Letda. Adnan Saidi: Pahlawan Singapura Keturunan Ampek Angkek

redaksi bakaba

Letda. Adnan Saidi – Beberapa figur besar dalam sejarah nasional Singapura merupakan putera-putera keturunan Minangkabau seperti Presiden Singapura pertama Yusof Ishaq dan komponis lagu kebangsaan Singapura Zubir Said.

Bagikan
  • 152
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Letda. Adnan Saidi
Letda. Adnan Saidi

Letda. Adnan Saidi – Beberapa figur besar dalam sejarah nasional Singapura merupakan putera-putera keturunan Minangkabau seperti Presiden Singapura pertama Yusof Ishaq dan komponis lagu kebangsaan Singapura Zubir Said.

Salah satu figur lain yang tidak kalah hebatnya adalah Letnan Dua Adnan Saidi yang merupakan seorang pahlawan nasional Singapura dan Malaysia, yang merupakan keturunan Ampek Angkek, Agam.

Dia gugur melawan pendudukan Jepang tahun 1942 tatkala mempertahankan Bukit Chandu, sebuah kawasan strategis di Pasir Panjang yang dulunya bahagian dari Malaya yang diperintah oleh kolonial Inggris. Kini wilayah itu termasuk dalam Republik Singapura. Karena itu, Letnan Dua Adnan Saidi menjadi lambang keberanian Tentara Melayu di Singapura dan Malaysia.

Atas jasanya yang luar biasa kepada Republik Singapura, kisah perjuangan Letnan Dua Adnan Saidi terdokumentasi secara rapi dalam sebuah museum yang berlokasi dekat medan tempur di mana tokoh ini gugur sebagai wira. Namanya diukir dengan tinta emas dalam buku pelajaran anak-anak sekolah di Negara Kota tersebut.

Tidak hanya itu, pada tahun 2019 Pemerintah Singapura mengeluarkan uang kertas pecahan S$20 yang mengabadikan potret diri Letnan Dua Adnan Saidi bersama tujuh tokoh lainnya yang diluncurkan dalam rangka peringatan 200 tahun Singapura.

Setali tiga uang dengan Negara Singa, Pemerintah Negeri Jiran juga mengabadikan nama Letnan Dua Adnan Saidi pada sebuah kendaraan infanteri dan sekolah kebangsaan di Kajang, Selangor.

Asal Usul Keluarga

Letnan Dua Adnan Saidi dilahirkan tahun 1915 di Sungai Ramal, Kajang. Dia adalah anak sulung dari sebuah keluarga keturunan Ampek Angkek yang terawal menetap di Klang, Kajang, Selangor.

Sesudahnya, Klang atau Kajang menjadi destinasi yang paling banyak dituju perantau Ampek Angkek ke Malaysia sehingga Kajang pernah disebut “Kampung Ampek Angkek”.  Secara geografis, Klang terletak di pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka di sebelah Barat sehingga relatif lebih mudah dijangkau dari Riau. Karena itu di Ampek Angkek, daerah Klang sangat terkenal. Istilah lokalnya “Kolang” sesuai dengan lidah dan logat daerah tersebut. Selain itu, bermigrasi ke Malaysia disebut dengan istilah “marantau ka Kolang”, meskipun para migran itu tidak menuju daerah Klang.

Ayahnya bernama Buyung Saidi Sutan yang berasal dari Tanjung Alam (Suku Jambak Puhun), sedangkan ibunya bernama Raibah binti Rajo Nan Kayo, wanita Tanjung Alam (Suku Malayu). Karena orang tua ini merantau ke Klang, di kampungnya mereka dipanggil dengan sebutan “Sidi Kolang” dan “Nek Kolang”.

Setelah menikah, ayah dan ibu Adnan bermigrasi ke negeri jiran tersebut sekitar tahun 1913. Setelah bermastautin di Klang sebagai peladang getah, pasangan suami isteri tersebut dikaruniai enam orang anak. Tiga orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Anak laki-lakinya bernama Adnan, Ahmad dan Amarullah.

Anak perempuan sulung sempat berdomisili di Tanjung Alam dan meninggalkan tiga orang anak yaitu: Malah, Nurma dan Gani. Sedangkan dua anak perempuan lainnya, berkeluarga dan menetap di Malaysia.

