Home > Ragam > Musik Pop Indonesia 60-70-an : Dari Orkes ke Group Band, dari Zaenal Combo sampai A. Riyanto

Musik Pop Indonesia 60-70-an : Dari Orkes ke Group Band, dari Zaenal Combo sampai A. Riyanto

Oleh Syamsuardi Sjamsuddin

 

PERJALANAN ‘sejarah’ blantika musik pop Indonesia cukup panjang, penuh liku dan mengesankan.

Mengesankan, terutama dari aspek kegigihan berkreativitas para musisi dan pencipta lagu, dalam mencipta aransemen musik dan lagu, yang tentu saja tak luput dari berbagai tantangan.

Jatuh-bangunnya para musisi dan pencipta lagu adalah hal lumrah di setiap dekade, sebelum akhirnya mencapai puncak popularitasnya.

 

Secara garis besarnya, mulai priode 60-an, boleh dikatakan sebagai masa transisi dari musik orkes (alat musik manual/belum menggunakan alat musik elektronik) ke peralatan musik elektronik, atau lazim disebut band.

Beberapa nama yang cukup populer kala itu antara lain Orkes Zaenal Combo menjadi Band Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, orkes Kumbang Tjari Pimpinan Nuskan Sjarif, orkes Gumarang, Pimpinan Asbon.

Semua mereka kebetulan berdarah Minang dan tentu saja banyak menghasilkan lagu-lagu Minang. Semarak lagu Minang memang tergolong spektakuler sejak pertengahan 50-an sampai pertengahan 60-an yang digarap oleh dua orkes besar kala itu; Gumarang dan Kumbang Tjari.

Bahkan mantan Gubernur Sumbar almarhum Hasan Basri Durin menilai hasil karya seniman musik dan lagu Minang di era itu sebagai sebuah terobosoan berani dengan hasil yang luar biasa.

Masalahnya, irama dan warna musik (genre) lagu-lagu Minang kala itu mirip musik dan lagu-lagu Latin alias irama Latin. Penyanyi yang tak asing lagi kala itu adalah Oslan Husein, Nuskan Sjarif, Nurseha dan Eli Kasim.

Bahkan lagu Kampuang Nan Jauh di Mato, Sala Lauak, Lompong Sagu, Kulik-kulik Kato Alang, dan Minangkabau, yang dinyanyikan Oslan Husein, penjualan piringan hitamnya laku keras sampai ke Negara tetangga.

Ada dua nama yang ikut memberikan andil dalam perjalanan sejarah kebangkitan orkes ( musik) dan lagu di era itu, yakni Awaloeddin Djamin, mantan Kapolri dan Yul Chaidir, mantan Kepsta RRI Bukittinggi. Lalu ada pertanyaan, mengapa musik dan lagu Minang kala itu bias mirip irama Latin? Sampai sekarang pertanyaan itu belum terjawab.

Band Pengiring

Pada medio 60-an, bermunculan sejumlah band pengiring seperti band Pantja Nada pimpinan Enteng Tanamal dengan biduanita Patty Bersaudara dan Tanty Yosepha. Tanty kemudian menjadi istri EntengTanamal.

Patty Bersaudara yang merupakan duet paduan suara yang tiada duanya yang membawa nama penyanyi wanita bersaudara ini sangat populer. Di antara lagunya yang terkenal adalah Riung Gunung, Pergi ke Bulan, Cinta Pertama, Menanti Surat Balasan dan sejumlah lagu-lagu Ambon Manise.

 

Kemudian lahir band pengiring yang cukup terkenal yakni Empat Nada pimpinan A. Riyanto, pentolan dari band Zaenal Combo. Namanya semakin meroket sampai tahun 1970, karena banyak melahirkan artis penyanyi terkenal seperti Vivi Sumanti, Tetty Kadi, duet Muchsin dan Titiek Sandhora. A. Riyanto adalah sosok musikus yang banyak berjasa dalam sejarah kebangkitan musik pop Indonesia di era 60-70-an.

Band Empat Nada spesialis menjadi band pengiring di perusahaan rekaman Remaco dalam merekam lagu-lagu artis penyanyi solo sejak 1969-1972. Empat Nada banyak mengiringi artis-artis tenar seperti Broery Marantika, Trio Bimbo, Tetty Kadi, duet Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora, dan banyak penyanyi lain era itu.

Disamping itu, Empat Nada juga sempat merilis beberapa album Instrumentalia. Saat itu A. Riyanto sudah masuk daftar komposer kreatif yang produktif. Sampai tahun 1972. A. Riyanto mengaku telah menulis 300 lagu.

Pada akhirnya ia merasa tidak sesuai lagi dengan konsep bermusik seperti ini. A. Riyanto memutuskan mendirikan band baru yang bisa menghasilkan karya sendiri untuk dibawakan dan dilempar ke pasaran. Syafii Glimboh meneruskan kepimpinan A.Riyanto dalam Empat Nada.

