Home > Berita > Pawang Hujan dan Udara Menyengat yang tak Wajar

Pawang Hujan dan Udara Menyengat yang tak Wajar

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hak sabrahak
Karambia ampiang

Hujan basibak
Paneh manintiang

bakaba.co, Bukittinggi, ~ Udara panas yang menyengat melanda kawasan Bukittinggi dan Agam bagian timur.  Suhu panas yang tidak wajar tersebut dirasakan masyarakat beberapa minggu terakhir.

“Panas udara terasa tidak wajar. Menyengat. Nampaknya ada orang yang mengorder pawang sekarang untuk menahan hujan,” komentar A. St. Sati, wargakota Bukittinggi kepada bakaba.co, kemarin.

Sejak pertengahan Desember ada beberapa kegiatan di Bukittinggi yang tidak menginginkan hujan turun. Ada acara HUT Kota Bukittinggi ke-234 sekaligus acara Hari Ibu Nasional yang dipusatkan di Lapangan Kantin. Juga ada kegiatan pasar malam di lapangan yang sama.

Kebutuhan hari cerah, dan tidak hujan juga berkaitan dengan proyek yang diburu penyelesaiannya menjelang akhir tahun. Selain beberapa proyek sekolah, kantor lurah, ada proyek Revitalisasi Taman Jam Gadang di pusat kota sedang diburu penyelesainnya. Meski banyak pihak menilai proyek tersebut tidak bakal selesai, kontrak kerja proyek bernilai Rp16,499 miliar itu akan berakhir 29 Desember 2018.

Tanda-tanda alam bisa dilihat dan dirasakan ketika pawang hujan sedang mengusir atau menahan hujan. Salah satu tandanya berupa angin kencang yang tidak wajar. Angin kencang itu membawa uap panas yang tidak biasanya.

Dataran tinggi
Wilayah Agam bagian timur atau darek, termasuk kota Bukittinggi, terletak di daratan tinggi. Curah hujan yang tinggi membuat kawasan ini terkenal dengan udaranya yang dingin dan sejuk di banding daerah lain di Sumbar.

Dalam catatan badan meteorologi dan geofisika, Kota Bukittinggi  berada di ketinggian 941 mdpl (meter di atas permukaan laut). Suhu rata-rata 22″ C, dan malam hari antarar 16″ sampai 18″. Setiap bulan rata-rata hujan sangat tinggi. Antara bulan Januari sampai September, rata-rata hari hujan 14 sampai 18 hari. Oktober sampai Desember di atas 20 hari, Bukittinggi diguyur hujan.

Dalam amatan bakaba.co, sudah berhari-hari hujan tidak turun di Bukittinggi. Biasanya, setiap hari, jika tidak sore atau malam, pagi hari selalu hujan turun. Paling tidak gerimis. Akhir-akhir ini panas menyengat, suhu udara di Kota Bukittinggi siang hari di atas 25 bahkan bisa 27 derajat Celcius

Pawang Hujan
Aksi pawang hujan sekarang tidak lagi harus disembunyikan atau dilakukan di tempat khusus yang tidak terlihat. Lihatlah di salah satu sudut di area proyek Revitalisasi Taman Jam Gadang. Di suatu tempat –semacam bangunan darurat– seorang pria melakukan ritual khusus, membuat api unggun. Pria itu selalu menjaga agar api tidak padam. Sesekali terlihat pria itu melemparkan sesuatu ke arah unggun api. Setiap kali ramuan itu disergap api, bau harum khas menguap ke udara.

Ritual yang dilakukan pria itu membuat udara cerah, matahari membuka diri, hujan yang diharapkan tidak turun raib entah ke mana.

Amatir dan  Profesional
Pawang hujan secara umum membantu mengendalikan hujan agar tidak turun di daerah atau lokasi yang diinginkan. Cara kerja pawang hujan, ada dua macam; pertama, memindahkan hujan. Kedua, jika tidak bisa digeser, pawang akan menahan hujan. Lama hujan ditahan tergantung berapa lama diinginkan pihak yang meminta bantuan pawang hujan.