Semua anak laki-laki Buyung Saidi Sutan menjalani profesi sebagai tentara, baik di Malaysia maupun Indonesia. Selain Adnan, anak keduanya bernama Ahmad memasuki Angkatan Laut Inggris di Malaya. Ahmad gugur dalam suatu pertempuran yang dikenal dalam Perang Asia Timur Raya tahun 1939. Kapalnya, HMS Pelanduk karam setelah diserang tentara Jepang dalam pelayarannya ke Australia.

Sementara itu, anak bungsunya Amarullah juga merupakan anggota personel militer Indonesia yang bertugas di Bukittinggi tahun 1946-1949.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada akhir tahun 1949, Amarullah merantau ke Malaysia dan tinggal di Kajang, Selangor. Dia dan keluarganya kemudian menjadi warga negara Malaysia.

Karena aktivitas anak laki-lakinya yang sarat bahaya, Buyung Saidi Sutan sempat memboyong keluarganya mengungsi ke Tanjung Alam bulan Desember 1942 untuk menghindari buruan Kenpeitai Jepang yang terkenal begis dan sadis.

Meski nyawanya diburu untuk dihabisi, namun nyali keluarga ini tidak pernah ciut untuk membela anak-anaknya sebagai pahlawan tanah air. Bahkan, keluarga ini mendorong anggota kerabat lainnya di Tanjung Alam mengikuti jejak anak-anak mereka sebagai tentara.

Di Tanjung Alam, kerabat suku Malayu pada masanya paling banyak memasuki profesi tentara. Sebut di antaranya keturunan Siti Ramalah yang memiliki anak Serka TNI AD Abdul Muis; keturunan Siti Rasibah yang memiliki anak bernama Mayor TNI AD Basri Ali; dan keturunan Siti Ramasiah yang memiliki anak bernama Mukhlis Menan yang memilih karir pada TNI AL.

Setelah keadaan aman, keluarga ini pun kembali ke Malaysia dan menetap di sana. Sidi Kolang dan Nek Kolang meninggal dunia dan dimakamkan di Kajang.

Pendidikan

Sesuai tradisi Minangkabau yang mengamalkan “alam takambang jadi guru”, setelah cukup umur Adnan kecil disekolahkan ayahnya ke sebuah sekolah beraliran Inggris di Pekan Sungai Ramal. Dia dikenal sebagai pelajar yang rajin dan sukses dalam pendidikan. Usai menyelesaikan pandidikan di kota tersebut, Adnan diangkat sebagai guru pelatih dan mengabdikan dirinya sebagai guru selama setahun di almamaternya.

Ketika terbentuknya Resimen Melayu (Malay Regiment), Adnan merubah haluan hidupnya sebagai tentara. Setelah menjalani pendidikan militer, perjalanan karir Adnan berjalan mulus. Dia pernah terpilih mewakili peletonnya ke Inggris ketika upacara pangangkatan raja.

Berkeluarga

Pada tahun 1937, Adnan menikah dengan Sofia Pakih Muda, yang berprofesi sebagai guru agama. Sang isteri masih keturunan Minangkabau yaitu berasal dari Bukittinggi tepatnya Tabek Sarojo, Mandiangin. Dari perkawinan itu lahir tiga orang cahaya mata. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Anak laki-lakinya bernama Mokhtar dan Zainudin, menetap di Seremban and Johor. Sedangkan anak perempuannya meninggal dunia saat masih bayi tahun 1942.

Di kalangan keluarganya, dia dikenal sebagai anak yang bertanggung jawab. Sosok yang baik dan bijak. Selain itu, diapun dikenang sebagai pribadi yang sangat disiplin dalam segala hal.

Lain lagi di mata anak-anaknya, sang guru yang bertukar haluan menjadi tentara tersebut dikenang sebagai ayah yang penyayang dan pemberi penuh perhatian. Anak-anak itu sering diajak bermain dan berjalan-jalan di sela kesibukan ayahnya. Adnan menginginkan anak-anaknya tumbuh dalam budaya disiplin. Dalam suatu wawancara, Mokhtar Adnan menggambarkan ayahnya sebagai berkut:

“My father did not talk a lot. He was a firm man and believed in discipline. He was always serious and fierce yet had a good heart. There seemed to be a ‘light’ illuminating his face. Ayah saya tidak banyak berkata-kata. Dia adalah seorang yang tegas dan percaya dengan budaya disiplin. Meski bisa sangat serius dan sengit, namun hatinya sangat baik. Seolah ada cahaya yang selalu menghiasi wajahnya.” 

