‘Milestone’ UMSB dan ‘Hikayat Parik Putuih’

redaksi bakaba

“Muhammadiyah Sumatera Barat sangat berhutang budi kepada masyarakat Parik Putuih yang telah berkontribusi dalam menyuburkan organisasi ini sehingga dapat menjalankan misinya dengan baik,” kata Riki Saputra.

Bagikan
  • 10
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Gambar oleh Pexels dari Pixabay
Gambar oleh Pexels dari Pixabay

bakaba.co | Padang | Sebuah buku diterbitkan sebagai tanda kehadiran UMSB Press. Buku terbitan perdana UMSB ‘Parik Putuih dalam Hikayat: Warih nan Bajawek. Pusako nan Batarimo’ juga akan dibedah secara virtual, 13 Mei 2020 di kampus 1 UMSB Padang.

“Kehadiran buku ini menjadi ‘milestone’ dalam perjalanan UMSB. Diharapkan ini dapat memacu lahirnya buku-buku lain yang ditulis para dosen penulis UMSB.”

Harapan itu dilontarkan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) Dr. Riki Saputra dalam rilis kegiatan yang diterima bakaba.co, Minggu, 10 Mei 2020.

Penerbit UMSB Press merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT). Pembentukan unit penerbit ini untuk menaungi para civitas akademika, terutama dosen penulis dalam mempublikasikan tulisannya berbentuk buku dan monograf yang dapat dimanfaatkan mahasiswa dan masyarakat.

Kehadiran UPT-UMSB Press diharapkan dapat mendorong lahirnya penulis-penulis handal dari sisi akademik dan menghasilkan buku-buku ajar berkualitas termasuk monograf dan buku ilmiah populer lainnya.

Bedah Buku

Buku terbitan perdana UMSB Press yang akan diluncurkan bersamaan peresmian UPT berjudul “Parik Putuih dalam Hikayat: Warih Nan Bajawek. Pusako nan Batarimo”.

Buku tersebut ditulis Efri Yoni Baikoeni, dosen UMSB dan Fahrial Ajisman, seorang praktisi dunia pertambangan batu bara di Kalimantan.

Peluncuran Buku oleh UMSB Press
Peluncuran Buku oleh UMSB Press

Bedah buku secara virtual dalam suasana PSBB di Sumbar menghadirkan para pakar dan narasumber : Dr. Zulqayyim, M.Hum, dosen Sejarah Universitas Andalas dan Brigjen (Purn) H. Maini Dahlan, tokoh masyarakat Parik Putuih di Jakarta.

Seminar juga menghadirkan kedua penulis diikuti 96 orang (kapasitas 100) yang terdiri dari dosen dan mahasiswa UMSB, anggota jaringan Asosiasi Penerbitan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah (APPTIMA), warga dan perantau Parik Putuih di seluruh Nusantara serta para peminat buku dan penggiat literasi.

Menyambut acara tersebut, Rektor UMSB menyatakan bahwa buku produk perdana UMSB Press ini sangat penting. Ada tiga alasan pentingnya kehadiran buku ini.

Pertama, untuk dapat mengisi kekosongan yang ada “narrowing gap”. Sejauh ini belum ditemukan buku yang mendiskusikan Parik Putuih secara utuh.

Parik Putuih adalah sebuah kampung dalam Nagari Ampang Gadang yang berada di lereng Gunung Marapi, Kecamatan Ampek Angkek. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, Parik Putuih terkenal sebagai kampung sentral produksi bakik yaitu sandal yang terbuat dari kayu “tangkelek”.

Jumlah produksinya yang besar sempat menempatkan jorong ini sebagai produsen tangkelek tertinggi yang memasok ke seluruh Sumatera Barat, bahkan luar daerah.

Kedua, berbagi semangat kepeloporan (pioneerism) karena dalam buku ini terdapat deskripsi dari sosok, profil maupun tokoh inspiratif dan berdedikasi yang menentukan corak Parik Putuih di masa lalu dan kini.

Ketiga, sebagai legacy karena tujuan hidup orang Minangkabau adalah untuk berbuat jasa kepada kampung halaman dan masyarakat.

Salah satu benang merah dalam buku ini yang cukup menarik adalah terungkapnya hubungan historis kampung Parik Putuih dengan organisasi Muhammadiyah.

“Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa organisasi Muhammadiyah pernah eksis di Jorong Parik Putuih. Karena mandeknya kaderisasi menyebabkan keberadaannya sempat lenyap ditelan masa,” ujar Riki Saputra.

Sekarang, setelah hampir tiga dekade, ruh Muhammadiyah seolah bangkit kembali. Warga Parik Putuih yaitu Keluarga Rumah Gadang Suku Simabur mewakafkan tanah yang cukup luas (2.500 m2) kepada Pondok Pesantren Tahfidzhul Qur’an Mu’allimin Muhammadiyah Sawah Dangka. Tidak hanya itu, perantau Parik Putuih di Bandung membantu pembangunan gedung yang representatif guna memperluas aktivitas pondok pesantren tersebut.

“Muhammadiyah Sumatera Barat sangat berhutang budi kepada masyarakat Parik Putuih yang telah berkontribusi dalam menyuburkan organisasi ini sehingga dapat menjalankan misinya dengan baik,” kata Riki Saputra.

~ WY/rel/bakaba
~ Gambar oleh Pexels dari Pixabay 

Bagikan
  • 10
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Satu Poin lagi, Covid-19 Sumbar Jadi 300 Orang

Penyebaran virus Corona: Covid-19 di Sumbar belum kunjung bisa diputus. Setiap hari selalu ada warga masyarakat yang positif terinfeksi virus Covid-19. Minggu ini, tercatat ada lagi 13 orang. Sudah 299 orang di Sumbar positif Covid-19.
Gambar oleh muhammad rizky klinsman dari Pixabay