[2] Minangkabau: Bangsa ‘Aad Ats Tsani, Bangsa yang Awal

redaksi bakaba

Mereka berlabuh di Katiagan, memasuki sungai yang mengalir ke barat, sungai Masang dan sampai di suatu dataran tinggi lembah tiga gunung: Tri Arga. Mereka menetap. Mereka itulah nenek moyang pertama orang Minangkabau.

Bagikan
  • 55
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Image by stokpic from Pixabay
Image by stokpic from Pixabay

SUKU bangsa Arab, India, Jepang juga Minangkabau purba mempercayai moyang mereka turun dari langit, melalui gunung yang tinggi, turun bumi.

Orang Arab menyatakan moyang mereka Adam dan Hawa turun dari surga di langit. Adam melalui Thaif berpisah dengan Hawa. Kemudian bertemu dengan Hawa di puncak Jabal Rahmah.

Orang India mempercayai moyang mereka dari Nirwana, turun ke gunung Himalaya. Orang Jepang mempercayai moyang mereka berasal dari matahari, turun ke bumi melalui puncak gunung Fuji.

Orang Minangkabau mempercayai moyang mereka turun dari langit melalui puncak gunung Merapi yang mereka tuangkan dengan pepatah;

Di mano titiak palito
Di baliak telong nan batali
Di mano asa moyang kito
Di puncak gunuang marapi

Dari puncak gunung Merapi, moyang orang Minangkabau turun, kemudian berkembang biak dan menyebar ke sekeliling di dataran tinggi tiga gunung (Tri Arga) Merapi, Singgalang dan Sago. Wilayah ini disebut Minangkabau inti (Minangkabau al-biththah), wilayah di luarnya disebut Minangkabau rantau (Minangkabau az-zawahir).

Menurut Rasyid Manggis dalam bukunya Minangkabau: Sejarah Ringkas dan Adatnya, Minangkabau telah ditempati manusia semenjak 6000 SM. Dan Dt. Sanggono Dirajo dalam bukunya Adat Minangkabau, tanah asal Minangkabau sekitar gunung Merapi, Singgalang dan Sago ditempati manusia semenjak abad ke-50 SM (5000 tahun SM)

Bangsa ‘Aad
Pada lautan besar seperti lautan Hindia di daerah khatulistiwa terjadi arus laut arah ke barat. Pada daerah utara dan selatan terjadi arus laut arah ke timur. Dengan arus laut seperti itu, jika naik ke atas kayu ringan yang terapung di Yaman, maka arus laut akan membawa penumpang sampai ke Sasak atau Katiagan atau ke Tiku, di dekat khatulistiwa.

Begitulah bangsa ‘Aad pada abad ke-60 SM dengan menaiki rakit di Yaman, akhirnya mereka sampai di Katiagan.

Informasi itu tertulis di pinggir buku Undang Adat Minangkabau yang pernah penulis miliki. Buku Undang Adat tersebut menceritakan:

Negara ‘Aad didirikan oleh ‘Aad keturunan Aus bin Iraam bin Semit bin Nuh di daerah Al-Ahkaaf. Di daerah itu banyak sumur dan tanahnya subur. Di Al-Ahkaaf, ada kota bernama Iraam, sebuah kota yang megah dan indah dengan bangunan bangunan yang tinggi bertingkat.

Masyarakat Iraam telah berbudaya loyang dan tembaga. Di Negara ‘Aad ini berkembang budaya sesudah Nuh. Penduduknya telah mengenal kapal.

Kemajuan yang dicapai membuat mereka angkuh, berlaku tidak adil. Sebagian umatnya mereka muliakan dan sebagian mereka hinakan. Mereka mempersekutan Allah dengan sesuatu. Tuhan mengirimkan nabi Hud, dari kaum mereka sendiri untuk mengingatkan mereka. Hud menyampaikan kepada kaum Iraam agar nenyembah Allah, Tuhan yang Esa. Jangan mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Berbuat adillah terhadap sesama manusia. Hud mereka tolak dan mereka hinakan.

Tahun 5000 SM bangsa ‘Aad dibinasakan oleh Allah dengan ‘angin dingin yang membinasakan apa yang dilaluinya selama 7 malam dan 8 hari (Q6/6, Q69/7). Binasalah apa yang dilaluinya; manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan semuanya mati, bangunan-bangunan runtuh, batu pun pecah-pecah menjadi pasir.

Sekarang daerah itu disebut Rub al Khaali­ yang artinya yang hening bening. Tak ada yang dapat hidup, yang ada hanya pasir yang berpindah-pindah karena angin.

Nabi Hud atas petunjuk Tuhan menyelamatkan orang-orang yang beriman kepadaNya, membawa mereka ke selatan. Di sana mereka membangun negara baru. Orang-orang yang menyembah Allah, Tuhan yang Esa dan berlaku adil kepada masyarakat.