Pada tahun 1941, setelah mendapat pangkat letnan dua dalam Resimen Melayu, Adnan ditugaskan ke Singapura sehingga dia pun memboyong keluarganya ke daerah yang masih bernaung dibawah Malaya tersebut. Mereka tinggal di sebuah rumah besar yang dikhususkan bagi keluarga Resimen Melayu di Pasir Panjang.

Karena mengetahui rencana Jepang menyerbu Singapura setelah serangan ke pangkalan tentara Amerika di Pearl Harbour, Adnan membawa keluarganya kembali ke Kajang. Tentunya, saat itu merupakan momen yang sangat berat bagi Adnan. Isterinya sedang mengendong anak ketiga, sedang dua anak lainnya masih kecil.

Seolah telah punya firasat, saat perpisahan menjadi momen yang paling mengharukan. Saat akan meninggalkan Kajang, Adnan menasehati anak-anaknya untuk menjadi orang baik. Anak-anak itupun mencium tangan ayahnya dengan penuh kasih. Ternyata itulah hari terakhir sang ayah bertemu anak-anaknya. Di Singapura, sang ayah pergi untuk selama-lamanya demi membela dan mempertahankan negaranya dari serangan angkara murka.

Berkarir di Militer

Meski karir pendidik sudah di ambang mata, namun Adnan putar haluan. Dia banting stir ke dunia militer, setelah pemerintah Inggris di Malaya membentuk Resimen Melayu.

Sebagaimana tradisi usai mencengkeramkan kukunya di daerah koloni, Inggris membentuk resimen dari rakyat pribumi. Seperti di India, paska penaklukan anak benua tersebut, Inggris merekrut pribumi India untuk dilatih dalam sebuah resimen, bahkan ada anggotanya yang berasal dari kelompok Sikh yang biasa menutup kepalanya dengan turban “Gurkha”. Pada tahun 1933, setelah didesak oleh Raja-Raja Melayu, Inggris mendirikan pasukan Resimen Melayu tersebut.

Dalam usia 18 tahun tahun 1933, Adnan diterima sebagai anggota gelombang perdana. Sebanyak 25 orang pribumi Melayu terpilih dari 100 orang calon yang mendaftar. Mereka menjalani latihan di Port Dickson, Negeri Sembilan. Usai pendidikan selama setahun, Adnan tamat dan terpilih sebagai lulusan terbaik berpangkat kopral.

Pada tahun 1935, Adnan dilantik dengan pangkat sersan peleton. Dua tahun kemudian tahun 1937, Adnan menerima kenaikan pangkat menjadi colour sergeant dan terpilih mewakili peletonnya ke London dalam parade memberi hormat untuk manyambut panobatan Raja Inggris, George VI, paman Ratu Elizabeth II sekarang.

Tidak lama kemudian, pangkatnya dinaikkan menjadi kompeni-sarjan-major. Diapun ditugaskan ke Singapura yang saat itu masih bergabung dengan Malaya. Di tempat tersebut, dia mengikuti kursus latihan pegawai. Setelah menamatkan kursus, Adnan mendapat kenaikan pangkat letnan dua. Diapun dilantik sebagai katua Peleton ke-7, ‘C’ Coy.

Letnan Dua Adnan Saidi gugur dalam suatu pertempuran sengit dengan Jepang di Bukit Chandu, Singapura. Pertempuran selama 48 jam tersebut terjadi tanggal 13-14 Pebruari 1942. Setelah gugur sebagai syuhada bangsa, kepahlawanan Letnan Dua Adnan Saidi seringkali disandingkan dengan perjuangan wira Melayu utama seperti Hang Tuah dan Laksamana Melaka.

Sebagai Wira Bukit Chandu

Nama “Bukit Chandu” sangat dikenal dalam sejarah Singapura dan Malaysia. Tempat itu pernah menjadi medan pertempuran sengit antara Resimen Melayu yang tergabung dalam pasukan Inggris melawan tentara Jepang yang menyalurkan hasratnya memenangkan Perang Asia Timur Raya. Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran yang paling heroik dalam sejarah Singapura dan Malaysia.

