Arsitektur Rumah Gadang Mengarifi Alam dan Budaya

redaksi bakaba

“Dilihat secara keseluruhan, arsitektur rumah gadang dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan, kelarasan, keseimbangan dan keutuhan yang padu,” Rangkayo Mulie menyimpulkan.

Bagikan
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Arsitektur Rumah Gadang courtesy wikipedia
Rumah Gadang dengan ciri khas kelarasan Koto Piliang courtesy wikipedia

bakaba.co, Bukittinggi – Salah satu aspek penting dalam adat dan budaya Minangkabau adalah estetika. Arsitektur rumah yakni Rumah Gadang — sebutan untuk rumah adat Minang — merupakan implementasi estetika Minangkabau. Arsitektur rumah adat khas Minangkabau berkelindan dengan “local wisdom”, nilai-nilai lokal; filosofi adat/kearifan, kehidupan, dan lingkungan/alam.

Pakar ilmu arsitektur dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta Padang, Dr. Eko Alvares dikutip dari AntaraNews mengatakan, “Rumah Gadang atau rumah besar, bukan hanya karena bentuk fisiknya yang besar, melainkan karena fungsi dari bangunan berkaitan dengan adat budaya Minangkabau.”

Dari sisi arsitektur kata Alvares, rumah adat Minangkabau memiliki keunikan bentuk dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau. Bahan atapnya dibuat dari bahan ijuk.

Nilai Estetika

Rumah Gadang juga disebut rumah adat, rumah gonjong atau rumah bagonjong (rumah bergonjong). Istilah terakhir terkait dengan bentuk atapnya yang bergonjong, runcing menjulang.

Kekhasan Rumah Gadang terlihat dari sisi bentuk dasar. Seorang pemerhati budaya, Zulfikri Rangkayo Mulie menulis dalam blog-nya menggambarkan: Rumah Gadang persegi empat tidak simetris, mengembang ke atas. Atapnya melengkung tajam seperti bentuk tanduk kerbau.

Sedangkan lengkung badan rumah terlihat Iandai seperti badan kapal. Bentuk badan Rumah Gadang yang segi empat membesar ke atas seperti trapesium terbalik dengan sisinya melengkung ke dalam atau rendah di bagian tengah. “Secara estetika merupakan komposisi yang dinamis,” tulis Rangkayo Mulie.

Dari sisi lain, penampang bangunan, segi empat yang membesar ke atas ditutup bentuk segi tiga yang melengkung ke arah dalam. Semuanya membentuk suatu keseimbangan estetika yang sesuai dengan ajaran hidup orang Minang.

Kesadaran Lingkungan

Dari segi fungsi, garis-garis Rumah Gadang jelas terlihat menunjukkan penyesuaian dengan alam tropis. Bagian penutup atau atap yang lancip akan menghindarkan terjadinya endapan air pada ijuk yang berlapis-lapis. Air hujan, yang deras sekali pun akan meluncur cepat pada atap. Badan bangunan rumah yang membesar ke atas, yang disebut ‘silek’, menghindarkan terpaan tampias hujan.

Di bagian bawah atau kolong Rumah Gadang yang tinggi memberikan hawa yang segar. Kondisi itu sangat bermanfaat pada musim panas.

Kesadaran atas alam juga terlihat dari posisi atau letak Rumah Gadang yang dibangun berjajaran menurut arah mata angin dari utara ke selatan. Posisi tersebut berguna untuk menghindarkan sinar dan panas matahari secara langsung, juga terpaan angin.

“Dilihat secara keseluruhan, arsitektur Rumah Gadang dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan, kelarasan, keseimbangan dan keutuhan yang padu,” Rangkayo Mulie menyimpulkan.

Rumah Gadang khas Minang, dari sudut ilmu bangunan dinilai Eko Alvares sangat futuristik. Konsep arsitektur Minangkabau dalam bangunan Rumah Gadang mengadopsi teknik bangunan tahan gempa. “Para pakar arsitektur selama ini mengenal Rumah Gadang merupakan salah satu bangunan dengan konstruksi tahan gempa,” kata Eko Alvares sebagaimana dikutip AntaraNews.

Ragam Rumah Gadang

Uniknya Rumah Gadang di Minangkabau tidak satu model. Tetapi ada beberapa model/ragam, gaya, ukuran dan nama. Perbedaan itu berkaitan dengan kelarasan dan luhak.

Rumah Gadang ciri khas kelarasan Koto Piliang courtesy wikipedia
Rumah Gadang ciri khas kelarasan Koto Piliang

Dari sisi ukuran, tergantung pada jumlah lanjar atau ruas dari depan ke belakang. Ruangan, yang berjajar dari kiri ke kanan disebut ruang. Rumah Gadang berlanjar dua dinamakan Lipek Pandan. Pada umumnya Lipek Pandan memakai dua gonjong. Rumah Gadang berlanjar tiga disebut Balah Bubuang. Dan yang memiliki atap bergonjong enam atau lebih dinamakan Gajah Maharam.

Baca juga: A. Dt. Rajo Mangkuto: Ranji Kaum jangan Sepelekan

Ragam berdasarkan kelarasan terbagi atas Rumah Gadang aliran Koto Piliang disebut Sitinjau Lauik. Cirinya, kedua ujung rumah diberi beranjung, yakni sebuah ruangan kecil yang lantainya lebih tinggi. Karena beranjung itu, ia disebut juga rumah baanjuang, rumah berpanggung. Jenis Gajah Maharam banyak terdapat di Luhak Tanahdatar.

Sementara Rumah Gadang kelarasan Bodi Caniago, bangunannya tidak beranjung atau berserambi bernama Surambi Papek. Rumah Gadang Surambi Papek banyak terdapat di Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah Koto.

Rumah Gadang dengan ciri khas kelarasan Bodi Caniago courtesy wikipedia
Rumah Gadang dengan ciri khas kelarasan Bodi Caniago

Selain Surambi Papek, di Luhak Limo Puluah Koto juga memiliki nama tersendiri yakni Rumah Gadang Rajo Babandiang. Di mana bentuknya seperti rumah Luhak Tanah Datar tetapi tidak beranjung.

Multifungsi

Rumah Gadang, dengan berbagai model dan nama, secara prinsip arsitektur telah memperhitungkan fungsi yang berkaitan dengan budaya Minangkabau.

Boleh dikatakan, Rumah Gadang di Minangkabau multi fungsi. Selain sebagai tempat kediaman keluarga, juga sebagai lambang kehadiran suatu kaum, sebagai pusat kehidupan dan kerukunan: tempat bermufakat, melaksanakan berbagai upacara adat dan juga sebagai tempat merawat anggota keluarga yang sakit.

»asra f. sabri

Bagikan
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Next Post

Bung Hatta

bakaba.co | Dr. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung Hatta ; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil […]
Foto Bung Hatta courtesy intisari