Negara baru itu mereka sebut ‘Aad Ats Tsani (‘Aad Kedua). Mereka berkembang menguasai wilayah yang luas dari Oman di Teluk Parsi, Yaman sampai ke Tihamah di Laut Merah.

Bani Jurhum yang menjadi pedagang perantara Yaman dan Syam di zaman Ibrahim adalah keturunan bangsa ‘Aad Kedua ini. Di antara penduduk ‘Aad Ats Tsani, mereka naik kapal kecil di pantai Yaman dan mengikuti arus dan angin laut, akhirnya mereka sampai di pantai tengah pulau Sumatra.

Mereka berlabuh di Katiagan, memasuki sungai yang mengalir ke barat, sungai Masang dan sampai di suatu dataran tinggi lembah tiga gunung: Tri Arga. Mereka menetap. Mereka itulah nenek moyang pertama orang Minangkabau.

Dari lembah tiga gunung, mereka bangsa Aad Ats Tsani itu menyebar ke sekeliling gunung Merapi: ke barat mencapai kaki gunung Singgalang dan ke timur mencapai kaki gunung Sago. Tempat mereka disebut lembah tiga gunung. Tri Arga: gunung Merapi, Singgalang dan Sago.

Rasyid Manggis Dt Rajo Pangulu dalam bukunya: Minangkabau, Sejarah Ringkas, dan Adatnya (Sri Dharma, 1971) menyatakan: pada lebih kurang 6000 SM Minangkabau telah ditempati oleh manusia.

Sesuai kondisi alam, bangsa ‘Aad hidup nomaden hutan, mengambil buah dan daun kayu untuk dimakan. Sebagai makanan tambahan, mereka menangkap binatang kecil seperti kelinci dan lainnya. Selain itu mereka mengambil getah kayu (terutama kampher dan lainnya menurut pesanan) dan buah belukar (terutama lada dan lainnya) untuk mereka tukar dengan bangsa asing yang datang melalui sungai.

Pola Hidup
Minangkabau daerahnya memiliki hutan yang lebat, bukit terjal, belukarnya padat. Orang yang masuk ke hutan mencari buah, berburu masuk sejauh dua jam perjalanan, mencari getah kayu atau berburu, akan sulit kembali mencari tempat dari mana dia berangkat. Keadaan itu membuat seorang suami yang pergi ke hutan, isteri yang dia tinggalkan sulit ditemukan kembali, walaupun isteri itu lagi hamil. Kadang kadang sampai berbulan bulan tidak dapat pulang, atau tidak pulang sama sekali. Di dalam menghutan sampai dan bertemu dengan perkampungan lain, beristeri lagi. Isteri yang ditinggalkan lama menganggap suaminya tidak akan kembali lagi. Si isteri dapat saja mencari suami lain. Si anak tidak akan dapat mengenal bapak kandungnya. Dengan demikian hidup mereka menjadi matrilineal.

Di hutan banyak tumbuh liar kayu yang berbuah dapat dimakan mentah (tanpa dimasak). Juga banyak kayu kampher, kemenyan, labuai. Di belukarnya banyak tumbuh lada. Kampher dan lada itu semenjak zaman purbakala banyak dibutuhkan di daerah sekitar laut Tengah.

Di hutan itu juga banyak berkeliaran binatang yang dapat dimakan seperti, kambing rusa, kijang, kelinci, kancil, kerbau, sapi, badak gajah dan juga banyak binatang ganas seperti harimau. Binatang seperti ular, kala dan binatang berbisa lain.

Kehidupan penduduk Minangkabau zaman itu bertahan hidup dengan menghutan, mencari buah/daun/getah kayu dan sebagai tambahan berburu binatang kecil.

Dari fakta sejarah itu, orang Minangkabau pertama itu keturunan bangsa ‘Aad ats Tsani (‘Aad Kedua), orang yang diselamatkan oleh nabi Hud. Bangsa ‘Aad ats Tsani ber-Ketuhanan yang Maha Esa. Bangsa ini tidak memiliki peninggalan berupa benda-benda sembahan. Orang Minangkabau kemudian mengatakan nenek moyang mereka turun dari langit melalui puncak gunung Merapi.

~Penulis:Asbir Dt. Rajo Mangkuto

~Editor: Asraferi Sabri

**Image by stokpic from Pixabay 

Bagikan
  • 55
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Pancasila, antara 'Weltanschauung' dan Ideologi

Lantas bagaimanakah dengan Pancasila? Apakah Pancasila weltanschauung atau ideologi. Mengacu kepada gagasan pendiri awal bangsa, bahwa Pancasila tidak dibentuk dengan idea-idea individu Yamin, Soepomo, Hatta, Hadikoesoemo dan maupun Soekarno
Image by Stefan Keller from Pixabay