Letnan Dua Adnan Saidi merupakan infanteri yang gugur dalam usia yang masih sangat muda, 27 tahun. Dia berjuang tanpa rasa takut mempertahankan Pasir Panjang. Dia memimpin sebuah peleton berkekuatan 42 personel yang merupakan anggota Kompeni C Resimen Melayu.

Pertempuran selama 48 jam itu berlangsung dramatis dan sangat mencekam. Dari segi jumlah personel, pertempuran itu tidak seimbang karena menghadapkan 1.400 tentara dari Resimen Melayu dengan 13.000 tentara Jepang. Meski demikian, nyali Adnan tidak pernah ciut. Dia memimpin anak buahnya dengan gagah berani. Tidak ada istilah menyerah, bahkan memerintahkan pasukannya bertahan sampai titik darah penghabisan.

Salah satu kata-kata terakhirnya sebelum ajal menjemput adalah, “Biar putih tulang, jangan putih mata. Ini artinya, daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang. Lebih baik mati mulia sebagai syahid daripada hidup terhina sebagai pecundang.

Jalannya Pertempuran

Sehari setelah Jepang menyerang Pearl Harbour di Pulau Hawaii tanggal 7 Desember 1941, Tentara ke-25 Jepang langsung menyerang Malaya yang dikuasai Inggris dengan tiga mantra yaitu darat, udara dan laut.

Satu demi satu wilayah Malaya berhasil diduduki Jepang. Pulau Pinang dikuasai tanggal 17 Desember 1941. Kuala Lumpur diduduki tanggal 11 Januari 1942. Salah satu sasaran berikutnya adalah Singapura. Pada tanggal 8 Pebruari 1942, pasukan Jepang berhasil mendarat di Pantai Barat Daya Singapura.

Daerah target operasi adalah Pasir Panjang karena daerah ini sangat strategis. Di sana terdapat sebuah bukit bernama Bukit Chandu. Dinamakan demikian karena di lerengnya terdapat sebuah pabrik pemerosesan candu (opium) milik Inggris.

Karena posisi dan perannya yang strategis, Tentara Inggris harus mempertahankan Pasir Panjang khususnya Bukit Chandu agar tidak jatuh ke tangan musuh. Bukit Chandu merupakan batas pertahanan terakhir yang menjadi posisi kunci di Singapura.

Bukit Chandu menjadi kunci karena dari lokasi ini dapat terlihat Pulau Singapura ke arah Utara. Jika Jepang berhasil mengontrol puncak ini, tentu saja pasukan Negara Matahari Terbit tersebut mendapat akses menuju Jalan Alexandra di mana di lokasi itu terdapat depot Tentera Inggris yang menyimpan peluru. Selain itu, di sana juga didirikan sebuah rumah sakit militer dan instalasi utama lainnya. Dengan demikian, menguasai daerah tersebut sangat menguntungkan bagi pihak manapun.

Untuk mempertahankan Pasir Panjang, pimpinan Tentara Inggris mengirim kelompok pasukan yang dikenal dengan Kompeni C dan Kompeni D. Personel dalam Kompeni C berasal dari Resimen Melayu. Letnan Dua Adnan Saidi merupakan personel yang tergabung dalam Kompeni C yang dipimpin Kapten H.R. Rix, seorang pegawai yang pandai berbahasa Melayu. Meski demikian, Adnan juga ditugaskan sebagai komandan peleton berkekuatan 42 personel.

Salah satu strategi yang dilakukan Adnan adalah membangun dinding pertahanan dari karung pasir di lereng bukit yang dikenal dengan celah.

Pertempuran bermula tanggal 13 Pebruari 1942 setelah Jepang memulai serangan untuk merebut posisi Pasir Panjang. Dengan bersusah payah, pasukan Jepang dibawah pimpinan Mayor Kimura kesulitan memecah pertahanan keliling celah tersebut.

Setelah dua jam digempur pasukan Jepang, pasukan Kompeni C mulai terdesak. Pertempuran head-to head itu menyaksikan gugurnya banyak tentara Jepang maupun Resimen Melayu. Kompeni C mulai kewalahan digempur artileri Jepang yang memberi dukungan bagi pasukan Jepang yang menyerang.

Untuk mengurangi kontak dengan pasukan Jepang, Kompeni C dari Batalion Pertama Resimen Melayu diminta mundur sampai posisi Pt. 226 di Bukit Chandu dan mempertahankan posisi itu sekuat tenaga.

