Dialektika Revolusi Indonesia

redaksi bakaba

Nasib orang indo Eropa, orang Jawa dan bangsa lain yang tinggal di Nederland Indie atau Indonesia, Indische Partij mampu bekerjasama dengan Serikat Islam yang merupakan raksasa saat itu meski akhirnya kiprahnya meredup dan dilarang pemerintah kolonial akibat aksi- aksi politiknya membela rakyat Indonesia.

Bagikan
  • 28
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Refleksi Mengenang Jasa Para Pahlawan 10 November 1945

~ Yudhi Rachman S.Sos.,M.Sosio

Gerakan sosial muncul di era kolonialisme sebagai wujud dari resistensi rakyat Indonesia yang mulai mempunyai kesadaran atas hak-hak serta identitas yang bermartabat melalui serangkaian proses panjang.

Gerakan sosial ditandai dengan kondisi penuh kegelisahan karena perasaan ketidakpuasan terhadap kehidupan sehari-hari akibat diskriminasi dan penindasan kolonialisme serta adanya keinginan dan harapan untuk dapat meraih tatanan kehidupan baru yang lebih baik.

Berbagai organisasi massa muncul saat itu sebagai alternatif untuk menyampaikan aspirasi dan perlawanan. Kehadiran ormas itu mendapatkan respon dan antusiasme rakyat yang telah lama terkungkung.

Sarekat Islam yang didirikan tahun 1912, sebagai representasi umat muslim, baik santri dan abangan mendapat tempat dalam hati masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan dan jumlah perwakilan Sarekat Islam yang semakin besar dengan tokoh H.O.S Tjokroaminoto.

Partai politik pertama yang didirikan pada tahun 1911; Indische Partij dan Insulinde menjadi gerakan sosial pertama yang melakukan advokasi secara langsung terhadap rakyat.

Tulisan-tulisan bernada kritik dan perlawanan dari koran terbitan mereka membuat pemerintah kolonial murka. Ujungnya, pengadilan dan pembuangan para pemimpin gerakan yang dikenal sebagai Tiga Serangkai dan Eugene Douwes Dekker sebagai tokoh sentral.

Gerakan sosial dilihat dari perspektif konflik N.J. Smelser terjadi karena adanya pernyataan spontan atau ketidakpuasan terhadap struktur sosial yang ada dan pemilihan pemimpin gerakan. Pengorganisiran, konfrontasi dan pencapaian hasil telah menunjukkan hal yang sangat signifikan (David F. Collective Behavior and Social Movements : 589-611).

Pergulatan dan dinamika gerakan sangat terlihat, situasi sosial, ekonomi politik yang banyak merugikan kalangan rakyat jelata semakin membuat popularitas organisasi massa semakin meningkat.

Dengan slogan Indie Vor Indier, Indisce Partij mendeklarasikan diri sebagai partai politik pertama yang jadi wadah bagi semua kelompok etnis.

Nasib orang indo Eropa, orang Jawa dan bangsa lain yang tinggal di Nederland Indie atau Indonesia, Indische Partij mampu bekerjasama dengan Serikat Islam yang merupakan raksasa saat itu meski akhirnya meredup dan dilarang pemerintah kolonial akibat aksi- aksi politiknya membela rakyat Indonesia.

Ruth T Macvey dalam bukunya “Kemunculan Komunisme di Indonesia”(2010) menuliskan, paham komunis yang dibawa oleh segelintir orang Belanda, mantan anggota aktivis partai beraliran marxis di Belanda yang bekerja di Indonesia, dipimpin Sneevliet mendirikan Indische Social Democratische Vereniging (ISDV) pada 9 Mei 1914 di Surabaya.

Tuntutannya jauh lebih radikal dengan menentang imperialisme dan kapitalisme. Hal itu membawa arah gerakan sosial di Indonesia dengan bergabungnya Sarekat Merah yang berhaluan marxis menjadi lebih radikal. Gerakan mereka berlangsung sampai meletusnya pemberontakan pada 1926-1927 yang dipatahkan pemerintah Kolonial Hindia Belanda tanpa kompromi .

Itulah embrio-embrio gerakan sosial revolusioner dan perlawanan politik yang mewarnai konstelasi dan landscap sejarah bangsa menuju lahirnya revolusi Indonesia dan mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dialektika dalam mempertahankan kesadaran kolektif sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan merdeka memasuki babak baru dengan segenap militansi dan keberanian TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang baru dibentuk bersama milisi-milisi rakyat dari berbagai organisasi massa. TKR melakukan perlawanan bersenjata dalam berbagai pertempuran di seluruh wilayah Indonesia terhadap upaya menguasai kembali oleh Belanda.

Kolonial Belanda membonceng tentara Inggris yang bertugas melucuti dan menerima pengakuan kalah dari pasukan Jepang di wilayah Indonesia, paska kalahnya Jepang dalam Perang Dunia ke-2 yang dimenangkan sekutu Amerika Serikat dan Inggris. Satu dari banyak pertempuran itu adalah pertempuran 10 November 1945 yang sangat heroik dengan slogan ‘Sekali Merdeka tetap Merdeka’ dalam Republik Indonesia.

Kini, memasuki era globalitas tantangan negara dan bangsa bukan lagi penjajahan secara fisik tetapi dominasi dalam bentuk yang lebih cair dan hegemonik.

Ulrich Beck dalam Politik Globalisasi dan Kosmopolitanisme melihat adanya sejumlah nilai dalam gagasan yang diasosiasikan sebagai negara bangsa semakin menjadi ilusi. Menjadi ilusi karena globalisasi yaitu proses ketika negara bangsa yang berdaulat dikotak-kotakkan dan digerogoti aktor-aktor transnasional dengan berbagai harapan pada kekuasaan, orientasi, identitas dan jaringan (Beck,2000:11).

Artinya tantangan saat ini bangsa Indonesia jauh lebih kompleks dan rumit dibandingkan masa lalu. Di mana para penjajah tidak berwujud sebagai penguasa yang menindas dan eksploitatif secara kasat mata seperti zaman dulu.

Tetapi dalam bentuk yang lebih hegemonik seperti persaingan dagang antar negara-negara maju dengan segenap jaringan perusahaan transnasional corporations yang dimilikinya terjadinya “infinity war” perang dahsyat dalam film Avenger meminjam analogi film, yang bisa mengakibatkan negara-negara miskin menjadi terpinggirkan, persoalan pengangguran, upah rendah, kemiskinan, kerusakan ekologi akibat Industri dan lain-lain.

Dialektika revolusi Indonesia harus terus menerus didengungkan, dibicarakan dan dikuatkan. Itulah cara dan upaya menempatkan diri sebagai identitas negara bangsa yang berdaulat, kuat dan mandiri sesuai dengan ideologi Negara Pancasila dan amanat UUD 1945. Tentu bukan utopia atau ilusi semata tetapi cita-cita yang harus terus menerus diperjuangkan.**

**Penulis, Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Budaya, Universitas Trunojoyo Madura

**Gambar fitur oleh Clker-Free-Vector-Images dari Pixabay

 

Bagikan
  • 28
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Bahasa dan Hegemoni

Ironisnya, ketika mahasiswa mengalami pemaksaan untuk bisa berbahasa Inggris, kemampuan berbahasa Indonesia tidak terlalu dipersoalkan oleh perguruan tinggi