Hari Kemenangan tanpa Aroma Dapur Rumah Emak

redaksi bakaba

“Hari raya di Indonesia, bukan hanya hari perayaan agama, tapi juga helat kolosal umat Islam. Berjalin berkulindan dengan tradisi, silaturahmi, filantropi dan rindu bau tanah di belakang rumah emak,” tulis sastrawan Khairul Jasmi.

Bagikan
  • 15
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh RitaE dari Pixabay
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, MA

Hari kemenangan – Sebagian orang optimis dengan teknologi informasi bisa lebaran tanpa harus pulang ke kampung halaman. Melalui aplikasi-aplikasi canggih yang tersedia di smartphone, semua bisa. Kirim uang, kirim suara dan gambar, bisa! Tetapi adakah smartphone yang mampu melunasi rindu bau tanah di belakang rumah emak?

“Hari raya di Indonesia, bukan hanya hari perayaan agama, tapi juga helat kolosal umat Islam. Berjalin berkulindan dengan tradisi, silaturahmi, filantropi dan rindu bau tanah di belakang rumah emak,” tulis Sastrawan Khairul Jasmi.

Sebahagia apapun lebaran tanpa menjalani tradisi, pasti ada terasa sesuatu telah direnggut dalam kehidupan ini. Tarawih tidak, shalat ied juga tidak, kini pulang kampung pula tidak. Pukulan hebat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sejak tiga bulan belakangan, hidup kian membosankan di rumah saja. Entah sampai kapan, rasa muak juga telah tiba pula. Semua ada batas.

Wabah Covid-19 telah menghalau segala rencana terindah selepas perjuangan melawan hawa nafsu di bulan suci ramadhan. Ternyata perjuangan belum selesai, masih ada wabah Covid-19. Semua orang harus dibatasi ruang geraknya. Kebebasan untuk berhari raya dikebiri karena pandemi.

Ibadah puasa ramadhan melatih diri untuk melawan hawa nafsu, lebaran yang sederhana merupakan anjuran agar tidak merayakan kemenangan berlebihan. Jika masih memperturutkan hawa nafsu maka perjuangan pada bulan suci ramadhan tiada artinya. Tetapi siapa pula yang mau memperturutkan hawa nafsu? Ini bukan hawa nafsu tetapi tentang tradisi, filantropi, dan bau tanah di belakang rumah emak.

Maka pulang kampung adalah tradisi kolosal. Seperti ikan salmon yang pulang ke hulu tempat ia beranak-pinak. Pulang kampung melunaskan kerinduan terhadap banyak hal. Melarang pulang kampung adalah pukulan terhadap tradisi kolosal yang amat merugikan, termasuk ruginya negara.

Baca juga: Pelajaran dari Orang Mudik

Pandemi ini, empat bulan silam jadi bahan tertawaan dengan saling mengirim foto seorang perempuan yang di dadanya ada nama Corona, dicemeeh dengan foto mobil tua nan ringsek bermerk Corona. Waktu itu, semua yang ada di negeri ini masih menganggap sederhana, seharusnya mengambil ancang-ancang bagaimana melayani kedatangannya. Kini semua itu benar-benar tak bisa lagi ditertawakan karena ia telah melukai dan membuat tangis. Kuncun sudah. Jatuh ke dalam air mata dibuatnya. Ditambah lagi dengan gema takbir menyayat-nyayat hulung jantung.

Kebosanan dan muak dengan #Dirumahsaja disambut dengan ide kehidupan dengan kelaziman baru (new normal life) dengan seluruh persyaratannya. Agaknya inilah jalan untuk menyudahi rasa bosan. Berlekaslah cabut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan tak perlu ada cek poin di perbatasan. Persoalan wabah ini bukan di situ tetapi ada di kerumunan. Hentikan kerumunan. Tegakkan protokol kesehatan di setiap tempat. Pakailah masker, cucilah tangan. PSBB terlalu lama, #DirumahAja terlalu lama, #WorkforHome tanpa batas akan menimbulkan persoalan baru yang mungkin saja lebih ganas dari Covid-19 itu.

Teknologi Semu

Akan halnya teknologi informasi dengan segenap kehebatannya, memang telah membantu kehidupan kita dalam berbagai hal. Namun tidak semua bisa memakai teknologi informasi. Termasuk mendeteksi siapa sudah terkena wabah ini. Kalau ada, alangkah enaknya, mereka yang kena sajalah yang dikarantina, tidak boleh kemana-mana, jangan yang sehat dan bugar.

Berbagai aplikasi yang tersedia di android memang telah bisa mengabarkan, mengirim kabar dan gambar, tetapi tidak sedikitpun bisa melunaskan rindu bau tanah di belakang rumah dan aroma dapur emak. Itulah yang ditangisi seorang perantau. Hampir setahun lamanya di perantauan mengadu nasib dan menabung, lebaran waktunya berbagi kepada sanak saudara. Sebuah budaya filantropi yang sudah ada sejak lama.

Covid-19 telah menutup jalan pulang. Ini yang membuat anak sungai di pipi kanan-kiri para perantau, beberapa hari ke depan. Itu ribuan perantau. Alangkah ruginya kampung halaman karena mereka membawa hasil dari perantauan. Betapa ruginya perekonomian daerah ini. PSBB merugikan ekonomi tetapi tidak gagal membatasi penyebaran Covid-19.

Ide kehidupan dengan kelaziman baru (new normal life) mestinya segera diputuskan bersamaan dengan berhentinya PSBB. Sembari menyatakan, wabah ini diyakini segera berhenti ketika protokol kesehatan dijadikan budaya kehidupan sehari-hari. Hukumlah mereka yang tidak disiplin tanpa membatasi ruang gerak yang tidak terpapar. Jika pemerintah masih memilih jalan untuk menutup akses maka pemerintah juga yang akan menanggung keadaan ini. Membangun ekonomi yang runtuh bukan pekerjaan mudah.

Kita menunggu godot. Menunggu pemerintah mengambil kebijakan membebaskan keadaan. Bukan mengancam, bukan menakuti, bukan pula meneruskan keadaan serupa ini tanpa ada akhir. Akhirlah segera. Membiarkan hari nan fitri menjadi kemenangan yang sepi berarti memukul kehidupan, bukan menyerang wabah. Semoga kita kuat, selamat hari raya idul fitri dalam sepi tanpa banyak silaturrahmi langsung. Gunakan teknologi informasi secara cerdas, siapkan banyak paket data. Jangan sampai androidmu rusak. Minal aidi wal faidzin. []

~ Penulis, Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang.
~ Gambar oleh RitaE dari Pixabay 

Bagikan
  • 15
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Jiwa-Jiwa yang Kembali

Jiwa-jiwa yang kembali kepada Allah Ta’ala adalah jiwa-jiwa yang tak ingin berlarut-larut menjadi budak nafsu, hidup glamor, dan tak tentu arah.
al quran foto oleh Pexels dari Pixabay