[25] Yahudi: Ibrahim, Hebron dan Mekah

redaksi bakaba

Suatu waktu Ibrahim kedatangan tamu
Untuk makan tamunya, Ibrahim menyembelih sapi yang sangat muda. Saat bersantap, Ibrahim melihat tangan tamunya tak sampai ke makanan yang diambilnya. Ibrahim menyadari bahwa tamunya itu adalah malaikat

USIA Ibrahim dan Sarah telah tua, tapi suami istri itu masih belum mempunyai anak. Ibrahim berkata kepada Sarah: “Kita telah tua, kita masih belum mempunyai anak. Jika kita meninggal, nanti tidak ada lagi orang yang akan menyembah Allah, Tuhan yang Esa. Allah akan dilupakan.”

Sarah berkata: “Saya sudah sangat tua, tidak akan mungkin lagi akan melahirkan anak. Aku rela engkau mengawini Hajar.  Anak Hajar adalah anakku juga.”

Tidak berapa lama setelah Ibrahim mengawini Hajar,  Hajar pun hamil. Timbul rasa cemburu dalam hati Sarah dan berkata: “Hati saya menjadi tidak tenang, serasa kasih sayang engkau kepada saya akan menjadi hilang kalau kita masih diam bersama dalam satu rumah dengan Hajar.”

Ibrahim bermohon kepada Allah: “Tunjukilah saya jalan, supaya hati Sarah menjadi tenang.” Dan Tuhan berfirman: ” Bawalah isterimu Hajar ke suatu tempat yang akan saya tuntun kamu ke sana. Ke suatu lembah di mana ada rumah pertama (awwal ul bait), rumah tua (bait ul ‘atik) yang didirikan Adam guna menghadapkan muka menyembah Allah, dan rumah untuk bertawaf.”

Hajar yang hamil itu dibawa Ibrahim ke lembah Mekah, ke rumah yang suci (baitul haram). Pada umur 86 tahun, di Mekah, Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberinya nama Ismail. Tuhan berfirman: “Angkatlah satu-satunya anakmu itu, dari padanya akan lahir bangsa yang besar, akan lahir dua belas raja besar. Dari keturunannya akan lahir seorang yang dari padanya seluruh keturunanmu akan beroleh berkat.”

Mekah adalah daerah gersang tak bermata air dan tak ada seorang pun menempatinya. Berkata Ibrahim kepada Hajar: “Tinggallah engkau di dekat rumah yang suci ini, saya akan kembali ke Hebron.” Berkata Hajar: “Apakah ini telah mendapat persetujuan Allah?”

Ibrahim langsung berjalan, tidak menoleh ke belakang, sangsi dia tak akan mampu pergi meninggalkan isteri dan anaknya berdua saja di tempat yang gersang dan tak bermanusia itu.

Sepeninggal Ibrahim, persediaan air minum sudah habis, Ismail menangis meminta minum. Hajar tahu  air susunya pun hampir kering. Berkata Hajar kepada Ismail: “Tinggallah di sini sebentar, semoga Allah menunjuki kepada kita sumber air untuk dapat kita minum.”

Hajar berjalan menuju bukit Shafa, yang jauh dari tempat anaknya. Lalu dia kembali menuju arah yang lain, ke arah bukit Marwa. Makin lama perjalanannya makin cepat, sampai tujuh kali bolak-balik. Hajar sangat letih, dia kembali ke tempat anaknya terbaring. Dilihatnya di tempat hantaman kaki anaknya, tanah menjadi basah. Digalinya tempat itu, kelihatan ada butir-butir air. Dia bermohon kepada Tuhan: “hai air, berkumpullah,  berkumpullah.”

Tanah yang digali Hajar itu menjadi sebuah sumur yang dinamakannya Zam Zam. Dengan adanya air di tempat itu, akhirnya burung pun berdatangan untuk mendapatkan air minum. Adanya burung beterbangan di tempat itu, pengembala yang ada di ekitarnya dan kafilah dagang yang lewat, datang ke Mekah.

