Komunikasi Kesehatan, Rumah Sakit dan BPJS

redaksi bakaba

menteri kesehatan yang berasal dari dokter, lebih suka membebankan tingginya biaya kesehatan kepada masyarakat sebagai calon pasien. Menyetujui kenaikan iuran BPJS ketimbang mencari cara-cara lain yang lebih kreatif yang tidak membebani masyarakat yang sudah tercekik dengan berbagai kenaikan harga.

Bagikan
  • 129
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Silas Camargo Silão dari Pixabay
Gambar oleh Silas Camargo Silão dari Pixabay

~ Delianur

Kalau kita menonton film-film dari Barat, utamanya melihat pada adegan adanya orang meninggal di rumah sakit, kita akan melihat perilaku ajeg tentang bagaimana cara pihak rumah sakit berhadapan dengan keluarga korban yang ditinggalkan meninggal.

Biasanya ketika menyampaikan berita duka ke keluarga yang ditinggalkan, dokter hanya berkata “I am sorry” dengan muka sedih penuh empati. Seketika keluarga korban sudah mengerti situasinya. Kemudian manakala keluarga korban bertanya sebab kematian, dokter akan menjawab dengan kesiapan dimarahi. Misalkan penyebabnya belum diketahui, maka dokter akan bilang masih dicari sambil membiarkan dirinya dimarahi keluarga korban. Atau dalam film-film bertema spionase dan berkaitan dengan keamanan nasional, bila penyakitnya mesti dirahasiahkan, maka si dokter akan bersikukuh tidak memberitahukan keluarga korban. Si dokter juga membiarkan keluarga korban memarahi dirinya.

Namun ujung dari semuanya, dokter selalu menawarkan keluarga korban untuk mendatangi ruang duka yang disediakan rumah sakit. Sebuah ruang untuk menenangkan diri dengan didampingi seorang psikolog.

Kalau film dalam banyak hal merupakan cerminan kehidupan masyarakatnya, maka begitulah komunikasi yang terjadi di rumah sakit di barat. Rumah sakit seperti sudah mempunyai prosedur bagaimana cara berkomunikasi dengan keluarga pasien yang ditinggalkan. Kalau berbicara dengan keluarga pasien pun diperhatikan, mestinya berbicara dengan pasien pun sudah ada aturannya.

Kondisi ini berbeda dengan apa yang dialami di Indonesia. Gambaran awal tentang sikap rumah sakit terhadap pasien mungkin bisa kita dengar pada lagu Iwan Fals yang berjudul Ambulance Zig Zag. Lagu yang dirilis tahun 1981 menceritakan situasi yang dihadapi pasien di rumah sakit di Indonesia.

Ketika pasien kaya datang, pihak rumah sakit tanpa ba bi bu sigap menanganinya. Kebalikannya. Ketika yang datang adalah pasien yang terlihat tidak berpunya, sang suster alih-alih sigap menangani, dia malah bertanya ini itu dan ditutup dengan dengan perintah untuk membayar ongkos pengobatan terlebih dahulu. Lalu ketika si pasien mengatakan bahwa dia tidak membawa uang, sikap si suster makin menjadi. Sambil melotot dia mengatakan kepada si pasien yang sedang kepayahan untuk tunggu di muka.

Komunikasi

Sekarang zamannya pasti sudah berubah. Keberadaan BPJS, institusi yang dibentuk berdasarkan perintah UU untuk menangani masalah pembiayaan di rumah sakit, tentunya sudah menurunkan perilaku seperti yang digambarkan Iwan Fals dalam lagunya. Namun bukan berarti komunikasi empatik antara dokter dan rumah sakit sudah terbangun sedemikian rupa. Setidaknya beberapa waktu lalu, ketika seorang dokter yang sekarang menjadi pejabat tinggi negara ditanya mengenai tingginya harga masker, dia justru menyalahkan masyarakat yang membelinya. Padahal masyarakat sudah dirugikan dengan kenaikan harga. Bukannya menjelaskan situasi yang sedang terjadi dan memberikan pengharapan bahwa situasi itu bisa ditangani segera.

Berkaitan dengan komunikasi kesehatan, komunikasi sebagai bagian dari penyembuhan, saya selalu terkenang dengan paparan Martin E.P Sellignman dalam bukunya berjudul “Authentic Happiness” terbit tahun 2002.

Dalam buku tersebut dituliskan bagaimana pengalaman Sellignman menghadapi seorang pasien di sebuah klinik. Pengalaman inilah yang menjadi titik balik seorang Sellignman dalam melihat pasien dan juga ilmu psikologi.

Disebutkan ada seorang pasien perempuan yang mengalami penyakit mental akut di sebuah klinik pengobatan. Kepala perempuan tersebut mesti diberi helm sebagai perlindungan. Karena tiap beberapa menit dia selalu membentur-benturkan kepalanya ke tembok.

