Ironi Era Media Baru di Tangan Milenial

redaksi bakaba

Para kaum kolonial pada akhirnya harus melakukan upgrade diri dengan hal kekinian itu agar bisa survival dan kompetitif lagi. Saya memaksakan diri menyebut diri sebagai generasi milenial. Kalau Anda generasi apa? Kolonial?”

Bagikan
  • 45
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, MA

~ Abdullah Khusairi

“Dalam era Media Baru (New Media) yang laris sekarang adalah Webinar, Podcast hingga live marketing via sosmed. Bencana Covid-19 bisa disebut sebagai trigger dari membiaknya femonena ini. Termasuk tren penggunaan medium berupa Zoom, Google Meet, Whatsapp Meet dan lain-lain. Para kaum kolonial pada akhirnya harus melakukan upgrade diri dengan hal kekinian itu agar bisa survival dan kompetitif lagi. Saya memaksakan diri menyebut diri sebagai generasi milenial. Kalau Anda generasi apa? Kolonial?”

Kalimat di atas diambil dari lini masa seorang teman. Namanya Irsad Sati, expert di bidang teknologi informasi dengan basis utama seorang jurnalis di Surat kabar Bisnis Indonesia. Apa yang diungkapkannya, bentuk dari optimisme dari perubahan yang harus disambut dengan upgrade diri. Pendapat Irsad dapat dibenarkan pada satu sisi, tetapi harus diprotes pada sisi lain. Protes tersebut berhubungkait dengan kendala yang mesti dihadapi kaum milenial sendiri, ketika harus melewati jalan terjal sebuah kesuksesan. Konteks ungkapan Irsad adalah kaum milenial-kolonial kota. Hampir tidak berlaku dengan milenial-kolonial daerah terpencil.

Ini menyangkut jangkauan jaringan seluler juga kesiapan mental spiritual, literasi media, masyarakat daerah terpencil tersebut. Pengalaman sejak Covid-19 dan kemajuan teknologi informasi yang termanfaatkan bagi mahasiswa-mahasiswi hari ini, justru janggal dan ganjil. Budaya copy-paste dalam tugas kuliah, keranjingan game, sebelum Covid-19 tiba sudah sering jadi bahasan sesama tenaga pengajar di perguruan tinggi. Kemampuan menulis yang rendah, presisi dengan tingkat dan minat baca yang rendah. Teknologi informasi yang sejatinya meningkatkan dua daya tadi ternyata salah kaprah dimanfaatkan. Inilah satu dari sekian masalah yang muncul paling menggelikan di tengah kemudahan ternyata tak menjamin kemajuan bila sistem dan semangat yang dibentuk tidak tepat. Berbeda dengan kaum boomber serba manual, ada semangat melacak buku-buku tebal karena belum ada akses online. Kesukaran telah melatih daya juang. Kini, kemudahan telah melemahkannya.

Ketika Covid-19 tiba, kuliah online diperbanyak, yang awalnya sangat optimis tiba-tiba patah berderak karena di kampung-kampung layanan jaringan seluler dari provider ternyata tak seindah di kota-kota. Beragam keluhan untuk mendapatkan jaringan, sehingga tak memungkinkan dilaksanakan menggunakan teknologi Zoom Us, Google Meet, dengan sistem webinar dan segala macam. Paling banter, hanya bisa di ruang percakapan terbatas seperti Google Class dan WhatsAppsGroups.

Mendengar para pejabat sekelas menteri, yang basis konteks pembicaraannya Jawa-Jakarta, membuat kita yang berada di daerah-daerah kian merasa ironi pembangunan. Bukan tidak ada penyesuaian-penyesuaian dibuat, tetapi kendala komunikasi dengan teknologi informasi canggih sulit diatasi. Buktinya, ada berita tentang para mahasiswa diusir dari sebuah bukit di daerah Sulawesi, karena tak boleh berkumpul agar tak terpapar Covid-19. Sementara mereka harus kuliah online, di bukit itulah ada sinyal selebihnya lindap. Inilah sebuah ironi dari pembangunan yang tidak merata.