Perintah mundur dan bertahan di Bukit Chandu itu tidak lepas dari kenyataan bahwa Kompeni C dengan Kompeni D tidak dapat saling berhubungan. Antara kedua kompeni dibatasi oleh satu parit besar yang terbakar dahsyat karena dipenuhi minyak yang tertumpah dari tangki di Depot Normanton. Dengan demikian, Kompeni C terhalang mundur ke arah Selatan sehingga tidak ada pilihan lain bagi pasukan tersebut selain bertahan all-out. Kompeni C juga terhalang menerima bala bantuan sehingga cadangan logistik menipis. Karena itu, Kapten H.R. Rix memerintahkan personelnya berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tipu Muslihat Musuh

Untuk melumpuhkan pasukan Kompeni C di Bukit Chandu, tentara Jepang mencoba berbagai taktik dan muslihat. Diantaranya mengirim sekelompok tentara berpakaian seragam Sikh yang menjadi bahagian Tentara Inggris tersebut.

Mengetahui adanya pergerakan terselubung mendekati posisi Kompeni C, Adnan mencermati adanya tipu muslihat tersebut. Dia mengetahuinya melalui cara berbaris pasukan yang tidak biasa. Cara berbaris pasukan Inggris adalah bertiga dalam satu saf, sementara cara berbaris pasukan gadungan itu ada kejanggalan karena berbaris empat orang bersaf.

Baca juga: Azhari, sang Doktorandus yang Menolak Tanda Jasa

Yakin dengan pengamatannya, Adnan memerintahkan pasukannya menghujani pasukan itu secara sporadis sehingga 20 tentara Jepang tewas seketika dalam pertempuran berjarak dekat itu. Anggota pasukan yang masih tersisa maupun cidera terpaksa merangkak turun dari Bukit Chandu menyelamatkan diri. Pasukan Jepang kucar-kacir dan berhasil dipukul mundur.

Serangan Terakhir

Pada hari ke-2 tanggal 14 Pebruari 1942 pukul 4.00 sore yang mencekam, tentara Jepang dibawah pimpinan Lt. Gen. Renya Mutaguchi mengalihkan perhatian pada bagian pantai Selatan Bukit Chandu. Jepang melancarkan serangan mendadak. Mulai dari pagi, puncak itu dibombardir dengan dukungan udara, mortar berat dan tembakan artileri.

Walaupun hampir kehabisan peluru dan jumlah personel yang makin berkurang, Kompeni C khususnya peleton dibawah kendali Adnan tetap tegar menahan serangan demi serangan.

Namun tidak lama kemudian, pasukan Kompeni C makin tidak berdaya karena pasukan musuh mendapat tambahan bantuan. Selain itu, suplai amunisi dan logistik habis. Sejengkal demi sejengkal, pasukan Jepang menduduki posisi Resimen Melayu. Untuk mempertahankan diri, berbagai senjata digunakan oleh Resimen Melayu seperti bom tangan, pistol dan bayonet. Adnan sendiri menggunakan “Lewis” dan berhasil membunuh banyak musuh. Namun dalam suatu kesempatan, sang letnan tertembak dan cedera parah. Meski demikian, dia menolak mundur bahkan terus mengobarkan semangat anak buahnya untuk terus berjuang.

Karena hebatnya tantangan yang dihadapi Jepang menyebabkan pimpinan tentara Nippon naik pitam. Ketika Adnan berhasil ditawan, anggota tentara Jepang menyeret Adnan dan memasukan wira itu ke dalam karung goni. Dia kemudian digantung dalam goni di atas pohon seri dengan posisi terbalik. Kepalanya ke bawah, kakinya ke atas. Dari dalam goni tersebut, Adnan yang sedang meregang nyawa ditikam dengan bayonet berulang kali. Lehernya pun digorok sampai ajal menjemput. Mayat berbungkus karung goni itu ditinggal begitu saja di atas pohon. Tidak hanya itu, tentara Jepang juga mengancam penduduk setempat untuk tidak menurunkannya.

Pada keesokan harinya tanggal 15 Pebruari 1942, Jenderal A. E. Percival memerintahkan menyerah. Sisa pasukan Resimen Melayu ditahan dan dikelompokkan menjadi dua bahagian. Tentara berpangkat rendah dikirim ke Farrer Park untuk bergabung dengan tentara India yang berhasil ditawan dari Tentara Inggris. Tentara berpangkat tinggi seperti Kapten Rix dan personel berbangsa Inggris dibunuh.