Menurut semua dokter dan perawat yang pernah menanganinya, pasien tersebut sudah tidak punya harapan untuk sembuh. Semua obat sudah dimasukkan ke tubuhnya dan semua terapi juga sudah dilakukan. Tetapi perempuan tersebut tetap saja membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Satu-satunya solusi ketika pasien tersebut tidak bisa dikendalikan lagi, adalah dengan membiusnya. Tidak ada yang lain.

Seperti juga dokter dan perawat yang sudah menangani pasien tersebut sebelumnya, Sellignman awalnya juga buntu berhadapan dengan pasien tersebut. Sellignman tidak mempunyai jalan keluar dari kondisi akut yang dialami pasiennya. Sepertinya obat kimia dan kematian adalah solusi dari permasalahan yang dihadapi pasien tersebut.

Namun menurut Sellignman, ketika dia berhadapan dengan pasien tersebut, dia melihat adanya tatapan mata yang menyiratkan permohonan pertolongan kepada Seligman. Tatapan matanya seperti mengatakan kalau dia ingin sembuh. Tatapan mata penuh pengharapan itulah yang membuat Sellignman bertahan untuk tetap menangani pasien tersebut. Sellignman terus berupaya mencari cara menyembuhkan pasien akut tersebut.

Ternyata tatapan mata penuh pengharapan serta respon Sellignman terhadap sisi kemanusiaan pasien tersebut, bukan hanya membuat Sellignman bertahan menangani pasien tersebut. Tetapi juga menjadi pangkal kesembuhan pasien tersebut. Sellignman mempunyai cara pandang lain terhadap pasien tersebut.

Bila dokter dan perawat sebelumnya melihat pasien tersebut sebagai orang sakit yang perlu disembuhkan, maka Sellignman mempunyai pandangan berbeda. Dia membalik pandangan tersebut. Bagi Sellignman, perempuan tersebut adalah orang sehat yang bisa disembuhkan. Buktinya, dalam kesakitan akutnya, pasien tersebut masih mempunyai tatapan mata kemanusiaan dan pengharapan akan kesembuhan. Sellignman merubah pandangan negatif terhadap perempuan tersebut menjadi pandangan positif.

Berdasar pandangannya tersebut, Sellignman pun mencari dan menguji berbagai cara untuk menyembuhkan pasien tersebut. Di antara efek perbedaan cara pandang Sellignman dengan dokter sebelumnya, terlihat dari sikap kepada pasien. Sellignman memperlakukan pasien tersebut sebagai manusia sehingga banyak melakukan pendekatan kemanusiaan seperti tersenyum, menyapa, dan mengajaknya jalan-jalan di taman untuk melihat lingkungan dan lain-lain. Sebagaimana layaknya orang sehat. Tidak memperlakukannya seperti pasien yang selalu harus dikurung di ruang perawatan.

Selain itu, Sellignman juga tidak melulu menjadikan obat sebagai solusi. Memeluk pasien, bercengkrama dengan pasien dan sederet aktivitas keseharian biasa orang sehat, adalah hal yang dipraktikkan Sellignman.

Mungkin hal yang menarik adalah cara Sellignman melihat fase ketika pasien tersebut membentur-membenturkan kepalanya ke dinding. Karena pandangan negatif, dokter dan perawat sebelumnya hanya melihat momen pasien membenturkan kepalanya ke dinding sebagai perilaku negatif saja. Tidak lebih dari itu.

Namun Sellignman mempunyai pandangan lain tentang kejadian itu. Karena berpandangan positif, maka Sellignman pun menangkap sisi positif dari kebiasaan pasien membenturkan kepalanya.

Usai menguji rentetan cara menyembuhkan pasiennya, pasien tersebut tetap membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Namun pandangan positifnya, Selligman mampu melihat perbedaan peristiwa membenturkan kepala tersebut. Sellignman melihat adanya interval waktu yang makin melebar antara waktu manakala perempuan tersebut membenturkan kepalanya ke dinding. Penyebab melebarnya interval waktu tidak membenturkan kepala itulah yang diselilidiki oleh Sellignman dan terus dijadikan treatmen kepada pasien. Sampai pada akhirnya Sellignman tidak hanya berhasil menemukan cara memperlebar interval waktu si pasien tidak membenturkan kepala. Tetapi juga berhasil menghentikan kebiasaan pasien tersebut dalam membenturkan kepala.

Dalam pandangan negatif dokter dan perawat sebelumnya, pasien adalah perempuan yang suka membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Namun dalam pandangan Sellignman, ada sementara waktu si perempuan tersebut tidak membenturkan kepalanya ke dinding. Hal itulah yang dicari penyebabnya.

Sellignman berhasil menyembuhkan pasien yang suka membenturkan kepala ke dinding tersebut. Sellignman memulainya dengan cara melihat titik positif dari perempuan tersebut, serta memperlakukannya sebagai mana layaknya orang biasa.

