Home > Opini > Kabinet Kompromi Elit

Kabinet Kompromi Elit

Oleh: Wendra Yunaldi

KABINET Periode II Presiden Joko Widodo masih terus dikomentari dari berbagai sisi. Ada yang suka ada yang tidak, biasalah.

Lazimnya sebuah keputusan, sulit membuat semua orang untuk puas. Kini waktunya, setelah serah terima jabatan antar menteri yang lama dengan menteri yang baru, memberikan kesempatan mereka berkarya atas nama anak bangsa.

Masuknya Partai Gerindra ke dalam KIM, Kabinet Indonesia Maju, adalah sejarah yang patut dicatat. Menurut Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto saat Rakernas Partai Gerindra di Hambalang beberapa hari lalu, jalan politik ini mengambil contoh kenegarawan tiga tokoh dari negara Jepang, Amerika Serikat dan China. Bagaimana Jenderal Hideyoshi dan Jenderal Tokugawa saling berhadapan dan sehari sebelum perang mereka bertemu serta berdialog. Dialog itu akhirnya menemukan titik temu bahwa mereka sama-sama cinta Shogun (Jepang), bersatulah mereka sehingga Jepang tetap jadi negara yang kuat.

Kisah kedua, saat Presiden Abraham Lincoln minta seterunya, William H Seward sebagai Secretary of State yang merupakan posisi ketiga setelah Wakil Presiden di AS. Padahal mereka saling benci tapi disatukan dalam sama-sama mencintai AS.

Kisah ketiga, saat Deng Xio Ping yang ditunjuk sebagai Sekjen Partai Komunis Cina oleh Mao Zedong dan melupakan masa lalu. Saat Deng Xiao Ping berkuasa tetap menghargai Mao Zedong termasuk tetap meletakkan foto Mao di Monumen Nasional Cina.

Inspirasi itulah kiranya yang menjadikan Prabawo siap menjadi Menteri Pertahanan dalam KIM, mencintai bangsa, lupakan perbedaan dan masa lalu serta berangkulan untuk kepentingan nasional. Mudah-mudahan begitu.

Merengkuh Lawan
Di sisi Presiden Jokowi terlihat ingin merangkul bekas saingannya dalam dua Pilpres lalu, walaupun sebenarnya Jokowi tidak ada beban lagi untuk periode berikut karena konstitusi membatasi hanya dua periode. Rangkulan dan saling sanjung terjadi di hadapan khalayak ramai, walaupun dua Pilpres terakhir melahirkan kubu-kubu yang tidak sehat untuk demokrasi.

Hal ini terjadi karena sebuah kata; “konsolidasi”. Demi membangun bangsa. Jelas, niat ini adalah kebahagiaan tersendiri karena lima tahun lalu kapal besar bernama Indonesia terbelah pada fanatisme para pendukung dan kondisi tersebut tidak baik untuk kelangsungan bangsa dan negara ke depan.

Saling merangkul dan saling menghilangkan ego di antara kedua tokoh besar bangsa ini, harusnya diikuti oleh kedua kelompok fanatik yang harusnya sudah bubar dan saling bersalaman ketika kedua tokoh sudah duduk semeja.

Saat kedua tokoh besar tersebut sudah melakukan konsolidasi kebangsaan maka baiknya ‘cebong’ dan ‘kampret’ termasuk para buzzer, berhentilah membuat kegaduhan di media sosial. Bangsa ini butuh persatuan dan kesatuan, ketenangan dan kebersamaan. Apa tidak capek ribut melulu?

Di sisi lain ada pengamat yang memberikan analisa bahwa susunan kabinet terlihat aroma kompromi para elit politik dan terlihat presiden berada di bawah tekanan Parpol.

Dugaan tersebut karena masih masuknya muka-muka lama dalam kabinet dan juga ada beberapa menteri pernah berurusan dengan penegak hukum. Termasuk ada menteri yang diragukan rekam jejaknya atau pertanyaan netizen tentang tidak masuknya Susi Pudjiastuti kembali sebagai Menteri Kelautan, malah ada tagar #WeWantSuSi, padahal kebijakannya membuat Indonesia berlimpah hasik lautnya dan berdaulat. Atau menteri ini tidak disukai karena tegas dalam bersikap terutama menenggelamkan kapal-kapal yang melakukan illegal fishing. Entahlah, sekali lagi ini politik bung!

Menurut Presiden Jokowi, komposisi kabinet 55 persen profesional dan 45 persen dari kalangan Parpol. Masuknya beberapa muka baru dan berusia di bawah 50 tahun adalah harapan yang baik bagi publik. Walau masih ada keraguan yang dalam dari berbagai kalangan karena soal kapasitas dan usia, namun hal ini bisa dibantah cepat; kemajuan membutuhkan keberanian dan berorientasi hasil.

Maka masuknya, Bigboss dan Founder Go-Jek, Nadiem Makarim sebagai Mendikbud diharapkan membuat masa depan dunia pendidikan akan berubah di era distrupsi ini.

Begitu pula dengan Wishnutama Kusbandio Founder Net Mediatama (NET.TV), didapuk sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sekilas nampak Presiden Jokowi ingin ada perubahan mendasar wajah pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Hal serupa juga dipilihnya Mantan Ketua HIPMI, Bahlil Lahadalia sebagai Kepala BPKM RI dan Erik Thohir sebagai Menteri BUMN RI.

Pasar Melemah
Beberapa saat setelah diumumkan formasi menteri itu, entah kenapa pasar menanggapi susunan kabinet dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan IHSG di Bursa Efek (negatif). Kenapa ini terjadi? Apakah karena masih ada muka-muka lama di kabinet? Atau ada yang tidak di posisi yang tepat dan diragukan kemampuan manajerialnya? Semoga pertanyaan ini tidak terlalu tepat, serta melemahnya nilai tukar rupiah hanya sementara, sebagai sikap wait and see dalam jual beli.

Tunggu dulu, masih ada pertanyaan lain; apakah dinamika penyusunan ini hanyalah kompromi elit? Tentu saja, semua itu berangkat dari komunikasi politik mutakhir para elit melalui jejaring ideologis dan geonologis. Titik aman agar negara tetap aman, berjalan baik namun agenda politik masing-masing kelompok bisa berjalan juga. Kompromi dan bagi-bagi kue pembangunan memang tidak terelakkan tetapi Presiden Jokowi dengan lihai mengedepankan 55 persen kaum professional. Pada konteks itu, kita harus tetap kritis mengawasi dan menjaga negeri ini dari tangan-tangan pengkhianat.

Selamat bekerja Bapak Presiden! Semoga pembantu Anda mampu bekerja dengan maksimal membawa bangsa ini, kita bersama, ke pulau harapan dengan selamat sentosa, makmur dan sejahtera. Amin. []

*Penulis, Dosen HTN UMSB dan Peneliti Senior Portal Bangsa

**Gambar fitur koleksi galeri foto SetnegRI

Bagikan
  • 163
    Shares