Pendidikan dengan Sudut Pandang 90°

redaksi bakaba

bahwa seorang guru harus pandai memadukan berbagai jenis karakter peserta didik di kelas sehingga menjadikan hasil yang memuaskan.

Bagikan
  • 31
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana dari Pixabay
Gambar oleh Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana dari Pixabay
Hudaya Indra Bakti
Hudaya Indra Bakti

~ Hudaya Indra Bakti

Faktor keberhasilan dalam pendidikan tidak bisa dimaknai melalui sudut pandang yang sempit, kita harus bisa melihat segala aspek yang memungkinkan terjadinya perubahan. Jika dalam konsep fisika ada aturan tangan kanan yang menentukan gaya lorentz di mana dalam aturan tersebut ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu medan magnet (B), kuat arus (I), dan gaya Lorentz (F).

Namun dalam konsep pendidikan aturan tangan kanan meliputi tiga komponen yang mempengaruhi keberhasilan dalam pendidikan yaitu Allah SWT sebagai sumber dari segala ilmu yang hakiki.

Guru dan Peserta Didik

Sebagai pendidik tidak bisa menyatakan secara mutlak bahwa keberhasilan sebuah pendidikan berasal dari guru. Juga tidak bisa mendiskriminasikan bahwa ada peserta didik yang pintar dan ada peserta didik yang kurang pintar.

Seorang pendidik, guru harus memandang peserta didik sebagai karakter yang unik. Semua potensi peserta didik tidak sama dan tidak bisa disamakan. Guru harus pandai membuat komposisi pembelajaran di kelas dengan karakter siswa yang beragam dan menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Ketika penulis kuliah, dosen pernah menyampaikan sebuah metafora: guru itu bagaikan sebuah koki. Dalam sebuah rumah terdapat seorang ibu dan anak yang berumur tujuh tahun sedang membuat kue di dapur. Semua yang diperlukan sudah tersedia di dapur seperti telur, terigu, gula, susu dan alat yang digunakan seperti oven untuk memanggang, mixer bahkan cetakan. Namun ketika di tengah kegiatan ibu mendapatkan telepon yang memaksa harus meninggalkan anak sendirian di dapur.

Si Ibu pergi dan kini sang anaklah yang menjadi koki tunggal di dapur, dan kini ia siap akan memulai aksinya. Dicampurkan semua bahan menjadi satu seperti telur, terigu dan susu tanpa takaran sehingga adonan kue menjadi cair. Kemudian sang anak mengaduk adonan tersebut dan mencetaknya dengan cetakan kue. Hasilnya tidak satu pun kue tercipta dari tangan sang anak. Ketika ibu kembali ke dapur ia harus menyelesaikan masalah yang dibuat oleh sang anak.

Dengan berbekal pengalaman dan kesabaran ia kembali mencampurkan bahan yang tersisa dengan takaran yang tepat sehingga terciptalah adonan dengan tekstur yang tepat dan siap untuk dicetak. Hasilnya pun kue siap dipanggang dan kemudian siap disajikan.

Dari metafora tersebut dapat dikatakan koki yang baik adalah koki yang dapat memadukan berbagai bahan yang berbeda sehingga menjadi hasil yang memuaskan. Bahkan seorang koki dapat membuat berbagai macam kue dengan bahan yang sama.

Metafora tersebut dapat dilekatkan kepada seorang guru, bahwa seorang guru harus pandai memadukan berbagai jenis karakter peserta didik di kelas sehingga menjadikan hasil yang memuaskan.

Namun apakah semudah itu untuk memadukan berbagai karakter peserta didik dikelas?

Guru harus memandang pendidikan melalui sudut 90°, di mana ketika kita membentuk sudut tersebut akan tercipta dua garis yang tegak lurus (vertikal) dan garis yang sejajar (horizontal). Garis-garis tersebut dapat dimaknai untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan guru harus pandai menjaga hubungan secara vertikal yaitu hubungan kepada Maha Pencipta dan hubungan yang horizontal yaitu hubungan sesama manusia.

Ketika sudah berikhtiar dalam mengajar maka serahkan hasilnya kepada Maha Pencipta. Maka guru harus menanamkan kebiasaan dalam belajar mengajar yaitu mengawalinya dengan doa. Karena doa adalah senjata terutama bagi guru untuk membuka wawasan yang ada di dalam diri peserta didik dan membuka jalan bagi guru untuk mengajar.

Tidak ada salahnya jika diawal pembelajaran kita berdoa “Ya Allah jika ketidak pahaman yang dimiliki oleh murid-murid saya bersumber dari diri mereka sendiri maka berikanlah ia pemahaman dalam menangkap ilmu yang saya sampaikan. Namun jika ketidakpahaman mereka berasal dari ketidakmampuan saya dalam menjelaskan materi, maka mudahkanlah lisan ini dalam menyampaikannya”.

Dengan doa tersebut kita dapat menumbuhkan hubungan emosional dengan peserta didik sehingga peserta didik akan senang kita melakukan kegiatan belajar mengajar.

Konsep pendidikan 90° dalam bilangan pecahan matematika juga dapat diartikan ¼ di mana 1 itu artinya Maha Pencipta dan 4 artinya adalah kompetensi yang harus dikuasai guru sebagai bentuk ikhtiar dalam melakukan pengajaran. Pada dasarnya guru itu harus menguasai 4 kompetensi antara lain :

1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi ini menitik beratkan pada pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru. Seorang guru yang baik harus memiliki wawasan yang luas sehingga dapat memberikan banyak informasi kepada peserta didik ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

2. Kompetensi profesional

Kompetensi menitik beratkan kepada latar belakang guru sebagai seorang pendidik. Pemerintah memberikan aturan bahwa seorang pendidik harus memenuhi kualifikasi minimal dan harus linear sesuai jurusan yang ditempuh semasa kuliah.

3. Kompetensi kepribadian

Bapak pendidikan indonesia Ki Hajar Dewantara sudah sejak lama mengajarkan tentang konsep ini. Dimana beliau mengatakan seorang guru ketika di depan menjadi teladan, ketika di tengah memberikan semangat, dan ketika dibelakang memberikan dorongan.

4. Kompetensi Sosial

Kompetensi ini menitikberatkan hubungan terhadap sesama. Guru harus dapat membangun komunikasi yang baik terhadap sesama guru, wali murid atau bahkan peserta didik di kelas. Dengan kompetensi tersebut tentunya akan menimbulkan hubungan emosional yang positif antar guru dengan peserta didik sehingga akan menciptakan suasan pendidikan yang menyenangkan.**

*Penulis, tenaga pendidik SMPIT Subulussalam Raman Utara Lampung Timur dan Mahasiswa Pascasarjana UM Metro Lampung
**Gambar oleh Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana dari Pixabay 

Bagikan
  • 31
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Prof. Yudian, dari Kampus ke Istana

Dominan ruang berbicara yang tersedia buat seorang pejabat publik bukan lagi public lecture, seminar apalagi limited discussion, tapi dia dihadang wawancara door step wartawan.
Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D