Martin E.P Sellignman sendiri adalah Guru Besar Psikologi dari Universitas Pennsylvania. Dengan temuan dan cara pandangnya, dia dianggap sebagai pelopor Psikologi Positif dan menjadi Direktur Positive Psychology Network. Pada tahun 2002 Sellignman menerima penghargaan sebagai “Lifetime Distinguished Contribution to Science and Practice” dari California Psychological Association. Sebelumnya pada tahun 1998 dia adalah Presiden pada American Psychological Association.

Secara teoritik, Psikologi Positive Martin Sellignman ini selalu dikontraskan dengan psikologi klinis atau Psikologi negative. Bila dalam Psikologi Positive pasien diperlakukan sebagaimana layaknya dia diperlakukan sebagai orang sehat, maka dalam psikologi klinis pasien diperlakukan sebagaimana orang sakit. Basis psikologi klinis ini bisa ditemukan dalam psikoanalisis-nya Sigmund Freud. Psikolog penemu teori ice berg dalam kepribadian manusia, dikenal mempunyai pandangan negative terhadap manusia. Bagi Freud, dasar prilaku manusia itu pada dasarnya adalah pemenuhan kebutuhan seks, dan akumulasi pengalaman traumatik dirinya semasa kecil. Freud seperti tidak mengindahkan bahwa dalam diri manusia juga terkandung motif positive dalam membentuk prilaku. Seperti motif ingin berbuat kebaikan sebagaimana perintah agama, berbakti kepada orang tua dan sesama, atau motif ingin membangun kenyamanan dan hubungan baik.

Di kemudian hari, apa yang dikembangkan Sellignman bersambut dengan para psikolog muslim seperti Robert Frager, yang memperkenalkan Psikogi Transpersonal. Sebagaimana Psikologi Positive yang dasarnya adalah pandangan positif pada manusia, maka begitu juga dengan Psikologi Transpersonal. Robert Frager sebagai salah satu pionirnya, melandaskan pandangannya pada pandangan positif terhadap manusia. Karena Frager adalah penggelut dunia tasawuf, maka Robert menyerap pandangan-pandangan positif tentang manusia berdasarkan tasawuf.

Spiritual

Dalam agama, bila hal spiritualitas adalah hal yang positif sementara hal keduniawian adalah hal yang negatif, maka pandangan positif Psikologi Transpersonal terhadap manusia, bisa kita telaah dari kata-kata bahwa “Manusia bukanlah makhluk duniawi yang mengalami pengalaman spiritual, tapi manusia adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman kemanusiaan”

Kembali ke Komunikasi Kesehatan mungkin dalam diskursus ilmu komunikasi, maka komunikasi kesehatan adalah bidang yang tidak terlalu mendapat perhatian. Kajian tentang komunikasi politik, komunikasi sosial pembangunan, komunikasi organisasional, lebih mengemuka dibanding perbincangan komunikasi kesehatan. Karenanya disiplin ini tidak hanya dikenal di masyarakat, juga tidak membentuk dalam relasi antara pasien dan dokter di rumah sakit di dunia kesehatan. Komunikasi kesehatan tidak menjadi bagian integral dalam proses penyembuhan pasien. Padahal sebagaimana yang dipraktikkan Sellignman, interaksi yang baik antara pasien dan dokter menjadi bagian dari penyembuhan.

Karena tidak adanya hubungan yang erat antara dokter-pasien inilah mungkin berimbas kepada kebijakan-kebijakan di dunia kesehatan. Pemegang kebijakan dunia kesehatan yang banyak di antaranya berasal dari dokter-dokter, sering nir-empati dan abai terhadap kondisi pasien.

Kebijakan kenaikan iuran BPJS misalnya, menteri kesehatan yang berasal dari dokter, lebih suka membebankan tingginya biaya kesehatan kepada masyarakat sebagai calon pasien. Menyetujui kenaikan iuran BPJS ketimbang mencari cara-cara lain yang lebih kreatif yang tidak membebani masyarakat yang sudah tercekik dengan berbagai kenaikan harga. Begitu juga dengan Direksi BPJS. Mendapat gaji dan tunjangan yang sangat tinggi sambil menuntut masyarakat yang sedang kolaps secara ekonomi untuk menaikan iuran BPJS.

*Penulis, mantan Ketua PB PII, berasal dari Agam
**Gambar oleh Silas Camargo Silão dari Pixabay 

Bagikan
  • 129
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Proyek RSUD Diteruskan, Berpotensi Rugikan Negara

"Kami sudah sering mengingatkan Pemko, sudah kering, malah pecah-pecah bibir kami. Jika nanti timbul masalah hukum tentu Pemko Bukittinggi yang akan bertanggung jawab," ujar Rusdy Nurman.
Proyek RSUD Bukittinggi (Foto: Fadhly Reza)