Kemustahilan Radikalisme dan Terorisme

redaksi bakaba

Umat Islam yang menjadikan kekerasan sebagai bentuk aktualisasi Islam, jelas bertentangan dengan prinsip hidup dan cara pendekatan dakwah Nabi

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Image by Gerd Altmann from Pixabay
Image by Gerd Altmann from Pixabay
Irwan, S.H,I.,M.H.
Irwan, S.H,I.,M.H.

~ Irwan Rajo Basa

Nabi Muhammad SAW lebih keras tantangannya dalam menyebarkan Islam. Dicaci, diludahi, dihina dan bahkan sampai pedang pun lekat di lehernya, akan dibunuh oleh Quraisy Mekkah. Bahkan pernah dalam beberapa hari Nabi di blokade oleh kaumnya sehingga Nabi dan para sahabat tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam keadaan lapar dan tertekan, Nabi terus bertahan.

Perlakuan yang kasar terhadap Nabi itu tidak lantas mendorongnya untuk mengajarkan kekerasan dan sikap balas dendam. Nabi tetap bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang yang berlaku keras terhadapnya. Nabi percaya, perintah Tuhan untuk berlemah lembutlah terhadap mereka, adalah perintah yang penuh dengan semangat ke-Tuhanan (tauhidi).

Prinsip kasih sayang yang diajarkan Nabi, bertolak belakang dengan karakter masyarakat Arab yang temparemental dan pantang dihina. Bagi masyarakat Arab, harga diri adalah di atas segala-galanya, siapapun yang menghina mereka, maka pedanglah balasannya. Perilaku masyarakat Arab adalah tipikal masyarakat paling keras, kejam, dan bengis, layaknya kondisi geografis daerahnya yang tandus dan gersang.

Muhammad adalah personifikasi dari Musa dan Isa. Musa menggunakan kekerasan dalam menyebarkan tauhid, hukuman pancung menjadi simbol agama Musa. Sementara Isa bertolak belakang dengan Musa; lunak, lembut dan mengorbankan dirinya untuk menebarkan agama.

Pendekatan keagaman Musa dan Isa, dengan sifat theologies monotheistik Ibrahim, Muhammad tampil sebagai pembawa agama keselamatan (Islam). Tidak bersifat kekerasan dan tidak pula terlalu lunak, ada keseimbangan mengikuti kecenderungan perubahan peradaban manusia. Perubahan karakter itu, oleh Ibn Khaldun disimpulkan besar pengaruhnya terhadap perilaku dan sikap masyarakat dalam kehidupan sosial.

Moderasi karakter Islam yang diperlihatkan oleh perilaku kasih sayang Muhammad menjadi simbol dari ajaran Islam. Sebagaimana dikatakan “tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Islam oleh karenanya adalah agama tempat persemaian kebaikan yang dituntun oleh al-Qur’an dan Sunnah untuk menciptakan kasih sayang bagi alam semesta.

Prinsip pertama kasih sayang dalam Islam adalah menyayangi anak-anak, perempuan dan orang tua. Prinsip kedua kasih sayang dalam Islam adalah tidak memanggil nama orang lain dengan panggilan buruk dan menghina. Prinsip ketiga kasih sayang dalam Islam adalah tidak membunuh orang dan menghilangkan nyawa manusia. Prinsip keempat kasih sayang dalam Islam adalah menghormati orang-orang yang telah uzur usianya. Prinsip kelima kasih sayang dalam Islam adalah menolong orang fakir miskin, dhuafa’ dan orang-orang yang lemah. Prinsip keenam kasih sayang dalam Islam adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat.

Prinsip-prinsip kasih sayang tersebut menjadi karakter agama Islam dan penganutnya. Islam tidak diajarkan dengan pedang, dan tidak pula dengan kekerasan fisik. Islam diajarkan Nabi dengan kesantunan dan perilaku kasih sayang yang beliau perlihatkan sendiri kepada para sahabat di sekitarnya. Untuk itu, hampir tidak pernah keluar dari mulut nabi mengkafirkan orang lain dan bersikap represif serta kasar kepada umat beragama lainnya.

Konsepsi jihad yang diajarkan Nabi adalah untuk menjaga keseimbangan agar prinsip-prinsip kasih sayang tidak dilanggar manusia. Tidak salah, jika al-Qur’an mengatakan “siapa yang berjihad di jalan kami, maka akan kami tunjukkan jalan kami kepada mereka”. Jalan kami itu adalah “kasih sayang” yang merupakan sifat dari Allah sendiri.

Nabi tidak pernah mengatakan jihad itu adalah perperangan. Sekembali dari perang Badar, nabi berucap, kita baru kembali dari perang besar, bukan jihad besar, tetapi ada perang yang lebih besar lagi yaitu “jihad melawan hawa nafsu”.

Jihad merupakan kerja bersifat kejiwaan, bukan fisik. Oleh karena itu, perperangan hanya bagian kecil dari bentuk kemampuan melawan kekerasan, ada kejiwaan lain yang lebih besar, yaitu melawan hawa nafsu, yang pantang kerendahan.

Umat Islam yang menjadikan kekerasan sebagai bentuk aktualisasi Islam, jelas bertentangan dengan prinsip hidup dan cara pendekatan dakwah Nabi, maka mereka jelas musuh Islam. Sebaliknya, orang-orang yang menghukum perilaku personal umat Islam yang melakukan kekerasan dan gerakan teror, memandangnya sebagai bersumber dari ajaran Islam, termasuk orang bodoh yang tidak mengerti dengan prinsip hidup Muhammad.

Melihat kondisi dewasa ini, ketika maraknya radikalisme dan terorisme di arahkan kepada kelompok muslim –yang belum tentu Islami– negara melakukan kesalahan fatal dengan menghapus konsepsi jihad ala Muhammad. Dan menganggap pelajaran jihad berbahaya karena merangsang adrenalin kekerasan umat Islam. Kesimpulan ini ternyata salah, bahkan dengan mendegradasi konsepsi jihad dalam al-Qur’an dan sunnah, sebenarnya negarapun terlibat menciptakan potensi kekerasan pada masyarakat.

Jihad adalah prinsip ajaran penyebarluasan kasih sayang dan kematangan individual dalam menghadapi problem kehidupan, jadi bukan ajaran kekerasan. Jihad adalah jalan menemukan kasih sayang Tuhan, bukan pembunuhan, kekacauan apalagi meruntuhkan negara.

*Penulis, Advokat & Peneliti Portal Bangsa
**Image by Gerd Altmann from Pixabay 

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Ide Amandemen Terbatas Mahutama Diapresiasi MPR

"Sistem perencanaan model GBHN akan menjamin kesinambungan pembangunan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Juga menjamin koherensi perencanaan pembangunan antara Pusat dan Daerah
Ketua MPR bertemu MAHUTAMA