Menebar Kebencian Memaksa Kebenaran

redaksi bakaba

Inilah fenomena dunia netizen kita. Semakin hari, seperti ingin runtuh saja negara ini dibuatnya. Padahal, kenyataannya baik-baik saja.

Bagikan
  • 32
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

~ Abdullah Khusairi

Memang tak mudah bagi seseorang untuk mengakui sudah terpapar oleh informasi yang keliru. Biasanya ia akan bertahan dan mencari sumber baru dengan yang berkenaan dengan informasi tersebut. Apalagi bila informasi yang keliru itu menguntungkan posisi dan mendapatkan materi. Jika ditemukan perbedaan, maka disingkirkan. Lalu mencari lagi, mengumpulkan seluruh informasi yang sesuai dengan kekeliruan di awal. Seterusnya bertahan di situ tanpa mau sedikitpun menggeser pendapatnya.

Prasangka memang begitu kuat akhir-akhir ini dibandingkan keinginan memahami fakta seadanya. Kebencian sudah ditanam lebih dahulu sebelum menyibak kebenaran dan hikmah-hikmah terhadap peristiwa. Menyalahkan lebih mengemuka daripada memberi solusi. Netizen memang kejam, selalu ada celah untuk membully, sekalipun begitu paham sedang tak berada pada kebenaran yang sesungguhnya.

Kemalasan sedang melingkupi kehidupan sehingga amat mudah marah dan terpapar dari informasi pertama yang datang. Kebenaran tidak lagi berada di atas fakta-fakta, data-data, yang dibalut dengan tertib logika. Kebenaran dipaksakan dibangun di atas puing-puing kebencian masa lalu dan dipoles dengan fakta-fakta, data-data yang semu dan kadang-kadang juga tidak signifikan. Periksalah, begitu banyak munculnya akun palsu dan artikel dengan nama palsu yang terus berusaha menggiring opini publik agar terus tersesat kian jauh. “Hoaks dan fakenews dibuat oleh orang cerdas, dishare oleh orang bodoh.” Begitu kenyataannya.

Isu-isu menggelinding ke ruang publik tak lagi menjadi sesuatu yang produktif dan positif. Seseorang yang sedang memperjuangkan kebenaran bisa jadi akan disalahkan secara masif. Objektivitas diruntuhkan dengan subjektivitas. Subjektivitas dipenuhi kebencian yang teramat memuncak sehingga enggan memeriksa ulang setiap informasi.

Inilah fenomena dunia netizen kita. Semakin hari, seperti ingin runtuh saja negara ini dibuatnya. Padahal, kenyataannya baik-baik saja.

Ada perbedaan antara dunia maya dengan dunia nyata tetapi kekuatan dunia maya harus dipertimbangkan untuk kebaikan bukan untuk keburukan. Saya masih meyakini, kerusakan sistem komunikasi di lini massa kita disebabkan ketidakmengertian kita terhadap watak medium yang tersedia.

Media sosial telah digunakan oleh orang-orang berkepentingan untuk melancarkan pengaruh demi keuntungan yang akan diperoleh. Agar tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang merugikan pribadi, keluarga, kelompok, sebaiknya sering-sering menahan diri untuk tidak ikut campur jika belum mengerti persoalan. Sikap sok tahu sering kali menjerumus seseorang atau paling tidak memerlihatkan betapa tolol dalam berkomentar.

Saya sering malu sendiri dengan sikap teman dan sejawat karena berkomentar asal tetapi tampak serius. Jika ingin berkomentar asal, jangan lupa gunakan emoticon. Jika serius, tunjukkan fakta, dalil, sebagai pijakan logika yang dibangun. Asal serobot, asal komentar, semakin menunjukkan “tong kosong memang nyaring bunyinya” atau “air beriak tanda tak dalam.” Saya lebih cenderung jangan terlalu serius di media sosial, di ruang chat karena begitu besar kegagalan komunikasi karena medium satu ini. Demikian.***

*Penulis, Doktor Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah/Dosen di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang

Bagikan
  • 32
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Sepakbola, Ancaman Banjir dan Buzzer Hamdalah

Johan Cruyff menggambarkan filosofi Total Football dalam ucapannya “Playing football is very simple, but playing simple football is the hardest thing there is”
Image by Sasin Tipchai from Pixabay