Jaga Kesehatan and Stay Strong!

redaksi bakaba

langkah Presiden yang secara terbuka mengumumkan adanya warga negara yang terinfeksi virus SARS-Cov-2, itu melegakan. Pemerintah tidak lagi terkesan menutup-nutupi kondisi Indonesia berkaitan dengan wabah corona ini. Meskipun tentunya masih ada informasi yang harus terus digali dan diungkap ke publik.

Bagikan
  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

~ Delianur

Keuangan negara jelas sedang tertekan. Kita tidak perlu menguliti angka-angkanya sampai detail. Ketika Bu Sri, Menkeu terlihat agresif ingin menerapkan pajak ini dan itu, kita sadar bahwa bu Sri sedang mencari tambahan sumber keuangan baru buat negara.

Secara sederhana, tekanan terhadap keuangan negara pasti karena tidak seimbangnya pengeluaran dan pemasukan. Pengeluaran uang negara yang tinggi, tidak diimbangi pemasukan ke kas negara.

Di antara komponen pengeluaran uang negara yang selalu membuat kita sesak nafas adalah bayar utang beserta bunganya. Pembayaran utang negara hampir mengambil seperempat total anggaran negara. Karena tren utang negara makin naik, otomatis porsi bayar utang beserta bunganya juga makin naik.

Kenaikan anggaran untuk bayar utang ini mungkin sudah terprediksi oleh Bu Menkeu. Tapi berkaitan dengan utang, akhir-akhir ini ada perkembangan terbaru yang tidak kita duga sebelumnya. Amerika menaikkan derajat Indonesia dari status negara berkembang menjadi negara maju. Prestisius secara sosial politik, tapi merugikan secara ekonomi. Berbagai macam privilege seperti ringannya bunga utang bagi negara berkembang, pasti tidak bisa diperoleh lagi.

Sementara itu, pendapatan negara pun tidak bersahabat dengan kondisi keuangan negara. Migas yang selama ini menjadi andalan pemasukan, sudah tidak bisa menjadi sandaran lagi. Tren pemasukan negara dari migas dari tahun ke tahun terus menurun. Realisasi lifting minyak, selalu di bawah target.

Namun pada saat yang bersamaan, pemasukan negara dalam bidang pariwisata, trennya dari tahun ke tahun cenderung menaik. Padahal kita tahu, pariwisata kita belum dikelola dengan baik. Publikasi pariwisata Indonesia, kalah dengan Malaysia atau Thailand. Padahal Indonesia juga banyak memiliki destinasi wisata yang jauh lebih menarik dibanding kedua negara tetangga itu.

Ketika pemasukan negara dalam bidang pariwisata terus menerus naik, sementara masih banyak destinasi wisata yang belum dikelola dengan baik, maka tidak aneh bila pemerintah kemudian memacu industri pariwisata kita. Terlebih, selama lima tahun terakhir, pemerintah gencar menggenjot pembangunan infrastruktur transportasi yang akan menunjang industri pariwisata.

Dalam konteks inilah kemudian kita bisa memahami posisi rumitnya pemerintah Indonesia menghadapi wabah virus Corona (SARSCoV-2).

Ketika pemerintah menggenjot dunia pariwisata sebagai andalan baru pendapatan negara, virus Corona datang menggerusnya. Karena bagaimana pun, “korban pertama” kedatangan wabah penyakit, adalah industri pariwisata.

Hal lain ini yang mungkin menjelaskan, kenapa pemerintah mengeluarkan kebijakan paradoks berkaitan dengan virus ini. Ketika negara lain membatasi interaksi antarwarga negara dan dan antarwarga dunia sebagai upaya preventif penyebaran wabah penyakit, Indonesia justru membuka interaksi lebar-lebar dengan warga dunia. Wisatawan diundang datang. Meskipun dari negara yang terinfeksi SARS-CoV-2. Tiket pesawat disubsidi hingga ada pemotongan sampai 50 persen. Influencer pun digelontori dana miliaran rupiah untuk mempublikasikan pariwisata Indonesia.

Tapi pagi hari tadi, langkah Presiden yang secara terbuka mengumumkan adanya warga negara yang terinfeksi virus, itu melegakan. Pemerintah tidak lagi terkesan menutup-nutupi kondisi Indonesia berkaitan dengan wabah corona ini. Meskipun tentunya masih ada informasi yang harus terus digali dan diungkap ke publik.

Informasi adanya warga Indonesia yang positif terpapar virus corona, pastinya membuat kita was-was. Tapi itu jauh lebih baik daripada informasinya ditutup-tutupi. Informasi ini membuat kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Meski mungkin hanya dalam skala personal.

Selanjutnya memang menjadi pekerjaan rumah bersama. Kita bersama-sama menenangkan masyarakat untuk tenang dan tidak panik menghadapi situasi ini. Bersama-sama bergerak menghadapi wabah yang sudah memakan korban ribuan orang di dunia.

Agak sulit membayangkan pemerintah kita mengambil tindakan seperti yang ditunjukan pemerintah China dalam menangani virus corona ini. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa menangani ini. Kita yakin, selain pemerintah, masyarakat juga akan turun tangan menangani ini. Masyarakat tidak akan berdiam diri menghadapi ini. Setidaknya siang tadi saya mendapat informasi bahwa teman-teman penggiat dan pengelola zakat, sudah berinisiatif untuk membuat program-program menghadapi wabah corona.

Jaga Kesehatan
and Stay Strong!

*Penulis, mantan Ketua PB PII, berasal dari Agam
**Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay 

Bagikan
  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

[3] Minangkabau: Kedatangan Bangsa Arab

Di Sumatra, orang Arab mengambil kampher dan lada. Pada abad ke-3 M di Fansur/Barus telah bermukim kelompok penganut ajaran Isa. Sea Routes, perdagangan melalui jalur laut sudah berlangsung kembali dan ramai.
Gambar oleh LoggaWiggler dari Pixabay