Irwandi Mengaku Tidak Dilibatkan Ramlan

redaksi bakaba

“Bapak menggaungkan banyak pembangunan. Namun berdasarkan data BPS, Kota Bukittinggi berada di tingkat kedua paling parah tingkat kedalaman kemiskinannya,” kata Erman Safar pada Ramlan Nurmatias

Bagikan
  • 853
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Irwandi di Debat Kandidat Walikota Bukittinggi
Irwandi di Debat Kandidat Walikota Bukittinggi

bakaba.co | Bukittinggi | Debat publik kedua pemilihan Walikota dan Wakil Walikota yang diadakan KPU Bukittinggi, Minggu 29 November 2020 berlangsung sengit. Pada segmen ke-4 para pasangan calon diberi waktu oleh moderator untuk bertanya pada paslon lainnya.

Kesempatan pertama pada segmen ke-4 ini, moderator mempersilahkan paslon 02: Erman-Marfendi untuk mengajukan pertanyaan pada paslon 01 Ramlan-Syahrizal dengan durasi waktu 1 menit.

Pertanyaan yang diajukan paslon 02 Erman-Marfendi kepada paslon 01 Ramlan-Syahrizal berdasarkan hasil blusukan saat mengunjungi 17.000 rumah warga Kota Bukittinggi.

“Apa motif saudara paslon 01 atau studi kalayakan seperti apa, atau cara berpikir seperti apa, atau analisa apa yang anda pakai untuk membuat keputusan membangun fisik lima tahun ke belakang, dan lima tahun ke depan yang anda janjikan, sedangkan masyarakat butuh kesejahteraan,” tanya Erman Safar kepada paslon 01 Ramlan-Syahrizal

Moderator debat publik langsung memberikan kesempatan paslon 01 Ramlan-Syahrizal untuk menjawab pertanyaan paslon 02 Erman-Marfendi dengan durasi waktu selama 2 menit.

Ramlan menjawab pertanyaan Erman Safar dengan menceritakan dirinya sebelum maju pada tahun 2015 terkait permasalahan Kota Bukittinggi.

“Ke depan kita tidak lagi menuju pariwisata,menuju kota perdagangan dan lain-lain. Tentu program yang ada ini, kita sudah membicarakan, dan menganalisa semuanya, dan tentu anggaran yang kita siapkan sesuai kemampuan daerah karena Covid-19. PAD berkurang karena covid, termasuk Pasa Ateh masih kita gratiskan, Pasa Lereng kita gratiskan, termasuk Pasar Aur Kuning kita gratiskan. Regulasinya ada,” jawab Ramlan atas pertanyaan Erman Safar

Ramlan juga menjelaskan apa yang dilakukan dirinya selama mejadi Walikota Bukittinggi, dan meminta pada paslon 02 Erman-Marfendi untuk tidak mengambil ukuran terkait adanya keluarga miskin di Tarok Dipo yang tidak memiliki hunian yang tak layak untuk ditempati.

“Kami sudah memberi bantuan. Jangan hal ini dijadikan hal persolan yang merusak semuanya, dan jangan dijadikan satu contoh,” jawab Ramlan pada Erman Safar

Moderator kembali memberikan kesempatan pada paslon 02 Erman-Marfendi untuk memberikan sanggahan atas jawaban paslon 01 Ramlan-Syahrizal dengan batas waktu yang telah ditentukan.

Erman Safar kembali mengemukakan pertanyaan terkait banyaknya kesenjangan sosial yang terjadi di Kota Bukittinggi.

“Bapak menggaungkan banyak pembangunan. Namun berdasarkan data BPS, Kota Bukittinggi berada di tingkat kedua paling parah tingkat kedalaman kemiskinannya,” kata Erman Safar pada Ramlan Nurmatias

Setelah diberi kesempatan oleh moderator dengan batas waktu yang telah ditentukan, Ramlan menjawab sanggahan Erman Safar sebelumnya. Ramlan menjelaskan soal ekonomi sudah masalah dunia dengan adanya Covid-19. Ramlan juga membantah data yang dikemukan oleh Erman-Marfendi terkait angka kemiskinan di Kota Bukittinggi.

