Cara Taiwan Hadapi Covid-19

redaksi bakaba

Karena itu keliru kalau Jubir Presiden mengatakan bila Indonesia seperti juga negara-negara lain di dunia, tidak bisa memprediksi wabah Covid-19 dan negara-negara di dunia juga tidak mempunyai persiapan menghadapinya.

Bagikan
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Punnatorn Thepsuwanworn dari Pixabay
Gambar oleh Punnatorn Thepsuwanworn dari Pixabay

~ Delianur

Taiwan

Suatu negara, penduduknya 23.780.452, tahun 2018, dua kali lipat lebih dari penduduk Jakarta sekarang. Luas Taiwan 36.197 km2. Jarak Taiwan ke Cina daratan yang menjadi epicentre awal wabah corona 130 km. Sementara Italia berpenduduk 60.317.546 atau dua kali lipat lebih penduduk Taiwan. Luas wilayah Italia 301.340 km2 atau hampir sembilan kali lipat luas wilayah Taiwan. Sementara jarak Italia ke Cina daratan yang merupakan pusat wabah virus corona pertama kali muncul adalah 7.633 km.

Namun kalau kita buka data yang dipublikasikan worldmeter perihal wabah corona yang sekarang melanda dunia, pada saat tulisan ini dibuat (22/03) dari total 306.892 kasus orang terjangkit virus corona serta total 13.025 meninggal di seluruh dunia: di Italia ada 53.578 kasus corona di mana 4.825 orang diantaranya meninggal. Sementara di Taiwan, ada 153 kasus orang terjangkit virus corona dengan 2 orang meninggal.

Data yang di-publish worldmetters di atas, tidak berbeda dengan data yang dipublikasikan John Hopkins University Corona Virus Resource Centre. Untuk negara yang bertetangga dekat dengan pusat wabah, jelas angka di atas adalah sebuah capaian luar biasa yang mesti diapresiasi.

Ketika memberikan pandangannya tentang cara Taiwan menghadapi Corona Virus, Anders Fogh Rasmussen, Perdana Menteri Denmark tahun 2001-2009, menulis dalam paragraf awal artikelnya di majalah Time yang berjudul ; “Taiwan has been shout out of Global Health Discussion. Its Participation Coud Have Save Lives”,…

“Eight hundred and fifty thousand of Taiwan’s 23 million citizens reside in mainland China. Four hundred thousand work there. At its narrowest point, the Taiwan Strait between the island and the mainland is just 130 km. So, by all accounts, Taiwan should be in the midst a major coronavirus outbreak. Instead, as of March 18, it had seen just 100 cases compared to the more than 80,000 in China and the tens of thousands in several countries in Europe.

Karenanya menurut Anders, dunia kesehatan global mestinya belajar dari cara Taiwan menghadapi wabah Covid-19 ini. Sayangnya, Taiwan dengan sistem kesehatan kelas dunianya, justru seperti dikucilkan dari pergaulan dunia internasional. China misalnya. Kebijakan “One China” telah membuat Taipei tertolak dari berbagai event internasional padahal sebelumnya bisa hadir sebagai observer.

Hal ini juga dilakukan oleh WHO, yang dianggap otoritas kesehatan tertinggi di dunia, terhadap Taiwan. Sampai tahun 2016, Taiwan masih diperbolehkan berpartisipasi dalam pertemuan tahunan WHO sebagai a non-state actor. Sayangnya selama tiga tahun terakhir, permintaan Taiwan untuk terlibat dalam pertemuan rutin WHO ditolak. Apabila Taiwan ingin terlibat dalam pertemuan pakar kesehatan untuk mengidentifikasi tantangan dunia kesehatan yang diinisiasi WHO, mereka harus mengajukan permintaan. Bukan diundang seperti anggota WHO lainnya.

Ironisnya, setiap kali Taiwan mengajukan permintaan, WHO selalu menolaknya. Karenanya selama tiga tahun terakhir, Taiwan tidak diikutsertakan dalam pembahasan vaccines influenza.

Lalu bagaimana cara Taiwan menghadapi wabah Covid-19 ini?
Masih dalam tulisan yang sama, Anders Fogh Rosmussen mengemukakan bahwa kekuatan Taiwan dalam menghadapi corona ada pada: “Deploying a combination of big data, transparency and central command”.

Belajar dari Wabah SARS

Pola yang diterapkan Taiwan ini menurut Anders tidaklah muncul begitu saja. Taiwan belajar banyak dari wabah SARS pada tahun 2003. Karenanya ketika Covid-19 pecah pertama kali di Wuhan, Taiwan sudah siap menghadapinya. Karena itu keliru kalau Jubir Presiden mengatakan bila Indonesia seperti juga negara-negara lain di dunia, tidak bisa memprediksi wabah Covid-19 dan negara-negara di dunia juga tidak mempunyai persiapan menghadapinya.

Apa yang diungkap Rasmussen ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Centre for Policy, Outcomes, and Prevention Stanford University dari Amerika. Menurut Direkturnya Dr Jason Wang, dalam akun Youtube Nowthis mengatakan, Taiwan itu: “Before people said, ‘Ready, set, go,’ they were already preparing for it. So when people said go, they were running”.