Pada tahun 1972, A. Riyanto mendirikan grup band bernama Favourite Group, bersama tiga temannya dari 4 Nada ditambah Mus Mulyadi yang didaulat menjadi vokalis. Band ini mengeluarkan album perdananya yang langsung diterima dengan baik oleh pasar (Favorite’s Group Vol 1 Album “Angin Malam”).

Namun tak berselang lama terjadi perubahan formasi, di mana ketiga rekannya di Band 4 Nada memutuskan kembali ke Band 4 Nada di Studio Remaco. Dengan hanya menyisakan A. Riyanto dan sang vokalis Mus Mulyadi tidak membuat A. Riyanto patah semangat.

Dia kemudian menggaet dua sepupunya Is Haryanto, dan Harry Santoso (Harry Toos), serta seorang temannya Tonny W.S. untuk melengkapi formasi baru band ini. Favorite’s Group tidak berangkat dari nol, karena masing-masing pemain sudah punya modal, kata A. Riyanto seperti yang ditulis majalah Tempo, edisi Februari 1972.

Grup ini akhirnya menjadi fenomenal dalam industri musik pop di Indonesia dengan mencapai sukses yang cukup sensional. Di dalam group ini, A. Riyanto bertindak sebagai pencipta dan pembuat aransemen pada hampir semua lagu, yang dinyanyikan Mus Mulyadi sebagai vokalis. Band ini sempat mengalami pergantian vokalis, juga beberapa kali mengalami kevakuman dan reuni kebangkitan yang cukup panjang dalam periode 1970-an hingga era 1990-an.

 

Saat terjadi kevakuman dalam band Favourite’s Group A. Riyanto menekuni pekerjaan menciptakan lagu yang diberikan kepada penyanyi-penyanyi solo. Karya-karya A.Riyanto banyak dibawakan penyanyi terkenal di dekade 70-an, mulai Broery Marantika, Tetty Kadi, Mus Mulyadi, Emillia Contessa, Titiek Sandhora, Hetty Koes Endang, Ervinna, Bimbo, Rafika Duri, Harvey Malaihollo, Andi Meriem Mattalatta, Arie Koesmiran, Anita Theresia, dan banyak lagi.

Sebagai pencipta lagu-lagu pop, ia tidak terlalu ditawan oleh materi lagu patah hati dan cinta yang putus seperti umumnya dalam Lagu Pop Indonesia. Jangkauan A. Riyanto cukup luas, mulai dari lirik untuk anak-anak, remaja, sampai orangtua, dan bervariasi antara tema alam, lingkungan, kehidupan, dan keindahan.

Selanjutnya A Riyanto di era 70-an mendirikan Favorites Group.The Steps Pimpinan May Sumarna juga muncul di akhir 60-an dengan lagu terkenal Seruling di Lembah Sunyi dan Keroncong Mutiara. Selanjutnya di era 70-an, May Sumarna mendirikan Group Band Madesya dengan lagu terkenal Nasib Burung Kenari dan Burung Dalam Sangkar. Awal tahun 1970 banyak bermunculan band pengiring seiring kemajuan peralatan musik elektronik kala itu.

 

Penyegar Ingatan

Sekadar menyegarkan memori para penggemar musik dan lagu di era 60-an, yang saat ini tentu saja sudah berusia rata-rata di atas 60-an, adalah lagu ciptaan A Riyanto; Teringat Selalu, dinyanyikan Tetty Kadi, dengan musik pengiring band Zaenal Combo, Pimpinan Zaenal Arifin.

Lagu-lagu di era 60-an itu antara lain, Sangkuriang, Pulau Seribu, Kota Kembang, Farida, Pergi ke Bulan dan Pramugari Udara. A. Riyanto adalah sepupu Tetty Kadi sendiri, dan peran A Riyanto lebih dominan dalam mengorbitkan nama penyanyi Tetty Kadi sampai ke era 70-an yang kemudian terkenal dengan lagu Mimpi Sedih, Mawar Berduri dan Angin Malam.

 

Sementara itu, era 60-an pun berlalu, eksistensi penyanyi solo dan band pengiring masih tetap eksis di awal 70-an. Namun dalam perjalanannya era biduanita alias penyanyi solo kala itu sudah memasuki masa-masa mulai “redup” dengan bermunculannya sejumlah group band, seperti Koes Plus, Panbers, The Mercys, D’Lloyd’s, Bimbo di awal 70-an itu.

Group band ini tentu saja melahirkan lagu-lagu baru yang tentu saja menjadi trend remaja kala itu, seperti Keroncong Pertemuan (Koes Plus) Titik Noda (D’Lloyd’s) Tiada Lagi (The Mercys) Pilu (Panbers) Melati dari Jayagiri (Bimbo), sehingga kehadiran lagu-lagu dari kelompok musik ini telah membawa nama mereka cepat meroket ke tingkat popularitas tertentu.***