Home > Opini > Gerakan Rakyat, Politik Kebangsaan dan Imperialisme Kuning

Gerakan Rakyat, Politik Kebangsaan dan Imperialisme Kuning

Oleh Dr. Emeraldy Chatra

Minoritas Kreatif

Arnold Toynbee, seorang sejarawan Inggris terkenal karena konsep creative minority-nya dalam menggambarkan kebangkitan 21 peradaban dan imperium di dunia, seperti Sumeria, Akkadian, Babylonia, Hellenis (Romawi), Minoan, Mycenaean, dll. (Herman, 1997; Toynbee, 1951). Menurut Toynbee peradaban-peradaban itu muncul karena adanya sekelompok kecil orang yang kreatif  — creative minority; yang punya gagasan, cita-cita, dan berjuang untuk mendapatkan kekuasaan, kemudian membangun peradaban.

Imperium Romawi mungkin tidak akan pernah ada jika tidak dimulai dari Romulus yang membangun kota Roma sekitar 700 tahun SM. Selanjutnya para petani yang tinggal di bagian utara Roma, yang disebut Etruscan atau Etruskani membangun kerajaan Romawi Kuno, yang kelak di tahun 509SM menjadi Republik Romawi. Demikianlah, akhirnya Romawi berkembang menjadi sebuah imperium yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia. Menurut Toynbee, peradaban Romawi dibangun oleh sekelompok petani kreatif, atau minoritas kreatif saja.

Tidak hanya Romawi yang dibangun oleh sekelompok kecil orang kreatif. Imperium Mongol dibangun oleh Jenghis Khan – awalnya benar-benar seorang diri. Namun kekerasan hati, kecerdikan dan keberanian terakumulasi dalam tindakan-tindakan strategis dan taktis yang menghasilkan sebuah kejayaan.

Dalam sejarah Indonesia kita juga menemukan pribadi yang kuat seperti Raden Wijaya yang membangun Kerajaan Majapahit. Kesultanan Banten dibangun oleh seorang ulama bernama Maulana Hasanuddin pada tahun 1500an di tengah-tengah komunitas Hindu (Kerajaan Pajajaran) yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.

Indonesia pun dimulai dari kreativitas sekelompok kecil pelajar pribumi di Negeri Belanda yang risau akan keadaan negerinya. Walaupun sebelum mereka menggagas kemerdekaan Indonesia sudah banyak terjadi pemberontakan melawan Belanda, pada dasarnya pemberontakan itu tidak bertujuan membangun sebuah negara berdaulat; hanya untuk mempertahankan hak mereka atas tanah yang diambil paksa oleh Belanda.

Sebelum tahun 1978 Iran adalah negara monarki yang dipimpin secara sewenang-wenang oleh Mohammad Reza Pehlevi atau yang lebih dikenal sebagai Syah Iran. Di bawah kepemimpinan  Reza Pehlevi negara Iran merupakan sebuah negara kuat di Timur Tengah karena program westernisasi-nya mendapat dukungan kuat dari negara-negara Barat. Ia benar-benar menjadikan Iran sebagai prototype negara modern bernuansa Barat yang liberal di Asia. Namun tahun 1978 kekuasaannya rontok oleh kekuatan revolusioner di bawah pimpinan Ayatullah Khomeini, seorang pemimpin Syiah yang bermukim di Paris. Khomeini, seperti Raden Wijaya atau Maulana Hasanuddin dari Banten merupakan pribadi-pribadi yang mampu menyatukan kekuatan individu-individu kreatif sehingga menjadi motor pergerakan politik yang sangat kuat.

Tesis Toynbee bahwa kelompok minoritas kreatif-lah yang membangun peradaban dan imperium sepertinya dapat diterima kalau kita melihat sejarah berdirinya berbagai kerajaan dan tumbuhnya berbagai peradaban di dunia. Pertanyaan kita: bagaimana mungkin sekelompok kecil orang saja dapat membangun peradaban?

Motor Pergerakan

Minoritas kreatif adalah sekelompok orang yang menginisiasi sebuah perubahan dan mengoptimalisasi daya kreatif mereka membangun kekuatan besar. Dari mereka bermula gagasan yang hendak diwujudkan, terbangunnya kekuatan sosial yang makin lama semakin besar, sehingga dapat menumbangkan kekuatan dominan yang menghimpit atau menindas mereka.

 

Saya membagi kelompok minoritas kreatif  menjadi dua: pertama, yang diinisiasi oleh satu individu, kemudian ia merekrut orang-orang yang sepaham. Individu tsb. mempunyai kemampuan besar dalam menanamkan keyakinan kepada orang-orang yang direkrutnya, sehingga memperoleh komitmen dan kesetiaan. Dilihat dari perspektif komunikasi, ia adalah seorang komunikator yang efektif, sekaligus juga pribadi yang dapat dipercaya. Dalam kelompok ini kepemimpinan bersifat individual dan berlaku pola hubungan yang hierarkis.

Kedua, kelompok yang tumbuh secara egaliter. Pada dasarnya semua anggota kelompok itu punya kemampuan relatif sama. Mereka punya kemampuan untuk saling mengikatkan diri, saling membantu, dan mengedepankan musyawarah dalam pengambilan keputusan. Tidak ada pribadi yang terlalu istimewa di antara mereka seperti pada kelompok pertama. Pemimpin mereka adalah kesepakatan yang ditaati, bukan individu.

