Kampung Wisata Sarugo di Koto Tinggi

redaksi bakaba

Kampung ini merupakan daerah penting semasa PDRI, Syafruddin Prawiranegara beserta petinggi lainnya pada masa itu, ternyata pernah bermukim di sana, masih bisa dijumpai beberapa peninggalannya

Bagikan
  • 25
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Kampung Wisata Sarugo Koto Tinggi, foto Afri Zon
Kampung Wisata Sarugo Koto Tinggi, foto Afri Zon

bakaba.co | Limapuluh kota | Kampung Wisata Saribu Gonjong, disingkat Sarugo, yang terletak di Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi , Kecamatan Gunung Omeh, Limapuluh Kota, Sumbar masuk dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 kategori Kampung Adat.

Sarugo merupakan desa wisata binaan Fakultas Pariwisata Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) sejak setahun silam.

Mengunjungi perkampungan terpencil dan paling utara di Kabupaten Lima Puluh Kota itu. Tak tersedia sinyal telepon provider apapun. Wifi jaringan memang sudah ada, namun tak maksimal.

Sesuai namanya, Sarugo merupakan perkampungan adat dengan rumah gonjong yang sangat padat. Deretan rumah gonjong di sini, seperti membentuk barisan rapi dan semuanya menghadap ke Masjid Raya.

Panorama Kampung Wisata Sarugo Koto Tinggi, foto Afri Zon
Panorama Kampung Wisata Sarugo Koto Tinggi, foto Afri Zon

Deretan rumah gonjong yang didirikan sekitar 1920an itu, berdiri megah seakan menyambut setiap tamu yang datang. Ada 29 rumah gonjong dengan ukuran sekitar 5 x 16 meter. “Gonjong tiap rumah ada lima, itu mencerminkan Rukun Islam,” kata Kepala Jorong Sungai Dadok, Handrisman, Jum’at, awal Juli 2020 lalu.

Sekeliling Sarugo ada deretan perbukitan. Sarugo seperti terkurung bukit. Ada 800 jiwa penduduk yang tinggal di sini. Mereka menggantungkan diri di sektor pertanian, terutama hasil jeruk siam Gunuang Omeh yang melimpah seluas 200 hektare.

Baca juga: Nirwana yang Tersembunyi

Penduduk Sarugo menjunjung tinggi nilai budaya. Mereka disiplin, ramah dan religius. Di setiap sendi kehidupan, adat Minangkabau selalu dikedepankan.

Suasana pedesaan yang asri di tambah semilir angin dari bebukitan, mendatangkan nuansa damai yang tak ditemukan di tempat lain.

“Di sini ada 18 suku yang hidup berdampingan, setiap suku wajib punya rumah gadang. Kita masih mempertahankan tradisi dari masa silam,” ujar Kepala Jorong.

Sarugo, sepertinya merupakan salah satu dari sedikit kampung yang begitu tradisional. Karena sulitnya akses komunikasi untuk gadget, kesenian anak nagari berkembang pesat. Seperti randai, talempong, maupun silek masih lestari sejak dulu hingga kini.

Di kampung nan permai ini, mengalir dua sungai yang kemudian bertemu membentuk Batang Sinamar. Di cabang sungai ini, terciptalah “Tapian” yang disebut Lubuk Liuang. Saban sore, jika cuaca baik, tapian ini ramai dikunjungi belasan anak-anak Sarugo. Arusnya tergolong jinak dan jernih, juga ada semacam air terjun kecil dengan lubuk dalam. Anak-anak berhamburan ria ke dalam sungai. Pemandangan yang mengesankan.

“Kita tentu akan membenahi banyak potensi wisata kita ke depannya, karena kita punya adat, alam dan kawasan agro. Kita pun sudah bisa menerima tamu menginap di home stay Rumah Gonjong,” kata Handrisman.

Selain alam dan budayanya, Sarugo masih punya lagi potensi lainnya yang tak kalah menggoda, yakni wisata sejarah.

Kampung ini merupakan daerah penting semasa PDRI, Syafruddin Prawiranegara beserta petinggi lainnya pada masa itu, ternyata pernah bermukim di sana, masih bisa dijumpai beberapa peninggalannya.

Untuk ke Sarugo, harus menempuh jalanan berliku sejauh 50 kilometer dari Payakumbuh menuju Gunuang Omeh, atau 1,5 jam berkendara. Bisa ditempuh roda dua atau empat.

~ relumsb/bakaba

Bagikan
  • 25
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Arah Baru Kelompok Islam Politik di Indonesia

Artinya, daya kritis kelompok islam politik mampu menjadi tandingan bagi parlemen dalam mengarahkan kebijakan terhadap upaya ideologisasi negara
politik umat islam Image by succo from Pixabay