Home > Berita > Rinuak Maninjau Terancam Punah

Rinuak Maninjau Terancam Punah

bakaba.co ~ Rinuak, ikan endemik khas danau Maninjau, Agam, terancam punah. Penyebabnya ditengarai karena tercemar beratnya air danau. Ikan jenis nila yang lepas dari keramba juga menjadi predator rinuak. Kelangkaan membuat harga rinuak melambung tinggi. Biasanya tidak lebih Rp.15 ribu per kg, sekarang harga rinuak menembus Rp.100 ribu per kg. “Saya harus memesan rinuak, langsung ke nelayan. Saya akan menunggu beberapa hari. Seringkali, seminggu ditunggu belum juga dapat,” kata Reni, 45, seorang pedagang rinuak kering di daerah Bayua, Maninjau dalam percakapan dengan wartawan TVRI, kemarin, Rabu, (13/9) yang dikutip bakaba.co.

Menurut Reni, kedainya menjual berbagai makanan dari rinuak. Di pasar Maninjau juga tidak mudah mendapatkan rinuak. “Dulu, jika saya butuh rinuak, boleh dikata berapa pun saya butuh, ada. Sekarang, susah,” kata Reni, yang sudah beberapa waktu tidak lagi bisa membuat palai rinuak khas Maninjau. Ikan Spesifik Ikan rinuak hanya terdapat di danau Maninjau.

 

Olahan makanan dari ikan Rinuak

 

Secara fisik. ikan rinuak bertubuh kecil. Ukuran rinuak dewasa tidak lebih 3 cm. Warna badan rinuak pucat kekuning-kuningan dan terlihat transparan. Tekstur dagingnya lunak dan tidak berserat. Rinuak diklasifikasikan ke dalam kelas Pisces; ordo Osphroneformes; famili Osphronemidae; genus Psilopsis dan spesies Psilopsis sp. Begitu kecilnya ukuran rinuak, seseorang ada yang bertanya ke pemilik rumah makan di Maninjau. “Jika ini induk rinuak, anaknya sebesar apa ya?” Pemilik rumah makan dengan tawa menjawab: “Ya, anaknya sebesar anak rinuak.”

Dalam sebuah tulisan Toguan Sihombing, S.Pi, PPL Perikanan Kecamatan Palembayan, Agam, ikan rinuak ditangkap nelayan sekitar danau Maninjau. Rinuak mulai ditemukan di danau Maninjau setelah dibangunnya PLTA. Sebelumnya, berdasarkan hasil penelitian PSLH Universitas Andalas, tahun 1984, hanya terdapat 9 famili ikan dengan 33 jenis ikan. Waktu itu tidak ditemukan famili Osphroneformes dan spesies Psilopsis sp. Kaya Protein Ikan rinuak, meski fisiknya kecil, tapi mengandung protein tinggi. Laboratorium Universitas Bung Hatta pernah menguji, ikan rinuak mentah memiliki kandungan protein 21,05% dan lemak 5,93 %. Rinuak kering memiliki kandungan protein 20,72% dan lemak 5,76%. Jika rinuak difermentasi memiliki kandungan protein 27,44% dan lemak 6,03%. Dari uji labor yang dilakukan peneliti Universitas Bung Hatta: Nengsih dan Erlinda, tahun 2014, tingginya kandungan nutrisi protein rinuak mereka rekomendasi adonan ikan rinuak kukus dapat dijadikan sebagai pakan larva lele pengganti cacing sutera. Ketika produksi rinuak di danau Maninjau melimpah, selain dikonsumsi manusia, rinuak juga juga dijadikan pakan tambahan ikan nila keramba dan lele. Untuk dikonsumsi manusia, rinuak diolah jadi makanan bernama: palai rinuak, rinuak goreng, dan peyek rinuak.

 

Olahan makanan bahan dari ikan Rinuak

Upaya LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian ikan rinuak sejak beberapa tahun terakhir. Rinuak ternyata hanya ada di danau Maninjau. Tidak ada danau lain di dunia ini tempat spesies rinuak hidup. Ikan dengan nama latin Psilopsis sp ini sangat rentan. Ketika rinuak ditangkap dan diangkat ke luar air, tidak berapa lama akan mati. “Rinuak juga tidak bisa dikembang-biakan di kolam, bahkan di danau lain,” JoJo Sudarso, Kepala UPT LIPI Maninjau, Agam.

 

Sekarang LIPI UPT Maninjau sedang berupaya menyiapkan kawasan penangkaran rinuak. Setelah meneliti lokasi, akhirnya dipilih di bagian danau Maninjau di Nagari Sungai Batang. Selain berupaya menjaga dan mempertahankan populasi rinuak, LIPI juga akan menjaga ikan dan biodata lain khas danau Maninjau. Kata Jojo, dulu pernah ditemukan 30 jenis ikan dan biodata spesifik Maninjau. Sekarang hanya tinggal 14 jenis. Di antaranya ikan Pare, Bada, Asang, Rinuak, Udang halus, Pensi, Mujair danau, Ikan Gariang.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain ketika meresmikan LIPI UPT Maninjau, 14 April 2016 mengatakan, danau Maninjau telah mengalami pencemaran. Akibatnya membuat mati ikan dan biodata khas danau. Penyebab utamanya adalah keramba atau jala apung yang jumlah 18 ribu lebih. “Pada hal, daya tampung danau sebenarnya hanya delapan ribu saja keramba,” kata Iskandar yang dikutip bakaba.co dari web LIPI.

> asra f. sabri