Kebenaran Bungkam karena Kekuasaan

redaksi bakaba

Jurnalisme pada dasarnya adalah jalan juang untuk mengungkapkan kebenaran faktual. Kini itu pula yang dipermainkan segelintir orang yang tiba-tiba memakai jurnalisme sebagai alat kepentingan memelintir kebenaran.

Bagikan
  • 102
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh PDPics dari Pixabay
Gambar oleh PDPics dari Pixabay
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, MA.

~ Abdullah Khusairi

Kebenaran memang bisa dibungkam kekuasaan tetapi sama sekali tidak akan mungkin bisa dikalahkan. Pratagonis – Antagonis boleh jadi tidak tampak tetapi kebenaran selalu tiba pada saatnya. Ditutup serapat apapun, kebenaran akan keluar melalui celah paling halus. Begitulah watak kebenaran.

Inilah yang terjadi di tengah arus informasi yang kian mengeruhkan kehidupan kita. Kebenaran bisa jadi akan berada dalam kekeruhan hingga sulit dilacak, diambil, digunakan. Butuh kerja keras, butuh perjuangan. Begitu banyak yang menyalahkan, begitu banyak yang membangun prasangka agar semuanya kembali kabur. Prasangka mengaburkan kebenaran dan terus mencoba menyalahkan yang benar. Begitulah watak prasangka.

Jurnalisme pada dasarnya adalah jalan juang untuk mengungkapkan kebenaran faktual. Kini itu pula yang dipermainkan segelintir orang yang tiba-tiba memakai jurnalisme sebagai alat kepentingan memelintir kebenaran.

Ada kepentingan busuk di balik jurnalisme yang mereka pakai, membangun fakta-fakta dengan seluruh kekuatan praduga dan prasangka. Seterusnya tak segan-segan membangun logika yang buruk.

Didasari dengan dalil kebencian dan kedangkalan nalar, kebenaran dikaburkan agar terlihat menjadi salah. Inilah salah satu bentuk nalar post-truth. Tergelincir dari pijakan kebajikan karena kepentingan-kepentingan sesaat yang berangkat dari hawa nafsu, bukan dari hati nurani. Hikmah kebijaksanaan dibunuh dengan menihilkan segala macam bisikan kebenaran. Caci maki dilahirkan karena kedangkalan data dengan menyingkirkan fakta-fakta. Dalil-dalil kebenaran disimpan dalam laci kejumudan. Begitulah, akhir-akhir ini pijakan kebenaran berangkat dari kepentingan kekuasaan dalam bentuk kelompok, mazhab, pertemanan, politik, budaya, ekonomi, bahkan atas nama agama.

Primordialisme merebak, sekretarianisme meruyak, kebenaran menjadi sebuah gerakan jalan sunyi yang dibenci. Lalu muncul kebenaran atas nama kekuasaan kelompok, mazhab, pertemanan, politik, ekonomi, dan yang dipaksakan ke mulut publik secara virtual, bukan secara realitas. Sebagian menerima dalam bentuk tertipu, sebagian lain terjaga dan mengelak atas kebenaran yang terbuat secara virtual itu.

Kejujuran menjadi barang langka. Kebenaran dibangun karena jumlah. Jumlah yang sedikit, kalah.

Kemampuan untuk fokus pada persoalan menjadi lemah, melebar dan mengaburkan. Pada titik inilah sebenarnya dampak dari politik praktis yang didengungkan sebagai demokratisasi di tengah rasa lapar di perut dan batin publik. Menegakkan kebenaran agama bisa menjadi keliru jika berhadapan dengan kebenaran yang banyak. Bisa dianggap memalukan karena mengungkapkan kebatilan. Dianggap tidak solider dengan kekuasaan yang korup dan tak memenuhi hajat kepentingan publik. Kekuasaan yang lemah dibentengi dengan topeng-topeng kesalehan yang indah.

Maka benar, kebenaran itu milik orang-orang yang sedikit. Milik orang yang tak ingin terbawa arus kebenaran dalam versi virtual tersebut. Orang-orang yang sadar, kebenaran akan selalu bersetuju dengan akal sehat (common sense), nurani, jiwa, spiritualitas. Jika bertolak, tak mudah tertelan. Semakin dipaksa, semakin dilawan. Semakin dihidangkan, semakin berbau busuk.

Semua orang bisa saja mengaku berada di jalan yang benar, tetapi kebenaran sejatinya tidak mungkin bisa dibuat-buat dan direkayasa dengan mencampurkannya dengan kebatilan. Terserah, tanyalah ke hati. Berada di kebenaran yang manakah tuan-puan berpijak kini. Salam. *

*Penulis, Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang
**Gambar oleh PDPics dari Pixabay 

Bagikan
  • 102
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Kota Islami, Antara Politik Kenabian dan Ambisi Simbolik

upaya pemaksaan atas nama kepentingan ideologi parsial tidak saja merugikan bagi kepentingan Islam secara universal. Namun, juga akan menempatkan Islam pada tafsir yang salah
Gambar oleh Khusen Rustamov dari Pixabay