Baca juga: Pecah Kongsi Petahana 1 dan 2

Irwandi Mengaku

Kesempatan kedua moderator kembali memberikan kesempatan pada paslon 02 Erman-Marfendi untuk memberikan pertanyaan ke paslon 03 Irwandi-David dengan batas waktu yang telah ditentukan. Dalam kesempatan tersebut, Marfendi selaku Calon Wakil Walikota 02 menyampaikan terkait permasalahan RSUD Kota Bukittinggi pada Irwandi. Apalagi Irwandi telah 5 tahun mendampingi Ramlan Nurmatias menjadi Wakil Walikota, dan sempat mengkritisi pembangunan RSUD Kota Bukittinggi yang menelan APBD senilai Rp100 milyar lebih.

“Dalam bentuk apa studi kelayakan yang Bapak lakukan berdua sehingga RSUD ini harus dibangun padahal masih ada lima rumah sakit besar yang bisa menampung pasien. Lebih dari itu apa dampak kesejahteraan masyarakat tentang pembangunan RSUD ini, dan yang paling penting berapa lama APBD Bukittinggi mengayomi atau mensubsidi RSUD, lima tahunkah, sepuluh tahunkah, duapuluh tahunkah, mungkin perlu analisa,” tanya Marfendi pada Paslon 03 Irwandi-David

Moderator mengambil alih dan memberikan kesempatan paslon 03 Irwandi-David untuk menjawab pertanyan 02 Erman-Marfendi tersebut.

Sebelum menjawab pertanyaan yang disampaikan Marfendi, Irwandi sempat menjelaskan tentang pengalamannya menjadi ketua dewan pengawas rumah sakit selama 5 tahun di Kota Payakumbuh.

“Khusus di Bukittinggi, maaf pada pasangan nomor satu, saya tidak pernah dilibatkan di dalam proses ini. Saya tidak mengerti manajemen apa yang diterapkan. Apalagi ke depan, itu rumah sakit tidak lagi dinaungi dalam BLUD tapi menjadi UPTD. Ini menjadi resiko tinggi dalam penganggaran rumah sakit. Saya tidak bisa menanggapi keseluruhannya, berapa lama akan disubsidi APBD dan segala macam, atau menghitung breakeven pointnya, bagaimana manajemennya ke depan. Saya mohon maaf, betul-betul kebijakan-kebijakan ini saya tidak dilibatkan,” jawab Irwandi atas pertanyan Paslon 02 Erman-Marfendi.

Irwandi juga menambahkan bahwa kinerja Wakil Walikota berdasarkan perintah Walikota.

Fakta RSUD

Pembangunan RSUD Bukittinggi dari awal bermasalah. Rekanan yang melaksanakan proyek pembangunan RSUD bermasalah. Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan keuangan daerah oleh BPK-RI, proyek yang dilaksanakan oleh PT. BKP tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut sesuai perjanjian kontrak multiyear bernomor; 64/SP/DKK-BKT/VIII/2018. Dimulai mulai minggu ke-4, progres fisik baru 22,33 persen hingga diputuskan kontrak PT.BKP oleh PPK, 3 Oktober 2019 dengan nomor surat 25/PPK-RSUD/DKK/X/2019.

PPK tidak dapat mencairkan sisa jaminan uang muka senilai Rp 12.074.676.488 dari perusahaan penjamin yakni PT.ARSW. Jaminan uang muka seharusnya diterbitkan oleh Bank Umum justru dipakai garansi dari Asuransi PT.ARSW. Saat ini Pemko Bukittinggi menggugat PT.ARSW dan PT.BKP secara perdata di PN Bukittinggi.

Tanggapan KPU Bukittinggi

Heldo Aura selaku Ketua KPU Bukittinggi ketika diwawancara oleh bakaba.co menjelaskan bahwa acara debat publik sempat ada ganguan teknis.

“Ganguan teknis itu, adanya informasi dari Padang bahwa listrik padam. Terkait materi debat sudah kita tayang ulang. Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar, dan terimakasih pada semua pihak yang telah ikut menyukseskan kegiatan debat publik ini,” ujar Heldo pada bakaba.co.

| Fadhly Reza

Advertisement
Bagikan
  • 853
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

Tim Ramlan: Irwandi, Wakil Penanggung Jawab RSUD

"Tanya saja sama Sekda Yuen Karnova, pernah nggak memberitahukan saya untuk rapat. Saya hanya tahu keputusan saja. Secara normatif memang ada nama saya tapi tidak dilibatkan. Mana saya berani menyampaikan kalau itu tidak fakta. Sering seperti itu," ungkap Irwandi
Tim Ramlan : Irwandi Wakil Penanggung Jawab