Saat bekerja, tidak selalu pawang hujan berada di lokasi atau kawasan yang hujannya ditahan. Bisa juga pawang berada di tempat yang jauh jaraknya.

Pawang hujan menurut cerita yang dihimpun bakaba.co, setidaknya ada dua kategori. Pawang hujan profesional dan pawang amatir atau tradisional.

Pawang hujan profesional, mengawali kerjanya dengan menyurvei keadaan. Dia akan menghitung penanggalan, apakah sedang musim hujan atau tidak. Selain itu, juga mempelajari dan membaca arah angin. Gunanya, ketika memindahkan hujan searah angin, bioenergi yang dikeluarkan pawang hujan tidak besar.

Penguasa gaib
Setiap pawang memiliki pendekatan berbeda dalam menjalankan kerja ke-pawang-annya. Ada pawang yang terlebih dahulu menjalin komunikasi ‘khusus’ dengan penguasa ‘gaib’ yang berada di sekitar lokasi hujan agar tak turun selama kegiatan. ‘Penguasa gaib’ itu memiliki ‘kekuatan’ mengendalikan angin, air, api dan unsur alam lainnya. Pawang hujan memerlukan ‘penguasa’ angin dan air, sehingga tugasnya menghentikan atau mengalihkan hujan bisa sukses.

Teknik lain yang dilakukan pawang hujan adalah menurunkan hujan beberapa hari sebelum hari atau waktu pesanan tidak boleh hujan. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi ketebalan awan yang mengandung air. Pada saat hari atau waktu pesanan tidak boleh hujan, kerja pawang lebih ringan. Bahkan, jika terpaksa menahan hujan, tidak terlalu berat.

Pawang dan Syar’i
Meminta jasa pawang untuk memindahkan atau menahan agar hujan tidak turun, tidak hanya dilakukan orang awam. Orang terdidik, berpangkat dan paham akan agama juga sering mengandalkan pawang hujan agar kegiatan atau acara tidak diguyur hujan.

Dari sisi agama Islam, hujan adalah perkara ghaib. Siapa yang mengklaim bisa menurunkan hujan atau menahan  hujan maka dikuatirkan jatuh kepada kesyirikan.

Ada banyak dalil dalam agama Islam menjelaskan kafirnya makhluk yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, Ustadz Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zilalil Qur’an, ayat yang sering kita baca: akan Engkau aku menyembah dan akan Engkau aku minta pertolongan (Al-Fatihah: 50). Ayat itu salah satu pondasi aqidah ummt Islam. Pada ayat menekankan, hanya Allah lah tempat meminta pertolongan.

Pada ayat lain Allah berfirman: Allah tempat bergantung (QS Al-Ikhlas: 2). Ustadz Sayyid Qutb menjelaskan ayat ini “Dialah sahaja yang ditujukan untuk memenuhi hajat-hajat dan Dialah sahaja yang menyahut seruan hamba-hamba-Nya yang mempunyai hajat. Dialah sahaja yang memutuskan segala perkara dengan keizinan-Nya dan tiada siapa yang turut membuat keputusan bersama-sama-Nya.”

Berdasarkan kedua ayat tersebut, meminta kepada pawang hujan untuk menghentikan atau memindahkan hujan, “maka jelas menyalahi ayat ini,” Ustadz Sayyid Qutb menegaskan.

Ada sementara pihak beralasan bahwa pawang hujan hanya perantara, dan juga sama-sama meminta kepada Allah. Jika doa kita dengan doa sang pawang sama dan tempat kita minta sama, yaitu Allah, lebih afdol langsung saja kita berdoa kepada Allah.

“Atau, jangan-jangan permohonan yang disampaikan sang pawang bukan kepada Allah?” Kata Ustadz Sayyid Qutb dalam sebuah tanya jawab pada rubrik Islam online.

»asraferi sabri


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •