makan pantangannya ini, maka dia akan selalu tabik simbabau, tak ubahnya orang kena antu jaek, kesurupan, biji matanya akan terbulaliak-bulaliak, mendelik karena marahnya.” Nenek tua itu mendengus-dengus. Beberapa penganut ilmu hitam memang ada yang sangat berpantang makan gulai jantuang atau bahkan sekedar kuahnya.

“Wah…wah..wah…karabu ini malah tercampur pula dengan lado tanak sedikit, cucuku tak suka ini, haduh… kau ingin aku mendapatkan masalah rupanya? Ayo, aku tak mau begini…“ Tek Suna mendengus kesal lalu memutar tubuhnya kembali tepat pada saat sebuah suara menyembur tajam, Rawana, ibu muda yang baru saja dinukilkan oleh nenek tua ini sebagai salah satu narasumbernya, ternyata sejak tadi ikut mendengar semua cerita nenek tua itu.

“Uwo… berhentilah memfitnah, kapan aku bicara begitu?”
“Eh…? kau di sini Ana? Bukankah engkau memang bicara begitu? Kau juga mengatakan kepada si Piah kalau anak hasil hubungan gelap itu, mata dan hidungnya mirip sekali dengan suami si Roih? Si Piah yang mengatakan padaku.”

Tek Suna kembali memutar tubuhnya ke arah deretan capah yang berjejer. Tanpa ia peduli bahwa api yang ia percikkan telah berkobar. Dua perempuan di belakangnya mulai adu mulut dan berlanjut menjadi bagarumehan, cakar cakaran dan bajujuik-jujuik abuak, saling jambak.

Orang-orang mulai bersibak ketika perkelahian dua singa betina ini semakin brutal. Tubuh nenek tua yang kembali sibuk memesan ini itu terdorong oleh Rawana yang limbung akibat rambutnya yang terjumbai diseret oleh Rosminah.

“Eee…kenapa kalian ini? Serupa kanak-kanak saja? Tidak malu kalian berlaku begini?” Tek Suna mulai gusar. Ketika orang ramai justru menatapnya dengan sinis, nenek tua ini mengkeret.

“Juh, mana pesananku? Biarlah kubawa saja segala gulai yang telah bercampur baur ini. Hari sudah petang”.

Nenek tua itu menjangkau pesanannya, melemparkan uang dan terseok menyeruak orang ramai. Ia tak menghiraukan lagi teriakan Kak Ijuh yang ingin memberikan kembalian uangnya.

Dua singa betina yang sedang bertarung itu tak jua berhenti, kodek; kain sarung yang mereka lilitkan di luar rok, sudah mulai tanggal, tengkuluk mereka sudah tercampak entah ke mana, tetapi belum ada tanda-tanda pertempuran mereka akan berakhir.

“Ayo… siapa lagi? Yang mana yang harus kubungkuskan?” Kak Ijuh tak peduli dengan pertempuran hebat itu. Debu mulai mengepul akibat terjangan kaki-kaki dua singa betina yang semakin garang.

Seorang perempuan muda dengan wajah pucat, Piah namanya, berdiri di sudut, menggigil lalu berbisik pelan.
“Bungkuskan gulai ayam Tek, masukkan empat potong nenas mudanya. Cepatlah, suamiku sudah lapar agaknya di sawah.”
“Hmmm… kau rupanya Piah? Kau lihatlah itu, mereka sudah bauli (berkelahi dengan cara saling jambak, saling cakar) gara-gara kau, juga atas bantuan muncuang barimah, mulut berbisa Tek Suna tadi. Serupa benar kalian berdua dengan sanduak-ku ini, kau senduk cerita di mudik, lalu kau tuangkan di hilir, kau senduk di ujung, kau siramkan di puhun. Kau lihatlah sekarang, sudah bergelimang dua ekor singa betina itu.”

Kak Ijuh menggerutu masam, apalagi ketika debu yang menggebubu itu mulai hinggap di dalma capah gulainya, Piah semakin menciut nyalinya. Pembeli yang semula bersibak, sekarang sudah mulai merapat kembali, matoari condong, adzan ashar mulai berkumandang.**

~ Juaro Gunuang Marapi


Bagikan
  • 48
  •  
  •  
  •  
  •  
  •