Politik Kebangsaan

Konsep minoritas kreatif dapat kita aplikasikan dalam melihat politik kebangsaan, baik yang telah berlalu maupun yang akan muncul di masa datang. Pada masa lalu, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, tercermin dalam gerakan sekelompok pelajar pribumi Hindia Belanda di Negeri Belanda. Namun sebelum itu juga sudah ada kelompok-kelompok minoritas yang tumbuh dan mengembangkan diri untuk mencapai tujuan tertentu seperti Boedi Oetomo, Amai Setia, mahasiswa STOVIA, dll. Namun kelompok-kelompok tersebut masih menggarap isu-isu parsial yang tidak mengarah kepada pembentukan negara dan bangsa baru, sehingga kekuatannya pun terbatas.

Perbedaan antara satu kelompok minoritas kreatif dengan kelompok minoritas kreatif lain tidak hanya pada strukturnya, tapi juga pada isu-isu yang diusungnya ke tengah masyarakat. Ibarat orang berjualan, mereka yang mampu mengusung isu yang sesuai dengan kebutuhan calon pembeli akan lebih punya prospek mendapatkan simpatisan dan dukungan dari berbagai pihak. Ketika Indonesia dijajah Belanda ternyata isu kebangsaan dianggap cukup seksi dan menarik perhatian kalangan muda.

Mengulangi isu kebangsaan tentu boleh-boleh saja dalam kondisi seperti sekarang. Masalahnya, apakah isu itu masih cukup menarik? Cukup seksi? Kalau tidak lagi menarik bagi masyarakat, tentu akan sia-sia mengusung isu tersebut karena tidak akan mendapatkan dukungan.

Imperialis Kuning

Sekarang mari kita letakan isu minoritas kreatif di tengah isu imperialis kuning.

Imperialis adalah sekelompok orang yang punya kekuatan untuk menguasai orang banyak, baik karena kekuatan ekonomi, senjata, atau politik. Imperialisme adalah paham dan tindakan yang bersifat menguasai sebuah wilayah. Lenin dalam bukunya Imperialism: the Highest Stage of Capitalism menganggap bahwa imperialisme terkait erat dengan kapitalisme bahkan merupakan puncak dari kapitalisme itu sendiri (Wilkinson, 1973). Dengan demikian unsur dari imperialisme adalah persaingan yang berujung pada monopoli, penguasaan sumber-sumber ekonomi dan pasar, serta manipulasi kebijakan pemerintah dan kekuatan bersenjata.

 

Imperialisme kuning dapat ditafsirkan sebagai penguasaan ekonomi, politik dan militer oleh bangsa-bangsa timur (Cina, Jepang, Korea Selatan) atas wilayah Indonesia. Pada periode tahun 1940an Jepang menancapkan kukunya dan menguasai wilayah Indonesia dengan kekuatan senjata. Sekarang penggunaan senjata oleh bangsa Jepang memang telah tidak ada, namun dominasi ekonomi mereka – terutama di sektor otomotif – masih menyisakan kekuatan imperialisme Jepang atas rakyat Indonesia.

Cina sebagai sebuah negara tidak pernah menguasai Indonesia dengan kekuatan senjata. Namun kekuatan bangsa Cina perantauan di sektor ekonomi, baik industri maupun pasar, sudah mencirikan adanya imperialisme.

Bangsa Korea merupakan pemain ekonomi baru di Indonesia. Kekuatan mereka dalam mendominasi ekonomi belum sekuat Jepang, apalagi Cina perantauan.

Penutup

Imperialisme, apapun bentuknya, merupakan penzaliman dari sekelompok orang atas kelompok lain. Kaum imperialis tidak musti banyak dalam jumlah, tapi harus kuat dalam penguasaan ekonomi, ilmu pengetahuan, media, keuangan, politik dan persenjataan. Semakin mereka menguasai unsur-unsur tersebut semakin kuat cengkramannya kepada masyarakat.

Bagi bangsa Indonesia imperialisme tentu bukan sesuatu yang ideal karena bertabrakan dengan cita-cita kemerdekaan. Kemerdekaan hanya akan menjadi slogan kosong apabila sumber penghidupan berada di tangan pihak lain.

 

Tidak ada pilihan lain, kecuali mengakhiri imperialisme, entah yang dilakukan bangsa kuning yang mana. Jalan ke arah itu sudah ditunjukan oleh sejarah berdirinya berbagai peradaban dan imperium di berbagai belahan dunia. Artinya, kita harus mulai dari membangun kelompok minoritas kreatif yang mempunyai komitmen tinggi, yang mengusung isu aktual yang berpotensi mendapat dukungan masyarakat, dan yang bekerja keras untuk mencapai cita-cita.***

Referensi

Herman, Arthur. 1997. The Idea of Decline in Western History. NY: The Free Press

Toynbee, Arnold J. 1951. A Study Of History. Volume IV. London.-New York: Toronto Oxford University Press

Wilkinson, Paul. 1973. Neo Marxist Theory of Imperialism. Jurnal Political Studies, Vol. XXI, No. 3 (Hal 388 – 395)

 

# Penulis, Dosen FISIP Unand

#Pernah disampaikan dalam diskusi di Komunitas Selaras Alam, Lasi, Agam, 10 Juni 2017