Home > Berita > Mimpi Menjadikan Bukittinggi Kota Pintar

Mimpi Menjadikan Bukittinggi Kota Pintar

Bakaba.co «» Akhir-akhir ini banyak walikota terbudur semangatnya untuk menjadikan daerah yang dipimpinnya sebagai kota pintar atau smart city. Termasuk Kota Bukittinggi. Di berbagai kesempatan Walikota Bukittinggi mengatakan ingin mewujudkan Bukittinggi sebagai kota pintar atau smart city.

Menjadikan Kota Bukittinggi sebagai kota pintar atau smart city, bagi penganut paham pesimis bisa jadi dianggap mimpi. Menurut informasi, Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias sudah membentuk tim menjelang tutup tahun 2016 kemarin. Selain tim, bahkan anggota DPRD Bukittinggi sudah melakukan studi banding ke Jawa melihat-lihat kota yang sudah duluan dan mulai menjalankan program smart city.

Tim yang diberi nama Bukittinggi Smart Creative diketuai Monisfar, S.Sos, berkunjung ke Kota Bogor, Senin, 5 Desember 2016. Pilihan Bogor menurut berita di website Kominfo Bogor, karena tahun 2015 telah meraih penghargaan sebagai 5 Kota Terbaik dalam menerapan smart city di Indonesia.

“Tim dari Bukittinggi ingin mengetahui aplikasi apa saja yang ada di Kota Bogor dan bisa diterapkan juga di Kota Bukittinggi,” kata Kepala Seksi Aplikasi Telematika dan PDE: Achmad Sandy Bukhary, S.Kom.

Sementara Komisi I DPRD Kota Bukittinggi dipimpin M. Nur Idris, Selasa, 11 Oktober 2016 melakukan studi banding ke Kota Malang. Dalam pertemuan dengan Pemda Malang, M. Nur Idris menyampaikan, maksud dan tujuannya ke Kota Malang adalah untuk mempelajari program smart city yang sudah diterapkan. “Kami berharap setelah kegiatan ini berlangsung, program smart city dapat diterapkan juga di Kota Bukittinggi,” kata Nur Idris dikutip dari web Pemko Malang.

Kota Pintar, apa itu?

Apa sebenarnya yang dimaksud smart city? Sejauh ini, beberapa kota dunia telah menjalankan program smart city antara lain Amsterdam, Barcelona, Stockholm, Singapura dan Southampton.

Smart City adalah sebuah konsep kota cerdas atau pintar yang membantu pemerintah sebuah kota mengelola sumber daya yang ada dengan efisien, efektif dan memberikan informasi yang tepat guna kepada masyarakat atau lembaga dalam melakukan aktivitas secara real-time dengan memanfaatkan Teknologi Informasi.

Para pakar telah mengkaji dan menyusun konsep smart city. Duo pakar; Frost & Sullivan mengidentifikasi enam aspek dari smart city mencakup; Aspek Smart Governance (Pemerintah Pintar), Smart Economy (Ekonomi Pintar), Smart Mobility (Mobilitas Pintar), Smart Environment (Lingkungan Pintar), Smart Living (Kehidupan Pintar), dan Smart People (Masyarakat Pintar).

Aspek pertama; Pemerintah Pintar, ini berkaitan dengan penyelengaraan pemerintahan yang baik atau good governance. Indikatornya meliputi paradigma, sistem dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip supremasi hukum, kemanusiaan, keadilan, demokrasi, partisipasi, transparansi, profesionalitas, dan akuntabilitas atau dapat dipertanggungjawabkan.

Aspek kedua; Ekonomi Pintar, mencakup inovasi dan persaingan usaha. Artinya jika semakin banyak inovasi baru yang dikembangkan akan menambah peluang usaha baru dan meningkatkan persaingan pasar usaha/modal.

Aspek ketiga; Mobilitas Pintar, berkaitan dengan transportasi dan pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur diwujudkan melalui penguatan sistem perencanaan infrastruktur kota, pengembangan aliran sungai, peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih, pengembangan sistem transportasi, pengembangan perumahan dan permukiman, dan peningkatan konsistensi pengendalian pembangunan infrastruktur.

Aspek keempat; Lingkungan Pintar, di mana tercipta lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber daya, keindahan fisik maupun nonfisik, visual maupun tidak, bagi masyarakat dan publik. Lingkungan yang bersih dan tertata merupakan contoh dari penerapan lingkungan yang pintar.

Aspek kelima; Kehidupan Pintar, adalah terwujudnya kehidupan berbudaya, di mana penduduknya memiliki kualitas hidup yang terukur. Kualitas hidup bersifat dinamis, selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Pencapaian budaya pada manusia, secara langsung maupun tidak langsung adalah hasil dari pendidikan. Karena itu, kualitas pendidikan yang baik menjadi garansi, jaminan atas kualitas budaya, dan budaya yang berkualitas merupakan hasil dari pendidikan yang berkualitas.

Sementara aspek keenam: Masyarakat Pintar. Bahwa pembangunan niscaya membutuhkan modal, baik modal ekonomi, modal manusia maupun modal sosial. Ketiga macam modal tersebut harus didayagunakan secara maksimal. Bagi sektor usaha kecil dan menengah sebagai contoh, bagaimana pemerintah memudahan akses modal dan melakukan pelatihan sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan pengusaha kecil menengah untuk mengembangkan usaha.

Baru persiapan

Melihat cakupan dan aspek yang begitu luas dan kompleks, mewujudkan kota pintar bukan pekerjaan sederhana. Apakah mimpi menjadikan Bukittinggi Kota Pintar bisa diwujudkan? Hal itu dipahami Ketua Tim Bukittinggi Smart Creative, Monisfar. Dia mengatakan, persiapan Bukittinggi sebagai Kota Pintar baru dimulai. “Kita baru tahap persiapan infrastruktur yang akan menjadi landasan bagi semua program pendukung smart city di Bukittinggi,” kata Monisfar kepada bakaba.co

»Asra F. Sabri