Bandul pun Terhenti

redaksi bakaba

Jalan ka baso basimpang ampek
Singgah makan di sicincin
Dek bulan puaso lah samakin dakek
Mohon maaf lahie jo batin

Bagikan
  • 76
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Muhammad Nasir - bakaba.co
Muhammad Nasir

Rumah gadang maimbau pulang
Tanah rantau manahan hati
Jikok salah talampau gadang
Ma’af dipinto sapanuah hati
*———-sebagian text hilang——–*

Semenjak pandai ber-hape awal tahun 2000-an, kerap terbaca pantun ini. Jikalau handphone Anda canggih, maka beruntunglah dapat membaca Short Message Service (SMS) utuh dan panjang. Sebaliknya, jikalau standar hapenya pas-pasan, hanya cukup untuk 160 karakter, maka bersiap-siaplah membaca notifikasi “sebagian text hilang.”

Memang waktu itu telepon belum begitu cerdas. Fitur komunikasinya terbatas hanya untuk menelepon, pesan singkat atau mungkin untuk melempar kucing. Hahay. Amat berbeda dengan telepon zaman sekarang. Sudah cerdas dia. Smartphone panggilannya.

Sepertinya rangkaian pantun berbahasa Minang di atas selalu relevan sepanjang zaman. Setelah masuk ke zaman smartphone, pesan itu sudah mulai dapat bergaya dan mulai dihiasi dengan aneka fitur simbol emotional icon (emoticon).

Namun, yang akan dibicarakan bukan itu. Tetapi, tentang fungsinya sebagai penghubung ranah dan rantau. Tentang suasana hati pembuat pesan jika dikaitkan dengan suasana pandemi coronavirus disease-19 (Covid-19) sekarang ini.

Kata seorang teman, boleh jadi pesan pantun itu hanya sekadar menyapa atau berbasa-basi di samping pesan yang sebenarnya.

Terlepas dari maksud pengirimnya, SMS yang berisi pantun itu pasti berbalasan. Setidaknya dibalas dengan hati, andai tak punya handphone.

Namun, ihwal perantau itu sendiri, justru ibarat bandul yang bergerak dari ranah ke rantau dan dari rantau ke ranah. Bandul yang bergerak di atas semangat kebaikan, tegur sapa dan bermaaf-maafan jelang Ramadhan

Merantau Kekinian

Mochtar Naim dalam bukunya Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau (1979) mengatakan bahwa merantau bagi suku Minangkabau adalah prilaku migrasi temporer, meskipun akan berakhir dengan menetap selamanya di perantauan. Beberapa pantun Minang menunjukkan itu.

Karatau madang di ulu
babuah babungo balun
Marantau bujang daulu
di rumah baguno balun

Atau bak kata pepatah:

satinggi-tinggi tabangnyo bangau, baliak ka kubangan juo kasudahannyo. (Setinggi-tinggi terbangnya bangau, baliknya ke kubangan juga).

Kedua sumber di atas menunjukkan bahwa merantau adalah proses yang bergerak antara tanah asal dengan tempat migrasi. Polanya boleh pendek dan boleh jadi seumur hidup. Ditambah lagi dengan pantus SMS yang ditulis di awal. Imbauan rumah gadang yang mulai lapuk dimakan zaman. Imbauan dari tanah asal, imbauan dari dalam kebudayaan.

Namun merantau kekinian jelas berbeda. Pada era globalisasi dewasa ini, di mana batas negara semakin terbuka dan sarana transportasi semakin baik, wilayah perantauan boleh jadi hanya berjarak sekemampuan daya memobilasi diri. Mau pulang atau mau merantau bergerak bebas. Ibarat bandul jam antik yang bergerak bolak -balik. Asal ada uang, bisa pulang semaunya.

Motif pulang pun lebih beragam. Mulai dari menjenguk orang tua atau kerabat, menghadiri acara keluarga, acara politik dan sebagainya. Hanya sedikit saja yang melakukan rantau Cino.

Rantau Cino dalam dalam dunia perantauan Minang, berarti merantau jauh dan tak akan kembali. Sebuah rantau sendu dan penuh derita.

Tanah rantau menahan hati

Justru derita rantau kekinianlah yang sedang mendera masyarakat Minangkabau di perantauan. Sejak wabah Covid-19, di Indonesia termasuk Sumatera Barat, banyak perantau yang memutuskan pulang kampung.

Ada banyak alasan. Dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di perantauan membuat mereka tak bisa beraktivitas di perantauan. Daripada tak tentu arah hidup di rantau, pulang kampung merupakan pilihan. Apalagi momentum Ramadhan, di kampung terasa menenangkan.

Tapi apalah daya, di kampung pun ada imbauan. Perantau agar menahan diri dulu untuk tidak pulang kampung. Meskipun demikian, arus pulang perantau seperti tak terbendung. Diberitakan, ribuan orang pulang ke ranah Minang setiap harinya.

Kepulangan itu tak ada hubungannya sama sekali dengan dengan pantun karatau madang di hulu atau pepatah setinggi-tinggi terbangnya bangau, baliknya ke kubangan jua.

Justru kalau diingat-ingat lagi pesan SMS jadul itu, bagian teks yang hilang itu mungkin berbunyi:

Buruang balam mandi di tabek
Daun pandan di rumpun padi
Salam basalam ko ndak dapek
Tarimo lah pasan pangganti diri

Sekarang pesan itu terasa sendu. Benarlah adanya. Tanah rantau menahan hati. Terimalah pesan pengganti diri. Namun, meski tak sempat pulang, ada bait akhir dari SMS jadul itu yang masih patut untuk diamalkan.

Jalan ka baso basimpang ampek
Singgah makan di sicincin
Dek bulan puaso lah samakin dakek
Mohon maaf lahie jo batin

~ Penulis, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Imam Bonjol, Padang , muhammadnasir@uinib.ac.id
~ Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Bagikan
  • 76
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Gubernur: 80 % Warga Sumbar Dapat Bantuan

"Kita memiliki program jaring sosial. Ada tujuh program yang bisa membantu delapan puluh persen masyarakat Sumbar yang terkena dampak pandemi Covid-19.'
Gubernur Sumbar berikan arahan terkait PSBB foto courtesy Humas Pemprov. Sumbar