Aksi Politik Moral Andre Rosiade

redaksi bakaba

News Maker, hari ini AR orangnya. Apakah media massa dan media sosial akan meninggalkan AR? Ya, ketika tak adalagi news value dibawanya. Mungkinkah bisa diboikot? Dibenci bersama-sama? Sulit. AR sudah terlanjur media darling

Bagikan
  • 240
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Photo courtesy of Andre Rosiade facebook account
Photo courtesy of Andre Rosiade facebook account
Dr. Abdullah Khusairi, MA.
Dr. Abdullah Khusairi, MA

~ Abdullah Khusairi

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumbar, Andre Rosiade (AR) kembali menjadi sorotan. Setiap saat ia dibicarakan di bilik-bilik aplikasi percakapan, apalagi di media sosial dan media massa. Tiada hari tanpa AR. Hebat!

AR dituding sombong, angkuh, arogan, salah jalan, serta haus popularitas. Belum cukup, Anggota DPR RI ini dituduh pula ingin merusak reputasi kepemimpinan walikota yang sudah bersiap maju di Pilgub 2020 ini. Satu lagi, praduga dan prasangka bahwa AR menjadi pion salah seorang bakal calon gubernur yang akan maju. Masih ada lagi, AR dianggap melampaui kewenangan yang ada sedang dipanggulnya. Apakah demikian?

Pada sisi lain, berita diturunkan dengan pembelaan terhadap korban yang digerebek secara empati kemanusiaannya. Meluas ke persoalan aib kota yang diumbar luas hingga ke tingkat nasional. Caci-maki tak terelakkan, kenyinyiran mengalir deras di keruhnya informasi yang disebarkan dari pro kontra gerakan AR. AR bergeming. Bahkan tampak tambah yakin apa yang sedang dilakoninya.

Gerakan aksi grebek prostitusi online di salah satu hotel oleh AR dinilai berlebihan. Apalagi dengan cara menjebak perempuan melalui aplikasi. Tudingan terhadap AR terus berlangsung, fakta-fakta baru dikabarkan secara meyakinkan, mencoba mengubah cara pandang publik bahwa gerakan itu telah mencoreng wajah kota, gerakan itu merugikan banyak pihak pula. Tudingan berusaha keras itu mencoba menghilangkan substansi gerakan yang dilakukan AR, memberantas prostitusi tetapi dipandang sebagai aksi politik. AR memang politisi.

AR tipikal politisi muda yang berani dan mungkin saja kebablasan. Dua aksi di atas bukan cerita baru, bila dilihat ke belakang. Sebelumnya membuat gerakan penggunaan hak interpelasi kepada eksekutif melalui fraksi-fraksi Partai Gerindra di DPRD. Salah satunya, soal interpelasi terhadap gubernur Sumbar yang banyak melakukan perjalanan dinas ke Luar Negeri. Setelah itu AR merazia beberapa cafe yang diduga melampaui izin usaha yang diberikan. AR hampir tak pernah diam, bila melihat aksinya di Senayan. Tiap sebentar terlihat di layar kaca.

Ini tulisan ketiga tentang AR. Dulu saya menulis, “Andre Rosiade, Ada Apa Denganmu?” juga menulis “Jalan Politik Andre Rosiade.” Tulisan pertama mempertanyakan AR muncul sebagai tokoh muda, tulisan kedua menebak jalan politiknya. Jalan politik AR akhirnya mulus ke Senayan dengan suara yang signifikan. Tulisan-tulisan ini tiada lain lahir dari kegusaran melihat aksi AR. Aksi yang berniat baik tetapi echo politiknya membuat banyak orang geram karena terganggu tidurnya..

AR adalah tokoh muda yang membuat sebagian lawan-kawannya gusar. Tapi ia tak peduli. Gerakan yang dilakukannya sudah dianggap benar tentu saja. Memberantas Penyakit Masyarakat (Pekat) merupakan cita-cita mulia. Itulah yang pernah dilakukan Front Pembela Islam (FPI) beberapa tahun silam. Banyak yang menyayangkan apa yang dilakukan FPI tetapi diam-diam banyak yang suka. Sebab ketika saluran penyelesaian yang semestinya macet, disfungsi, maka akan ada yang menggantikannya.

Adakah kepentingan politik AR dalam gerakannya? Tentu saja, AR adalah politisi, politisi yang berasal dari kalangan aktivis 98 dan Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar pula. Kenapa AR melakukan hal-hal kontroversi antikemapanan? Secara substansi, gerakan AR menjalankan amanat sebagai wakil rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana suka dengan gerakan AR, tentu saja konstituennya. Siapa yang tak suka? Tentu saja lawan politik dan orang-orang yang “talantuang dek ka naiak tasingguang dek ka turun” olehnya.

Galibnya kemapanan, sangat terganggu dengan hal-hal baru. AR selalu membuat hal baru. Membuat heboh publik. Seperti Ahok dia. Banyak yang suka banyak pula yang tak suka. Point penting bagi AR, ia berada di panggung politik melalui wacana yang dimainkannya. Sibuk sekali publik, penonton, pengamat, harus menonton, mengamati, aksi AR. Asyik menari di gendang yang dimainkan AR.