Reaksi Keluarga atas Gugurnya Adnan

Usai peristiwa di Bukit Chandu, melalui sebuah telegram keluarganya diberitahu mengenai gugurnya Adnan. Beberapa hari sebelumnya, isterinya melahirkan anak ketiga mereka. Mendengar kabar tersebut, sang isteri langsung shock berat. Bayi perempuannya meninggal dunia.

Seolah penderitaan itu tidak berakhir sampai di sana. Tentara Jepang mulai memburu keluarga Adnan. Para tetangga yang mencurigai maksud Jepang, menyarankan keluarga Adnan segera menyingkir. Orang tua Adnan memutuskan mengungsi ke Ampek Angkek bulan Desember 1942. Jika mereka bertahan di Malaya, tentu saja nyawa mereka terancam. Begitu pula dengan saudara Adnan seperti Amarullah terpaksa membuang foto-foto Adnan termasuk barang-barang pribadinya. Tidak seorang pun yang berani menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan Adnan. Karena itu, diantara artifak kepunyaan Adnan yang masih tersisa hanyalah tiga medali yang dianugerahkan Tentara Inggris yaitu: Bintang 1939-1945, Medali Pertahanan dan Medali Perang 1939-1945.

Tujuh tahun usai gugurnya Adnan, isterinya Sofia jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia tahun 1949. Anak-anak mereka pun diasuh keluarga angkat.

Kesaksian Atas Kewiraan Adnan

Dalam upaya mempertahankan posisi strategis di Singapura tanggal 12-14 Pebruari 1942 tersebut, Resimen Melayu harus kehilangan sebanyak 159 orang personelnya, termasuk 6 orang berkebangsaan Inggris.

Pertempuran Pasir Panjang khususnya Bukit Chandu telah menampilkan kepahlawanan anggota Resimen Melayu yang sebelumnya sempat diragukan kemampuannya oleh Tentara Inggris.

Menurut penulis Inggris bernama Noel Barber, pengarang buku “Sinister Twilight” bahwa pasukan Melayu adalah sebuah pasukan tentera regular yang terdiri dari anak-anak pribumi yang dikomandoi Inggris berbahasa Melayu.

Kepahlawanan Adnan dan anak buahnya mematahkan sinyalemen Inggris yang sebelumnya enggan membentuk Resimen Melayu karena meragukan semangat orang pribumi mempertahankan negaranya dalam menghadapi musuh.

Sementara itu, pimpinan tentara Inggris Jenderal A.E. Percival menyatakan bahwa pasukan Resimen Melayu telah menunjukkan keberanian yang penuh semangat “esprit de corps” serta kedisiplinan yang tangguh. Anggota Resimen Melayu mempertahanan kedudukan sesuai komando, meskipun harus mengorbankan jiwa dan raga.

Salah seorang saksi sejarah dalam peristiwa itu, Yaakob bin Bidin menceritakan keberanian Letnan Adnan dengan mengatakan bahwa dia mengarahkan orang-orangnya tidak menembak jika tidak mendapat arahan darinya. Walaupun sudah menerima arahan untuk berundur dari pegawai atasannya, namun Letnan Dua Adnan tetap bersemangat mempertahankan kubu di Bukit Chandu itu, apalagi setelah mengetahui hampir semua pertahanan Tanah Melayu sudah jatuh ke tangan Jepang.

Letnan Dua Adnan Saidi berkata, ”Bertahanlah dengan berani dan ingat kepada Allah yang maha berkuasa”. Dia menjadi lebih bersemangat dan sanggup mati apalagi setelah mengetahui ketua pasukannya, Kapten Rix sendiri telah terbunuh dalam pertempuran.

Paska pertempuran ini, Resimen Melayu dikenal sebagai pasukan tentara yang disegani di kalangan resimen Negara Persemakmuran (Commonwealth), sedangkan Letnan Dua Adnan Saidi dikenang sebagai pahlawan, patriot bangsa bagi Republik Singapura dan Kerajaan Malaysia.

Penghormatan Singapura dan Malaysia

Karena perjuangannya yang luar biasa, khususnya dalam mempertahankan Pasir Panjang, jenazah Letnan Dua Adnan Saidi kemudian dimakamkan secara layak di Kranji War Memorial, Singapura.

