[9] Yahudi: Membakar Pengikut Isa

redaksi bakaba

Peristiwa tersebut disebut dalam al Qur’an dengan peristiwa Ashhabil Ukhdud pada surat 85 ayat 4 sampai 8, : (Qutila ashhabil ukhdud = terkutuklah orang orang yang berbuat pada peristiwa parit).

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
pengikut Isa dibakar - Gambar oleh Hier und jetzt endet leider meine Reise auf Pixabay aber dari Pixabay
Gambar oleh Hier und jetzt endet leider meine Reise auf Pixabay aber dari Pixabay

Pada tahun 489 M Yaman berpindah ke tangan Yahudi di bawah kekuasaan Zu Nuas. Semua Mukmin pengikut Isa mereka paksa memasuki agama Yahudi. Tahun 510 M sisa-sisa penganut ajaran Yesus, Isa mereka bakar dalam parit yang telah dipenuhi bahan bakar.

Peristiwa tersebut disebut dalam al Qur’an dengan peristiwa Ashhabil Ukhdud pada surat 85 ayat 4 sampai 8, <Q.85/4>: (Qutila ashhabil ukhdud = terkutuklah orang orang yang berbuat pada peristiwa parit). Ayat <Q.85/7>: Yaf’aluna billmuminiin = pekerjaan itu mereka lakukan terhadap orang mukmin.

Di sisi lain, panganut agama Yahudi yang aktif pada Iskandarian Library beramai-ramai memasuki agama Christos. Pada tahun 390 M banyak orang Yahudi Alexandrian Library yang ingin memasuki Kristen, tapi dengan bersyarat. Syarat itu ialah Petrine Theory dan Nebiyim Theory.

Kaisar Nero

Pada masa kekuasaan Kaisar Nero (54-68M) sang kaisar telah membunuh banyak orang Yahudi dan pengikut Yesus di antaranya Petrus. Petrus adalah Caiaphas, batu karang tempat berdirnya gereja (agama Kristen). Petrus di Vatikan (yang sekarang), waktu itu berada di bawah gereja Vatikan. Vatikan adalah induk dari seluruh Gereja dan Bischop. Vatikan adalah bapak (pope) dari seluruh Bischop (Paus).

Rumusan Konsili Konstantinopel bahwa Episcopus Inter Episcopus (bischop di antara bischop lainnya) diubah menjadi Epis Copus Episcoporum (bischop kepala dari bischop lainnya) dengan panggilan Paus. Bahasa Petrus terakhir yakni bahasa Latin adalah bahasa kitab suci yang sah. Bahasa Grik bukanlah bahasa kitab suci yang sah. Ajaran inilah disebut Petrine Theory.

Nebiyim Theory merupakan lanjutan ajaran Yesus dari ajaran Abraham, Moses dan David. Dan kitab Kanon adalah penyempurnaan kitab LXX. Kitab LXX adalah kitab suci orang agama Christos yang sah dan harus ditulis dalam bahasa Latin.

Eusebius Heoronimus (347-420 M), seorang Yahudi Alexandrian Library yang ahli bahasa Grik dan Latin serta ahli dalam bahasa Cristos ditugaskan menerjemahkan Septuaginta ke dalam bahasa Latin. Terjemahan itu disimpan di Vatikan disebut codex Vatikannus. Eusebius Heoronimus diangkat menjadi Bischop Carthago, yang dianggap sebagai seorang suci diberi gelar Sint Jerome.

Augustinus (354-430 M) juga seorang Yahudi Alexandrian Library yang ahli bahasa Grik dan bahasa Latin juga dianggap ahli agama Christos ditugaskan menerjemahkan Kanonikal Book dari bahasa Grik ke dalam bahasa Latin. Terjemahan ini disimpan di Vatikan disebut Vulgata berasal dari kata Votus Latina yang berarti kitab suci berbahasa Latin yang sah. Augustinus diangkat menjadi Bischop Milano, Sint Augustinus (Augustinus yang suci).

Al Quran menjelaskan: mereka (orang Yahudi) itu telah mengurangi dan menambah terjemahan dari yang mereka dapat dari moyang mereka. Dijelaskan oleh Kitabullah <Q.6/91>; Taj’luna’hu Qaraathisa tubdu na’ha watukhfuunakatsiraan, wa ‘ulimtumman lam ta’lamuaa antum, yang artinya: kamu jadikan [terjemahkan] kitab ke atas qirtas dengan bercerai berai, sebagian kamu perlihatkan dan sebagian kamu sembunyikan dan sedangkan bapak-bapakmu telah mengajarkannya kepadamu.

Bischop Vatikan Celestine (422-432 M) dilantik sebagai Paus pertama. Bischop Kartago, Hipo, Bischop Milano, Bischop Alexandria dan lainnya bergabung di bawah kepausan Vatikan.

Paus Celestine sangat aktif mengembangksn Petrine Theory dan Nebiyim Theory. Di Vatikan terdapat dua kitab ketetapan atau rumusan (testamen) yaitu codex Vaticannus disebut Testamen Tua (Old Testamen) dan Vulgata disebut Testamen Baru (New Testamen). Kedua testamen itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berupa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Codex Vaticannus dan Vulgata tersebut digabung menjadi satu buku disebut Bible. Pada Konsili Calsedon, tahun 451 M, dinyatakan Bible ditetapkan sebagai kitab suci Kristen yang autentik (asli). Karena sulitnya tempat menulis (kertas) para jemaah Kristen hanya dapat mendengar kutiban ayat Bible di dalam khutbah di gereja saja.