Seluruh medium hari-hari terakhir ini menyorot AR. AR masih terus mendapatkan kemilau blitz. Kadang positif, kadang negatif. Ia tak peduli. Resiko itu sudah ia sadari sejak awal. Ia siap tampaknya.

Bilakah AR tidak di panggung? Tampaknya akan terus berlangsung, baik skala lokal maupun skala nasional. Siapa yang mesti menghentikannya? AR sendiri. Menyudahi gemerlap blitz politik. Entah bila ia menyudahinya, yang jelas politisi lain ada mengharu-biru untuk bisa seperti itu, ada pula yang mencibir tentunya.

Mari kita menyisiri satu persatu tudingan kepada AR. Apakah AR haus popularitas? Bisa jadi, tetapi ia sudah jauh populer karena terus dibicarakan. Saban menit, AR adalah berita, berita adalah AR. Pada jurnalisme dikenal News Maker, hari ini AR orangnya. Apakah media massa dan media sosial akan meninggalkan AR? Ya, ketika tak adalagi news value dibawanya. Mungkinkah bisa diboikot? Dibenci bersama-sama? Sulit. AR sudah terlanjur media darling.

Apakah AR angkuh, sombong, arogan? Tergantung siapa yang menilainya. Galibnya pergaulan, banyak yang senang banyak pula yang tidak. Apakah AR ingin merusak reputasi calon gubernur? Pada kaca mata politik, bisa jadi begitu. Dugaan dan prasangka bisa saja benar, fakta-fakta bisa dikumpulkan juga, tetapi jangan sampai menghilangkan substansi persoalan maksiat kota ini. Pemberantasan penyakit masyarakat satu ini butuh kesatuan komitmen banyak pihak. Tidak selesai oleh AR sendirian. AR hanyalah membuka jalan dan mendapatkan poin kinerja politik di mata konstituennya.

Tentu saja kita perlu dan penting berempati terhadap korban penggerebekan prostitusi online, sama pentingnya memberantas prostitusi online dan offline. Lingkaran setan prostitusi di sebuah kota tidak akan pernah berdiri sendiri. Perlu kuasa yang sangat kuat agar tidak meruyak dan menghancurkan generasi. Hal serupa juga berlaku pula terhadap narkoba, judi, kriminalitas dan lain-lainnya. Perlu kuasa yang besar dan kemauan yang besar. Jika tidak, tangkap lepas-tangkap lepas, tak menyelesaikan masalah. Berputar-putar menahun. Sementara kita masih juga menganggap kota ini baik-baik saja hingga sampai Sang Khalik memberi musibah tiba, baru sadar pembiaran terhadap kebathilan telah berlangsung lama.

Apakah AR melampaui kewenangannya? Jika melihat dari sisi kewenangan sebagai anggota DPR, mungkin juga terkesan melampau batas. Coba lihat cara lain, sebagai aksi politik moral, aksi seorang ketua partai, aksi sebagai orang muda, aksi sebagai orang yang ikut resah dengan maksiat di kotanya, setelah banyak yang berjuang dalam hati. Tentu akan berbeda pula. “Pendapat bisa berbeda karena tempat berdirinya berbeda,” kata seorang senior.

Apakah AR menjadi pion bagi salah satu bakal calon? Kemungkinannya sangat tipis, sebab AR sulit dikendalikan oleh siapapun dalam beraksi. Tokoh satu ini sulit dijinakkan dalam banyak hal. Begitulah, ia politisi muda, ingin tampil sendiri dengan meyakinkan. Sebagai masyarakat, kita perlu banyak orang seperti AR yang bisa mendobrak kemapanan kekuasaan yang cenderung diam dan lamban ketika ada masalah.

Apakah tulisan ini mendukung AR? Tidak, saya sangat gusar dengan AR bukan karena aksi politik moral itu tetapi gusar karena ia terlalu lama di panggung menjadi tontonan, seharusnya ia beri kesempatan kepada yang lain. Hampir tak ada jeda, AR selalu menjadi berita. Tiada rehat tiada jeda. Sedangkan politisi lain harusnya diberi kesempatan tampil di panggung tertinggi wacana politik kekuasaan hari ini. Mulai dari DPRD kota, kabupaten dan provinsi. Mereka tentu harus diberi kesempatan, asalkan mau asalkan siap. Diam memang pilihan paling damai dan aman tetapi itu bisa mengecewakan aspirasi konstituen. Berilah kesempatan itu, AR! **

*Penulis, Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang
**Photo courtesy of Andre Rosiade facebook account

Bagikan
  • 240
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Hak Pedagang Bukittinggi Dilanggar Pemko, Komnas HAM minta Presiden Bertindak

Komnas HAM Pusat berkesimpulan: 1. Bahwa kebijakan Walikota Bukittinggi mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM sebagaimana diatur pasal 1 angka 6 UU 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Pasar Atas Bukittinggi pasca kebakaran - R-bakaba.co