Para pengembala dan kafilah ada yang ingin menumpang bermukim di tempat itu. Hajar meyetujuinya. Akhirnya terkenal di Mekah bahwa sumur itu milik Hajar dan Ismail.

Salah seorang anggota rombongan Ibrahim bernama Luth. Dia, Luth, ikut menetap di lingkungan kaum Mu’thafiqah di kota kembar Sodom dan Gomorah. Masyarakat kaum itu mempunyai kebiasaan homoseks, pria bersetubuh dengan pria dan perempuan dengan perempuan. Bukan itu saja kesenangan mereka bahkan mereka senang, baik pria atau perempuan bersetubuh dengan hewan.

Suatu waktu Ibrahim kedatangan tamu. Untuk makan tamunya, Ibrahim menyembelih sapi yang sangat muda. Saat bersantap, Ibrahim melihat tangan tamunya tak sampai ke makanan yang diambilnya. Ibrahim menyadari bahwa tamunya itu adalah malaikat.

Berkata Ibrahim: “Kedatangan kamu ke sini, apakah suatu pertanda baik atau pertanda buruk?” Malaikat menjawab: “Suatu pertanda baik.” Malaikat melihat kepada Sarah sambil tertawa dan berkata; “Apakah mungkin orang yang setua engkau ini akan melahirkan seorang putra?” Sarah keheranan dan tertawa: “Apakah mungkin orang setua aku ini mampu melahirkan seorang putra?” Malaikat berkata: “Kalau Tuhan menghendaki, tak ada yang sulit bagiNya.”

Selanjutnya tamu itu berkata, bahwa malam ini Mu’thafiqah kaum Luth akan  dibinasakan oleh Allah.

Begitulah, akhirnya Sarah hamil, waktu itu Ibrahim  berumur 100 tahun. Sarah melahirkan seorang anak laki laki yang diberinya nama Ishak. Pada waktu itu Ismail telah berumur 14 tahun. Ketika umur Ibrahim 127 tahun, Sarah meninggal dunia. Ibrahim kawin lagi dengan perempuan Kanaan yang bernama Qatharah (Ketura). Dengan Qatharah Ibrahim beroleh 6 anak laki laki. Keenam anak Ibrahim ini diasuh oleh ibunya Qatharah yang berbahasa Kana’an.

Pada umur 175 tahun Ibrahim meninggal dunia. Ishak kawin dengan seorang Kanaan, melahirkan anak kembar yang yang tua bernama Esyaf dan yang muda Yakub. Esyaf dan Yakub di bawah asuhan ibunya yang berbahasa Kanaan.

Anak Ishak dan anak Ibrahim dengan Qatharah diasuh oleh ibu yang berbahasa Kana’an, merekapun menjadi berbahasa Kana’an. Mereka itu disebut keturunan Ibrahim atau bani Ibrani. Keturunan Ibrahim yang di Hebron ini berbahasa Kana’an. Akhirnya bahasa Kana’an itu dinamakan orang  bahasa Ibrani.

Sementara Ismail, anak Ibrahim dan Hajar akhirnya memiliki keturunan 12 orang anak laki-laki. Keturunan Ismail (bani Ismail) disebut Arab Musta’arriba atau Arab Baru, yang berkembang di Mekah.

Sementara Ibrahim terus bolak-balik antara Mekah dan Hebron.

Penulis: ~ Asbir Dt. Rajo Mangkuto

Advertisement
Next Post

Nabi Muhammad dan Politik Antroposentris (3)

Muhammad bereksperimen langsung untuk membentuk sebuah sistem yang tidak saja hanya super body, power full dan berwibawa, melainkan juga memperkuat jiwa, kesadaran dan politik akal sehat untuk menyeimbangkan antara kekuasaan dengan jiwa manusia