Saatnya Menata Jiwa

redaksi bakaba

Jiwa bagaikan langit, kadang cerah, kadang mendung. Seberat apa pun beban hidup ini, Insya Allah akan ringan jika berada di atas jiwa yang kuat.

Bagikan
  • 174
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
menata jiwa - Image by Shamsuzzaman Tareque from Pixabay
Image by Shamsuzzaman Tareque from Pixabay

Menata jiwa – Menurut data WHO, per Juli 2019, dari ratusan juta penduduk Indonesia, setiap satu jam terdapat satu orang tewas akibat bunuh diri. Angka ini sebenarnya menurun dibanding tahun 2015. Pada tahun 2016 hingga 2017, angkanya relatif stabil yaitu 3,7 kematian dari 100 ribu penduduk setiap tahunnya. Sebelumnya, pada 2010 angka bunuh diri di Indonesia dilaporkan mencapai 1,6 hingga 1,8 per 100 ribu jiwa. Tingginya angka bunuh diri di Indonesia saat itu mendekati negara pemegang rekor dunia, seperti Jepang yang mencapai lebih 30 ribu orang per tahun dan China dengan 25 ribu orang per tahun.

Depresi, dan bunuh diri ternyata dilakukan tak hanya oleh mereka yang fisiknya sakit, juga mereka yang jasadnya prima tapi jiwanya sakit. Depresi juga diprediksi akan menjadi masalah kesehatan jiwa yang besar di Indonesia. “Bonus” demografis untuk Indonesia diprediksi juga akan menambah jumlah orang yang mengalami depresi, bahkan memiliki pemikiran bunuh diri di Indonesia.

Bermula dari Jiwa

Ketika bertemu seorang pria yang sedang stress di dalam mesjid akibat dililit utang, Rasulullah SAW memprioritaskan memberikan terapi jiwa kepadanya. Pria itu bernama Abu Umamah. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW mengajarkan doa kepadanya agar dibaca pagi dan petang, “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepadaMu dari kelemahan diriku dan kemalasan. Aku berlindung kepadaMu dari rasa pengecut dan kikir. Aku berlindung kepadaMu dari utang yang menumpuk dan siksaan orang.”

Pengakuan Abu Umamah bahwa akhirnya ia dapat melunasi utangnya setelah mengamalkan doa itu.

Do’a tak sekedar memohon bantuan-Nya, tapi pada saat yang sama, do’a juga untuk menata jiwa agar tak mudah dilemahkan oleh beratnya beban kehidupan.

Jiwa seperti tubuh. Tubuh diciptakan dalam kondisi yang terus disempurnakan sejak dalam kandungan dan kanak-kanak. Dalam penyempurnaannya itu, tubuh terus diberi makan.

Baca juga: Jiwa-Jiwa yang Kembali

Begitu juga dengan jiwa manusia yang diciptakan dalam kondisi tidak sempurna. Menyempurnakan jiwa adalah dengan terus menatanya dan melalui usaha memperbaiki akhlak (QS.91, as-Syams:7-10). Perjuangan untuk menata jiwa adalah perjuangan untuk mengendalikan dua tarikan kuat antara ‘kuda hitam’ (kejahatan) dan ‘kuda putih’ (kebaikan). Hanya hidayah Allah Ta’ala yang mampu membuat manusia membedakan antara kejahatan dan kebaikan (QS.39, az-Zumar:22).

Menata jiwa adalah dengan memelihara selalu kualitas kondisi jiwa (nafs). Psikolog muslim, Muhammad Izzuddin Taufiq dari Universitas Maroko, menyebutkan bahwa seperti jasad, jiwa manusia bukan beragam, tapi kondisinya yang bermacam-macam dari waktu ke waktu. Ketika manusia cenderung kepada kebaikan, maka jiwanya dalam kondisi nafs sawiyyah mulhamah (QS.91, asy-Syams:7-8).

Nafs sawiyyah berarti jiwa yang sempurna, sementara mulhamah artinya mendapat ilham. Kondisi jiwa manusia pada dasarnya berada dalam satu kesempurnaan fitrah. Semua manusia memiliki fitrah butuh bertuhan, rindu keadilan, mendambakan kasih sayang dan kelembutan. Semua yang dirindukan jiwa itu adalah ilham yang diturunkan oleh Allah Ta’ala Yang Maha Adil, Yang Maha Penyayang, dan Maha Lembut.

Lalu, di hadapan manusia terbentang dua jalan, yakni kefasikan dan kebaikan. Syetan terus membujuk untuk memilih jalan keburukan. Ketika bujukan itu diikuti manusia maka kondisi jiwanya beralih menjadi nafs ammarah bissu’i (jiwa sedang cenderung kepada keburukan). Kondisi jiwa ini yang disebutkan oleh nabi Yusuf AS saat dirinya dituduh Zulaikha berbuat nista (QS.12, Yusuf:53). Saat manusia menyesal dengan kesalahan yang pernah dibuat, maka jiwanya berada dalam kondisi nafs lawwamah (jiwa yang menyesal).

Nafs lawwamah dapat dialami oleh siapa pun juga. Ketika kondisi nafs lawwamah dialami manusia tanpa kecuali, maka itu sebagai tanda untuk akal aktif manusia bisa merenungkan masa yang telah berlalu. Jika kondisi itu dialami oleh orang beriman, maka itu sebagai tanda bagi jiwanya untuk bertobat, kembali kepada Allah Ta’ala dengan memperbaiki segala kesalahan yang telah berlalu (QS.75, al-Qiyamah:1-2).

Dua kondisi terakhir adalah nafs zakiyyah (jiwa yang suci) dan nafs muthmainnah radhiyah (jiwa yang tenang dan redha). Kondisi nafs zakiyyah akan dialami manusia manakala ia mampu berjuang untuk melepaskan dirinya dari semua keburukan yang merusak jiwanya (QS.91, asy-Syams: 9). Puncaknya adalah jiwa dalam kondisi nafs muthamainnah radhiyah. Itulah kondisi saat manusia tenang (muthamainnah) dan redha (radhiyah) dalam menjalani hidup. Redha dengan agamanya, tenang dan redha di kala senang dan susah. Keridhaan adalah tujuan akhir dari semua yang kita lakukan di dunia, dan ditutup dengan kehidupan bahagia saat kembali ke pangkuan Allah ‘Azza Wa Jalla (QS.89, al-Fajr:27-30).

Jiwa bagaikan langit, kadang cerah, kadang mendung. Seberat apa pun beban hidup ini, Insya Allah akan ringan jika berada di atas jiwa yang kuat.**

Penulis, Dosen IAIN Bukittinggi, E-mail: irwandimalin@gmail.com
Image by Shamsuzzaman Tareque from Pixabay

Bagikan
  • 174
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Herman Sofyan Pertanyakan SK DPP Gerindra

Sebelumnya dalam arahan Prabowo, untuk Ketua DPC Partai Gerindra langsung melekat pada Ketua DPRD Kota Bukittinggi. Akan tetapi situasi telah berubah, tanpa ada koordinasi sebelumnya. Saya selaku kader akan menanyakan perihal ini," ujar Herman Sofyan
Herman Sofyan dan kader Gerindra Bukittinggi dalam konferensi pers