Pernyataan Irsad memang ideal, agar kaum kolonial agar upgrade, itu pekerjaan mudah jika ada kemauan, kemampuan, serta sarana yang mendukung. Buktinya banyak kaum kolonial yang cakap. Sayangnya, justru di kaum milenial di daerah-daerah tidak siap dengan sarana layanan teknologi canggih tersebut. Fasilitas senyatanya sangat mendukung kemajuan, tetapi salah kaprah dalam memanfaatkannya. Lihatlah ke daerah tanggung, kota tidak desa bukan, generasi milenial yang baru mendapatkan akses, apakah teknologi informasi terpakai secara produktif dan tepat guna? Jangankan itu, guru mereka saja tidak mendapatkan akses teknologi yang layak apalagi mereka. Sekalipun pun dapat, ketika tidak disiapkan aturan pakai, justru salah kaprah. Masih ingat beberapa dekade lalu, ketika kehadiran warnet lebih banyak digunakan untuk bermain game online dari pada untuk belajar.

Era informasi akhirnya membelahkan kaum milenial kota, milenial daerah-daerah terpencil. Begitu juga masyarakat, akan terbelah dalam irisan masyarakat informasi dan masyarakan noninformasi. Agar ada kesesuaian pendapat Irsad di atas, perlu ada literasi media pada kurikulum-kurikulum pembelajaran di tingkat dasar. Hoax dan fakenews bersileweran karena ketidaksiapan literasi media pemakai smartphone, ini bisa diuji.

Terakhir, ungkapan Irsad di lini masa tersebut tidak bisa diletakkan kepada konteks daerah yang belum lengkap layanan teknologi informasi. Alih-alih ada upgrade, handphone di tangan justru lebih cerdas dari pemakainya. Pemakai hanya menjadi konsumen industri yang tiba ke tangan mereka, lalu tergoda untuk jadi konsumtif belaka.

Jangankan kemajuan pemikiran-pemikiran dan hadirnya gerakan-gerakan di tengah masyarakat yang baru menerima secara mendadak informasi di tengah mereka, yang ada justru sebaliknya, merayakan kedangkalan-kedangkalan berpikir, terbawa arus informasi dari orang-orang berkepentingan menyusupkan informasi kepada mereka. Apa daya, daya kritis tak ada, literasi tidak memadai, sementara gempuran informasi datang bak air bah. Jadi, upgrade di daerah-daerah terpencil tidak sederhana, bukan hanya kaum kolonialnya, tetapi juga milenialnya.

Irsad Sati menambahkan, Era Media Baru mendorong manusia menjadi sangat bergantung pada penguasaan teknologi informatika. Era ini ditandai oleh Steven Chaffee, peneliti komunikasi massa pada 1999, ketika dia memberikan kuliah dengan tema ‘Berakhirnya Komunikasi Massa; Media Baru dan Konvergensi Media’ merupakan ciri penting dari perkembangan ilmu komunikasi pada periode ini. Tidak berlebihan jika Ruben dan Stewart berpandangan sepanjang tahun-tahun ini, media berubah bentuk menjadi teknologi bastar (hybrid) yang memungkinkan sumber dan penerima melaksanakan berbagai macam kegiatan yang dulunya sulit, memakan waktu atau bahkan tidak mungkin, kini menjadi gampang, efisien dan efektif.

Benar. Kajian tentang era media baru ini masih sangat terbatas. Alih-alih mereka bisa belajar, sebaliknya, mereka hanyalah objek penderita dari perayaan kehadiran teknologi informasi. Siapapun, ya kaum kolonial, ya generasi milenial, kesadaran terhadap keadaan ini harus dipasak ke telinga mereka; bahwa kini dunia berubah cepat, perlu upgrade diri agar memanfaatkan teknologi informasi secara benar, sembari menunggu layanan provider tiba menyeluruh ke setiap sudut daerah.

Kesadaran itulah yang perlu ada agar ironi era media baru ini bukanlah makhluk penjajah masa depan pula. Salam. []

*Penulis, Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang.
** Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay 

Bagikan
  • 45
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Rektor: Penerbit penting bagi Catur Dharma UMSB

Riki Saputra mengatakan, pendirian UMSB Press bertujuan untuk menaungi para civitas akademika terutama dosen penulis dalam mempublikasikan tulisannya berbentuk buku dan monograf
Rektor UMSB Dr Riki Saputra, MA, diacara peluncuran buku terbitan UMSB Press