Menurut Wang, Taiwan memulai langkah menghadapi wabah Covid-19 pada Desember 2019, saat pertama kali wabah ini muncul di Wuhan. Ketika ada pesawat datang dari Wuhan, Taiwan bergerak cepat memeriksanya. Sebelum pesawat itu mendarat, mereka memeriksa symptom penumpang. Petugas yang ditunjuk sangat hati-hati mendeteksi kedatangan virus dari Wuhan itu.

Kendali Pemerintah

Taiwan langsung mengaktifkan National Health Command Centre yang telah mereka siapkan setelah wabah SARS tahun 2004. Pengaktifan itu memungkinkan pemerintah memiliki dasar koordinasi antar departemen di pemerintahan dalam menghadap wabah Covid-19.

Selain itu, Taiwan juga menggunakan Big Data yang diintegrasikan dengan data dari National Health Insurance serta data base Imigrasi dan Bea Cukai. Sehingga ketika seorang dokter memeriksa seorang pasien, dia sudah tahu bahwa pasien tersebut telah melakukan perjalanan ke mana saja. Pemeriksaaan pun akan berjalan lebih cepat. Ketika ada seorang datang dari Wuhan, dokter tidak lagi bertanya mereka datang dari mana, tapi bertanya lebih dalam mereka mengalami demam atau batuk dan mereka akan memintanya untuk mengikuti test Covid-19. Taiwan mengintegrasikan data dan menggunakannya untuk mendeteksi kedatangan penyakit menular.

Selain itu, pemerintah juga menggunakan telepon seluler serta data lokasi untuk mengarantina masyarakatnya. Pegawai dinas kesehatan akan menghubungi traveller yang ada dalam karantina, dua atau tiga kali untuk memastikan bahwa symptom yang mereka alami tidak bertambah buruk. Apabila symptom bertambah buruk, maka mereka akan mendatangkan dokter. Apabila dokter tidak datang dan mereka akan meneruskan mengarantina diri di rumah, maka pegawai pemerintah Taiwan akan mengantarkan makanan ke rumah mereka.

Namun apabila orang tersebut keluar rumah, tidak patuh mengikuti instruksi karantina, maka petugas akan datang ke rumahnya untuk memberi denda besar. Namun kalau mereka tinggal di rumah, mereka akan dibayar. Karenanya, orang tidak perlu kuatir untuk diam di rumah karena selain disiapkan makanan, dia juga dibayar.

Pemerintah juga mengantisipasi kekurangan suplai alat-alat medis. Pembuatan masker serta distribusinya dikontrol dengan ketat oleh pemerintah. Mereka menyadari bahwa alat medis adalah material yang sangat penting dalam menghadapi epidemik.

Taiwan juga mengimplementasikan lebih dari 120 protokol selama penyebaran wabah ini. Mereka juga menahan kedatangan masyarakat ke rumah sakit. Apabila mereka mengalami symptom, kemudian demam mereka akan dibawa ke tempat lain untuk dirawat. Prosedur ini berlaku sama di setiap institusi.

Selain itu, di gedung-gedung umum apabila orang berjalan, terdapat scanner yang akan mendeteksi apakah orang sedang demam atau tidak. Bila demam, orang tersebut tidak bisa memasuki gedung secara otomatis. Dengan sistem itu, sekolah tetap buka, anak-anak tetap pergi ke sekolah dan suhu badannya sudah tersimpan di komputer.

Amerika Terlambat

Di Amerika sendiri, sampai bulan Maret terdapat 14.000 kasus corona. Tapi menurut Wang, angka riilnya mesti jauh lebih tinggi. Amerika terlambat melakukan tes. Menurut Jason Wang, pemerintah federal Amerika beserta beberapa negara bagian, tidak memberikan perhatian besar terhadap infrastruktur kesehatan seperti yang ditunjukkan Taiwan. Amerika tidak bergerak cepat ketika wabah ini datang. Amerika adalah negara yang terlambat merespon wabah corona

Di luar infrastruktur kesehatan Taiwan yang sudah siap menghadapi wabah, adalah hal yang menarik melihat pada faktor sosial dan budaya Taiwan. Seorang Youtuber bernama Lukas Engstrom dalam videonya yang berjudul: Covid-19 in France, Sweden and Canada vs Taiwan, sempat mengungkapkan sisi sosial budaya Taiwan dibanding beberapa negara Eropa.

Menurut Engstrom, beberapa negara Eropa mempunyai kebiasaan bersalaman, berangkulan, dan cium pipi ketika bertemu. Bahkan negara seperti Perancis, mempunyai istilah France Kisses untuk menggambarkan kebiasaan mereka ketika bertemu. Padahal sebagaimana diketahui, kebiasaan itu mempermudah penularan virus. Sementara di Taiwan, orang cukup mengangkat dan menggoyangkan tangan ketika bertemu.

*Penulis, mantan Ketua PB PII, berasal dari Agam
**Gambar oleh Punnatorn Thepsuwanworn dari Pixabay 

Bagikan
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Wargakota Bukittinggi Turun Antisipasi Covid-19

Dalam upaya memperluas aktivitas PMI Bukittinggi dalam mengantisipasi virus Covid-19, selain bahan disinfektan, PMI juga menerima donasi berupa masker,
Partisipasi wargakota Bukittinggi hadapi Covid-19 - foto - doc. PMI