Revitalisasi Kinerja Awak Media

redaksi bakaba

Wiztian Yoetri menulis di Teras Utama Harian Pagi Padang Ekspres, bertajuk “Mimpi Membangun Pers Berkualitas,” sedangkan Khairul Jasmi secara santai tampil di kanal youtube berjudul “4 Dosa Pers Indonesia.”

Bagikan
  • 73
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, MA.

~ Abdullah Khusairi

Dua wartawan senior telah bicara tentang dunianya. Saya senang, tidak sendiri lagi. Wacana tentang kualitas pers memang perlu terus ditabuh agar ada penyadaran dari dalam, dari dunia pers sendiri. Media massa memang sedang mengalami disrupsi, perlu ada gerakan baru agar pers terus meningkatkan kualitas karya jurnalistik, perusahaan pers yang sehat dan bermartabat. Itulah prasyarat penting agar pers bisa didengar, dihormati, disegani dan profesional.

Dua wartawan senior itu, Wiztian Yoetri dan Khairul Jasmi. Dua orang yang sangat saya segani, hormati dan kagumi. Keduanya telah mengapresiasi perjalanan hidup saya melalui tulisan panjang di “box kaki” halaman utama Harian Pagi Padang Ekspres dan Harian Umum Independen Singgalang, sehari setelah Ujian Promosi Doktor yang saya lakoni di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Senin, 16 Juli 2019, pertengahan tahun ini. Saya ucapkan terima kasih tak terhingga untuk dua tulisan penting dalam sejarah hidup saya itu.

Wiztian Yoetri menulis di Teras Utama Harian Pagi Padang Ekspres, bertajuk “Mimpi Membangun Pers Berkualitas,” sedangkan Khairul Jasmi secara santai tampil di kanal youtube berjudul “4 Dosa Pers Indonesia.” Keduanya hampir sama bersepakat menyoal pers yang ada hari ini. Pers punya masalah dalam hidupnya. Masalah itu harus diselesaikan agar tidak terjadi krisis tingkat akut. Teori manajemen krisis harus bekerja segera!

Wiztian Yoetri memaparkan faktor eksternal dan internal pers. Faktor internal, diduga kualitas dan integritas para jurnalis dan lembaga pers yang menurun. Faktor eksternal, kemajuan teknologi dan kekuatan kekuasaan lebih mendominasi sehingga pers tunduk pada kekuasaan.

Sedangkan Khairul Jasmi mengungkapkan 4 dosa pers Indonesia: Pertama, tidak begitu dipercaya publik lagi karena sudah menjadi corong dalam urusan politik kekuasaan; Kedua, wartawan pemalas. Tulisan tidak mendalam, satu sumber dan tidak ada yang baru, tidak mau belajar; Ketiga, perusahaan media tidak sehat, wartawan tidak digaji sehingga menerima amplop dari narasumber; Keempat, munculnya media dadakan ketika suksesi tiba.

Kedua senior saya sedang resah, dunia pers harus berbenah segera. Tidak semata lahir karena bisnis, tidak semata jadi wartawan karena kecelakaan sejarah sebelum mendapat pekerjaan yang lebih baik. Harusnya seperti diungkapkan jurnalis tua yang pernah di Dewan Pers, Atmakusumah Astraatmadja, idealnya mereka yang jadi wartawan karena panggilan jiwa dengan dibuktikan pernah menjadi aktivis pers di kampus, kemudian mendapat pendidikan teoritis dan praktis secara memadai, bekerja di perusahaan pers yang sehat. Ini juga penting, masuk organisasi wartawan yang resmi dan diakui Dewan Pers, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).

Persoalan hari ini, ada perusahaan pers yang belum sehat, ada wartawan yang tidak mendapat pendidikan teoritis dan praktis yang memadai. Dewan Pers sudah mengupayakan untuk menyertifikasi, lembaga pers, awak pers, organisasi pers. Tetapi belum ada tekanan dan larangan yang belum mendapatkan hal tersebut. Tidak ada pula sanksi, sehingga pers tetap tumbuh liar dan tidak seiring dengan program untuk penyehatan dunia pers. Agaknya perlu penyadaran ke lembaga pers yang belum sehat, jika tak mampu memenuhi untuk tutup saja.

Di tengah hantaman perubahan kehidupan sosial yang didukung penuh oleh teknologi informasi, perlu ada percepatan bagi pihak berkepentingan terhadap pers untuk menyehatkannya. Inilah yang penulis sebutkan perlu ada pemikiran dan gerakan yang masif melebihi program yang sudah ada sekarang ini. Baik program di lembaga pers, organisasi pers, maupun di Dewan Pers.

Bila saja gerakan dan pemikiran sukses, apapun disrupsi yang akan membawa perubahan sosial akan mampu dijalani oleh orang-orang pers. Tidak perlu lagi resah dengan keadaan seperti sekarang, di mana media sosial melesat menjadi tumpuan kebutuhan informasi publik. Media sosial itu tetaplah kerumunan, gemuruh, tetapi sebenarnya rapuh karena sistem jurnalistiknya tidak ada. Pers punya sistem jurnalistik yang bisa membangun kepercayaan publik dengan manfaatkan pula kehadiran media sosial. Media sosial bukan ancaman tetapi semestinya menjadi alat interaksi yang lebih masif kepada publik. *

*Penulis, Doktor Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah/Dosen di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang
**Gambar oleh Silentpilot dari Pixabay

Bagikan
  • 73
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Ilmu Basi

Adalah ilmu tua dan klasik. Karena sudah lama, orang mulai lupa namanya. Namun jurus-jurusnya masih terpakai sepanjang masa. Macam-macam nama jurusnya.
Gambar oleh Massimo Pischedda dari Pixabay