Pada abad ke-15 Bible dicetak di atas kertas. Pada tahun 1488 M dilakukan pencetakan dengan menggabungkan codex Vaticannus dan Vulgata. Pada tahun 1517 M oleh Bomberg, bible diberi berpasal-pasal dan ayatnya diberi bernomor. Di zaman reformasi Kristen, berdiri gereja Protestan, di zaman itulah Bible pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.

Banyak Bischop yang tergabung di bawah Vatikan yang menentang Konsili Calsedon ini. Di antara mereka ialah: Bischop Yohannes Gramaticus, bischop Dioscorus, bischop Gayus, bischop Secerus dll. Mereka menyatakan, ajaran Nebiyim bertentangan dengan ajaran asli Paulus. Paulus menyatakan, semenjak Yesus disalib Perjanjian Lama tak berlaku lagi. Semenjak itu diberlakukan Perjanjian Baru. Semua ajaran ajaran Yahudi tak dapat diterima karena orang Yahudi adalah orang yang sangat memusuhi Yesus dan makar atas penyaliban Yesus. Kitab suci Yahudi mereka tolak sebagai kitab suci Christos.

Baca juga: [8] Yahudi: Great Diaspora

Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab. Orang Katholik menambahnya 10 kitab lagi, sehingga Perjanjian Lama orang Katholik berjumlah 49 kitab. Dari jumlah itu, lima di antaranya yaitu kitab Kejadian, kitab Keluaran, kitab Imamat, kitab Bilangan, Kitab Ulangan. Itu disebut kitab lima atau pentateque.

Orang Yahudi dan Kristen menyatakan kitab itu ditulis oleh Musa sendiri. Para ahli berpendapat bahwa Pentateque tidak mungkin ditulis oleh Musa karena dalam kitab itu ada riwayat kematian Musa dan ada riwayat sesudah kematian Musa.

Dalam kitab itu Musa tidak mengatakan ‘saya’ untuk dirinya. Di zaman itu Musa berada di gurun Sinai dalam perjalanan dari Mesir menuju Palestina Saat itu sulit sekali mendapatkan alat tulis dan sumber alat tulis jauh serta sulit mendatangkannya. Di mana daun lontar berasal dari Mesir atau pelapah tamar dari tanah Arab.

Kitab suci orang Yahudi ialah Old Testament (Parjanjian Lama), yang ditulis dalam bahasa Latin tersimpan di Vatikan. Sementara Talmud yang ditulis dalam bahasa Ibrani menjadi pegangan para Imam-imam (hakhom) yang tidak boleh dibaca para awam Yahudi.

Pada tahun 415 M terjadi perselisihan antara Bischop Theophilus dengan para pengikut aliran New Platonism yang menempati Alexandrian Library. Pertempuran meletus dalam Library itu, yang menyebabkan terjadinya kebakaran besar. Kitab LXX (Septuaginta) habis terbakar. Kejadian ini dikenal dengan Violens of Theophilus.

Orang orang Yahudi di perantauan menerjemahkan codex Vaticannus ke dalam bahasa yang dipakai mereka. Terdapatlah kitab suci orang Yahudi dalam berbagai bahasa, di antaranya ada yang berbahasa Ibrani.

Tahun 1858 M oleh Konstantine Tscendorf di pergunungan Sinai didapat LXX dalam bahasa Grik terjemahan abad ke-3 M. Kitab ini disenut codex Sinaitikus, sekarang disimpan di London Library. Codex Sinaitikus banyak perbedaannya dengan codex Vatikan (Old Testament). Oleh karena itu tidak dapat dianggap sebagai kitab suci orang Kristen.

Austine (w.604 M) seorang Yahudi Alexandrian Library menawarkan ajaran bahwa gerejawan/gerejawati harus hidup Clergy (kerahiban), Friars (persaudaraan), sederhana dan akrab. Gerejawan dipanggilkan Frater (saudara), gerjawati dipanggilkan Nun. Ajaran tersebut dikenal dengan Austinian Friars. Oleh Paus Gregory I (590-604 M) ajaran ini dikokohkan dengan sebuah dekrit: pembujangan bagi Pastur dan Nun dijadikan suatu keharusan.

Austine diangkat menjadi bischop Hipo Afrika Utara dan ditetapkan sebagai orang suci (Sint atau Santa).

| Penulis:
~ Asbir Dt. Rajo Mangkuto
~ Gambar oleh Hier und jetzt endet leider meine Reise auf Pixabay aber dari Pixabay 

Advertisement
Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
Next Post

[1] Islam Indonesia dan Gagasan Darul ‘Ahdi Wa Syahadah

Gagasan Prof. Dr. Din Syamsuddin tentang "Darul Ahdi wa Syahadah" sebagai suatu pemikiran politik dalam konteks ke Indonesiaan adalah sebuah langkah maju dan modern, serta kontekstual dengan kondisi Indonesia ke kinian.
Darul - Gambar oleh Shamsher Ali Khan Niazi dari Pixabay