Pada tahun 1995, Pemerintah Singapura membuat prasasti peringatan perang di Taman Kent Ridge yang dibangun sebagai penghormatan atas semangat perjuangan dan patriotisme dari Letnan Dua Adnan Saidi dan Resimen Melayu.

Sebuah karya seni karya Ho Tzu Nyen juga dipajang di Stasiun MRT Pasir Panjang berjudul “Lieutenant Adnan”. Karya poster ini menggambarkan potongan adegan film mengenai kepahlawanan Adnan yang diperankan aktor Aaron Aziz.

Pada tahun 1999, kisah heroik Adnan dalam Perang Chandu diangkat ke layar lebar yang diperankan oleh aktor Hairie Othman dengan judul “Leftenan Adnan”.

Tahun 2001, kisah hidup Letnan Adnan juga diputar dalam sebuah film serial televisi Singapura berjudul “A War Diary”.

Pada tahun 2004, aktor Aaron Aziz juga memerankan film episode sejarah berjudul “Life Story” yang ditayangkan melalui Mediacorp Channel 5 yang menggambarkan kehidupan pribadi Adnan Saidi.

Pada bulan Mei 2016, aktor Singapura Fadhlur Rahman memerankan diri sebagai Adnan dalam film berjudul “Heroes: Battle of Bukit Chandu” yang ditayangkan Mediacorp Channel 5, Channel 8, Suria, Vasantham and Channel News Asia. Dalam episode tersebut, terdapat wawancara dengan cucu Adnan, Wan Sofia Zainuddin.

Pada tanggal 5 Juni 2019, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, Presiden ke-8 Singapura Halimah Yacob meresmikan peluncuran uang kertas nominal S$20 dalam rangka peringatan 200 tahun berdirinya Singapura (Singapore’s Bicentennial 1819-2019). Dalam uang kertas itu dimuat gambar sosok Letnan Dua Adnan Saidi bersama tujuh tokoh lainnya.

Tidak sampai di situ, kisah heroik perjuangan Letnan Dua Adnan Saidi dan Resimen Melayu di Negara Kota tersebut tersimpan rapi di sebuah bangunan bersejarah bernama “Reflections at Bukit Chandu”.

Tempat berupa bungalow ini dulunya digunakan sebagai tempat menghimpun jenazah pasukan Melayu yang tewas. Menurut saksi mata, mayat-mayat bergelimpangan yang umumnya telah dimutilasi. Pada salah satu kamar di bungalow ini ditemukan mayat seorang pejabat Tentara Melayu. Lehernya sudah digorok berulang kali, seragamnya berlumuran darah. Dari lencana yang terpasang, saksi sejarah itu meyakini bahwa mayat yang terpisah itu adalah Letnan Dua Adnan Saidi.

Di tempat yang berada di bawah instansi Arsip Negara Singapura tersebut, pengunjung dapat melihat benda sejarah (artifak) termasuk patung Letnan Dua Adnan Saidi. Pengunjung juga dapat menonton film dokumentasi sehingga dapat merasakan suasana selama Perang Dunia II.

Setali tiga uang dengan Singapura, Kerajaan Malaysia juga mengabadikan nama Letnan Dua Adnan Saidi pada kendaraan tempur infantri dan sekolah kebangsaan di Kajang, Selangor. Sebuah buku biografi juga diterbitkan oleh Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM) berjudul “Leftenan Adnan Saidi: Pahlawan Bukit Chandu” karya Kolonel Ramli Abu Bakar tahun 2015. Pengarang terkenal Malaysia Abdul Latip Talib menulis novel sejarah berjudul “Leftenan Adnan Wira Bangsa” diterbitkan PTS Fortuna tahun 2008.

Tanjung Alam, 13 Juli 2020

*Penulis, Efri Yoni Baikoeni, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
**Foto dokumen penulis edit with canva

Bagikan
  • 152
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Jalan Terjal Bacawako Bukittinggi Jalur Nonpartai

"Kami memiliki cukup alasan untuk mengadukan ke Bawaslu terkait berbagai indikasi pelanggaran aturan oleh KPU," kata Martias ke media.
Penetapan bacawako jalur nonpartai - Repat Pleno Terbuka KPU Bukittinggi foto. ist